Tahapan Perkembangan Masa Bayi ditinjau dari Ilmu Psikologi

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Masalah
Seorang individu dalam rentang kehidupannya di dunia ini harus melalui berbagai macam fase atau masa seiring perkembangan usia mereka. Dalam setiap fase memiliki tugas-tugas perkembangan masing-masing, hal ini berbeda antara fase satu dengan fase yang lainnya. Masing-masing individu dituntut untuk dapat menyelesaikan setiap tugas perkembangannya sesuai dengan tahapan fase yang dilaluinya dan rentang usia yang sudah ditentukan pada tiap fase tersebut.
Seorang individu dapat dikatakan normal atau bahagia apabila ia dapat menyelesaikan tugas perkembangannya dengan tepat waktu. Apabila individu tersebut tidak dapat atau mengalami hambatan dalam menyelesaikan tugas perkembangannya, maka individu tersebut akan mengalami gangguan atau ketidakbahagiaan baik dalam aspek fisik, kognitif, emosi, sosial, maupun spiritualnya.
Dari seluruh fase yang terjadi selama rentang kehidupan, salah satu fase yang memegang pernan penting dalam perkembangan seorang individu adalah masa bayi. Masa bayi disebut sebagai salah satu fase terpenting karena selama masa ini seorang individu mulai belajar dan memahami berbagai macam hal-hal dan pengalaman baru tentang dirinya. Banyak macam tugas perkembangan yang harus diselesaikan seorang individu pada masa ini. Sekalipun demikian, masa ini bukanlah suatu masa yang berbahaya bagi perkembangan individu.
Di balik semuanya itu, ada tuntutan tersendiri yang wajib dicapai seorang individu setelah melalui fase ini, yaitu menjadi individu yang mandiri. Untuk dapat mencapainya, para orang tua terlebih dahulu harus memahami apa saja tugas-tugas perkembangan bagi si bayi dan yang harus ibu lakukan agar bayinya dapat memenuhi tugas-tugas tersebut.
Terdorong akan rasa keingintahuan serta kenyataan seperti yang tersebut di atas itulah yang membuat penulis memilih topik mengenai perkembangan masa bayi sebagai bahan kajian dalam pembuatan makalah kali ini. Selanjutnya, hasil pengkajian tersebut, penulis uraikan dalam makalah berjudul “Perkembangan Masa Bayi.”.

1.2  Rumusan Masalah
Beberapa rumusan masalah yang dibahas dalam makalah ini antara lain sebagai berikut.
1.      Apa yang dimaksud dengan masa bayi?
2.      Apa saja ciri-ciri dari masa bayi?
3.      Apa saja tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhi individu selama masa bayi?
4.      Apa saja bahaya-bahaya selama perkembangan masa bayi?

1.3  Tujuan
Beberapa tujuan dari penulisan makalah ini antara lain sebagai berikut.
1.      Untuk mengetahui mengenai masa bayi.
2.      Untuk mengetahui ciri-ciri dari masa bayi.
3.      Untuk mengetahui tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhi individu selama masa bayi.
4.      Untuk mengetahui bahaya-bahaya selama perkembangan masa bayi.
  
BAB II
LANDASAN TEORI 

2.1 Pengertian Masa Bayi
Masa bayi berlangsung selama dua tahun pertama kehidupan setelah periode bayi baru lahir selama dua minggu. Masa bayi sering dianggap sebagai keadaan tidak berdaya di mana bayi setiap hari belajar untuk semakin mandiri, sehingga di akhir masa bayi dikenal sebagai anak kecil yang baru belajar berjalan.
Masa bayi adalah masa dasar yang sesungguhnya, meskipun seluruh masa anak-anak merupakan masa dasar. Banyak ahli berkeyakinan demikian, seperti Freud yang percaya bahwa penyesuaian diri yang kurang baik pada masa dewasa bermula dari pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak yang kurang baik (Freud, 1962).

2.2 Ciri-Ciri Masa Bayi
Ciri-ciri tertentu masa bayi, meskipun sama dengan ciri-ciri periode-periode lain dalam rentang kehidupan, adalah sangat penting selama dua tahun masa bayi ini. Ciri-ciri tersebut membedakan masa bayi dari periode-periode sebelumnya dan sesudahnya. Berikut ini adalah ciri-ciri yang paling penting.

       Masa Bayi adalah Masa Dasar yang Sesungguhnya
Ada empat hal yang menyebabkan masa ini dianggap penting, yaitu:
1)   Sifat-sifat mulai terbentuk entah baik atau buruk, entah bermanfaat atau berbahaya.
2)   Masa yang mudah untuk memperbaiki kekeliruan pemahaman. 
3)   Kebiasaan yang mempengaruhi pribadi dan sosial.
4)   Tahap pembelajaran yang mudah diterima.
Meskipun seluruh masa anak-anak terutama tahun-tahun awal dianggap sebagai masa dasar, namun masa bayi adalah dasar periode kehidupan yang sesungguhnya karena pada saat ini banyak pola perilaku, sikap, dan pola ekspresi emosi terbentuk.

       Masa Bayi adalah Masa di Mana Pertumbuhan dan Perubahan Berjalan Pesat
Bayi berkembang pesat baik secara fisik atau psikologis. Pertumbuhan dan perubahan intelek akan berjalan sejajar dengan perubahan fisik dan bayi pun mampu mengungkapkan apa yang mereka inginkan. Dengan cepatnya pertumbuhan ini, perubahan tidak hanya terjadi dalam penampilan tetapi juga dalam kemampuan. Bayi lambat laun menjadi tidak segemuk seperti pada hari dilahirkan dan anggota tubuh berkembang dalam perbandingan yang lebih baik terhadap kepala yang besar. Perubahan dalam perbandingan tubuh disertai dengan pertumbuhan tinggi dan berat tubuh. Meskipun pertumbuhan pesat terjadi pada seluruh periode bayi, namun yang terpesat adalah dalam tahun pertama (Hurlock, 2003: 77).

       Masa Bayi adalah Masa Berkurangnya Ketergantungan
Berkurangnya ketergantungan pada orang lain merupakan efek dari pesatnya perkembangan pengendalian tubuh yang memungkinkan bayi beradaptasi atau bergerak bebas.

       Masa Bayi adalah Masa Meningkatnya Individualitas
Pada masa ini bayi dituntut untuk lebih mandiri dalam penampilan dan pola- pola perilaku maka bayi harus diperlakukan sebagai individu. Tidak dapat lagi semua bayi diharapkan tumbuh berdasarkan makanan yang sama atau adanya jadwal makan dan tidur yang sama. Tidak dapat diharapkan teknik-teknik latihan anak yang sama akan cocok untuk semua bayi. Sekalipun bayi belum mencapai ulang tahunnya yang pertama, kebanyakan orang tua mengetahui bahwa bayi adalah individu dan harus diperlakukan sebagai individu.

       Masa Bayi adalah Permulaan Sosialisasi
Egosentrisme, yaitu diri bayi yang muda belia, cepat berubah menjadi keinginan untuk menjadi bagian dari kelompok sosial dengan memprotes kalau dibiarkan sendiri selama beberapa waktu dan dengan mencoba memperoleh perhatian dari orang lain melalui segala macam cara yang dapat dilakukannya. Salah satu caranya adalah dengan perilaku akrab. Bayi lebih dapat mengandalkan perhatian dan kasih sayang ibu atau perhatian pengganti ibu daripada anggota-anggota keluarga lain atau orang-orang lain.

       Masa Bayi adalah Permulaan Berkembangnya Penggolongan Peran Seks
Masa ini merupakan masa dimana bayi dididik untuk dikenalkan dengan kebiasaan menurut jenis kelaminnya masing-masing.sehingga bagi bayi perempuan terlihatlah secara otomatis kelemahanya yaitu suka menangis dan tanda lainnya. Sedangkan anak laki-laki, diberi pakaian warna biru, diselimuti dengan selimut biru dan kamarnya tidak diberi hiasan jumbai-jumbai dan karet-karet seperti kamar anak perempuan. Mainan mereka juga dipilihkan sesuai dengan jenis kelamin mereka masing-masing.

       Masa Bayi adalah Masa yang Menarik
Bayi terlihat menarik mungkin dari bentuk tubuhnya dan apabila diberi selimut atau baju yang lucu akan semakin menarik. Jika sifat ketergantungan mereka semakin berkurang maka kemenarikan mereka juga berkurang.

       Masa Bayi adalah Permulaan Kreativitas
Bayi memang lemah namun ia selalu belajar mengembangkan minat dan memulai kreativitas kemudian menyesuaikan diri dalam lingkungan. 

       Masa Bayi adalah Masa Berbahaya
Bahaya bisa terjadi kapan saja terutama pada masa bayi, karena bahaya ini dapat berupa fisik dan psikologis yang berakibat sangat fatal bagi perkembangn si bayi. Di antara bahaya-bahaya fisik, yang paling parah adalah penyakit dan kecelakaan karena sering menyebabkan ketidakmampuan atau bahkan kematian. Karena pola perilaku, minat, dan sikap terbentuk selama masa bayi, maka bahaya psikologis dapat terwujud kalau diletakkan dasar-dasar yang buruk pada masa ini.


2.3 Tugas dalam Perkembangan Masa Bayi

Beberapa tugas yang harus dipenuhi selama rentang kehidupan pada masa bayi antara lain sebagai berikut.
1.   Belajar berjalan pada usia 9.0 – 15.0 bulan.
2.   Belajar memakan makan padat.
3.   Belajar berbicara.
4.   Belajar buang air kecil dan buang air besar.
5.   Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin.
6.   Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis.
7.   Membentuk konsep-konsep sederhana kenyataan sosial dan alam.
8.   Belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang tua, saudara, dan orang lain.
9.   Belajar mengadakan hubungan baik dan buruk dan pengembangan kata hati.
BAB III
PEMBAHASAN
  
3.1 Perkembangan Fisik pada Masa Bayi
Masa bayi merupakan suatu masa di mana pertumbuhan sorang individu berkembang dengan pesat. Selama tahun pertama, peningkatan berat tubuh lebih besar daripada peningkatan tinggi, namun demikian pula sebaliknya pada tahun kedua.
Gerakan-gerakan tubuh yang dimotori dengan kerja sama antara otot, otak, dan saraf kita namakan motorik. Mula-mula bayi dapat menguasai otot-otot bibir, lidah, mata, dan sebagainya, kemudian ia menguasai otot-otot leher dan bahunya.
Beberapa perkembangan fisik yang harus dilalui bayi hingga pada akhir masa bayi ialah sebagai berikut.
a.       Pada tahun pertama pertumbuhan fisik sangat cepat sedangkan tahun kedua mulai mengendur.
b.      Pola perkembangan bayi pria dan wanita sama.
c.       Tinggi badan secara proporsional lebih lambat dari pertumbuhan berat badan selama tahun pertama dan lebih cepat pada tahun kedua.
d.      Dari 20 gigi seri, kira-kira 16 telah tumbuh selama masa bayi berakhir. Gigi pertama muncul kira-kira pada usia 6-8 bulan. Gigi seri bawah muncul terlebih dahulu kemudian menyusul tumbuhnya gigi seri bagian atas. Pada umur satu tahun rata-rata bayi mempunyai 4 sampai 6 gigi dan pada umur dua tahun 16 gigi.
e.       Pertumbuhan otak tampak dengan bertambah besrnya ukuran tengkorak kepala. Diperkirakan seperempat (1/4) dari berat otak orang dewasa dicapai pada usia sembilan bulan dan tiga perempat (3/4) pada akhir tahun kedua.
f.       Organ keindraan berkembang dengan cepat selama masa bayi dan sanggup berfungsi dengan memuaskan sejak bulan-bulan pertama dari kehidupan. Dengan berkembangnya koordinasi otot-otot mata pada bulan ketiga maka bayi telah sanggup melihat dengan jelas. Alat indra lainnya yang juga berkembang ialah pendengaran dan penciuman.
g.      Fungsi-fungsi fisiologis. Masa bayi merupakan masa di mana dasar pembinaan pola-pola fisiologis seperti makan, tidur, dan buang air harus terbentuk. Walaupun pembentukan kebiasaan tidak terselesaikan pada akhir masa bayi.
h.      Perkembangan penguasaan otot-otot. Perkembangan penguasaan otot-otot mengikuti pola yang jelas dan dapat diduga yang ditentukan oleh hukum arah perkembangan. Menurut hukum ini penguasaan atau pengendalian otot-otot bergerak melalui tubuh dari arah kepala menuju kaki (Yusuf, 2004:151).
Beberapa urutan perkembangan motorik selama masa bayi mulai dari umur 1-24 bulan ialah sebagai berikut.

Usia (Dalam Bulan)
Perkembangan Motorik
1

2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
18

24
Gerakan reaksi (negatif = menangis, positif = senyum, dan spontan = menggerak-gerakkan kaki dan tangan).
Memutar ke kanan dan ke kiri.
Menarik-narik selimut dan baju.
Menegakkan kepala ke arah dua belah tangan.
Dapat menelungkup beberapa menit.
Mengamati mainan yang dipegang.
Menarik kepala ke depan.
Duduk beberapa menit.
Dapat duduk sendiri.
Merangkak.
Berdiri sendiri.
Mulai dapat berjalan.
Dapat berjalan dengan baik dan dapat menaiki kursi atau tangga.
Dapat naik dan turun tangga, dan berlari.


3.2 Perkembangan Psikologis
Masa bayi adalah masa pembentukan psikologis fundamental untuk makan, tidur, dan buang air, meskipun pembentukan kebiasaan tersebut mungkin tidak selesai pada akhir masa bayi.
a.   Pola tidur
Selama tahun pertama masa bayi, lama rata-rata tidur malam meningkat dari 8½ jam pada tiga minggu pertama hingga 10 jam pada 12 minggu pertama dan selanjutnya tetap konstan selama sisa tahun tersebut. Selama tiga bulan pertama, penurunan jumlah waktu tidur siang diimbangi oleh peningkatan jumlah waktu tidur malam.
b.   Pola makan
Sejak kelahiran hingga usia empat atau lima bulan, semua pola makan adalah dalam bentuk mengisap dan menelan. Mengunyah umumnya muncul sebulan sesudah menggigit. Ketidaksukaan makan yang mulai berkembang pada tahun kedua sering merupakan akibat dari perpanjangan pola makan ala bayi. Setelah terbiasa dengan makanan cair, cukup sulit bagi bayi untuk menyesuaikan diri dengan makanan yang agak keras.
c.   Pola buang air
      Pengendalian (kontrol) buang air besar rata-rata mulai pada usia enam bulan, sedangkan pengendalian buang air kecil mulai antara usia 15 dan 16 bulan. Dalam hal buang air besar, kebiasaan pengendalian terbentuk pada akhir masa bayi, meskipun sekali-kali dapat juga terjadi penyimpangan, khususnya ketika bayi lelah, sakit, atau secara emosional sangat senang. Sebaliknya pengendalian buang air kecil, belum sempurna pada akhir masa bayi.

3.2.1 Perilaku Emosional dalam Masa Bayi
Ada dua ciri khusus dari emosi masa bayi:
a.       Emosi bayi disertai oleh reaksi perilaku yang terlampau hebat bagi rangsangan yang menimbulkannya, terutama dalam hal marah dan takut.
b.      Emosi lebih mudah dibiasakan pada masa bayi dibandingkan pada periode-periode lain. Ini disebabkan karena terbatasnya kemampuan intelektual bayi sehingga mereka mudah dan cepat bereaksi terhadap rangsangan yang pada waktu lalu membangkitkan reaksi emosional.

3.2.2 Pola Emosional yang Umum
Pola emosional yang lazim pada masa bayi adalah sebagai berikut.
a.       Kemarahan
Perangsang yang membangkitkan kemarahan bayi adalah campur tangan terhadap gerakan-gerakan mencoba menghalangi keinginannya. Tanggapan marah mengambil bentuk menjerit, meronta-ronta, menendang kaki, mengibaskan tangan, dan memukul apa saja yang ada di dekatnya. Pada tahun kedua bayi dapat juga melonjak-lonjak, berguling-guling, meronta-ronta dan menahan nafas.
b.      Ketakutan
Perangsang yang dapat membangkitkan ketakutan bayi adalah suara keras; orang, barang, dan situasi asing; ruangan gelap; tempat tinggi. Pada usia 8 bulan sampai 1 tahun, bayi akan menangis terhadap benda, situasi, atau orang yang asing. Tanggapan rasa takut pada masa bayi terdiri dari upaya menjauhkan diri dari perangsang yang menakutkan dengan merengek, menangis, dan menahan nafas.
c.       Rasa ingin tahu
Bayi mudah mengungkapkan rasa ingin tahunya terutama melalui ekspresi wajah menegangkan otot muka, membuka mulut, dan menjulurkan lidah. Kemudian, bayi akan menangkap barang yang membangkitkan rasa ingin tahunya tersebut, memegang, membolak-balik, dan melempar.
d.      Kegembiraan
Pada usia 8 minggu bayi akan senyum atau tidur pulas jika merasa kenyang, hangat dan nyaman. Pada bulan kedua dan ketiga, bayi bereaksi pada orang yang mengajaknya bercanda, mengelitik, dan memperhatikannya. Mereka mengungkapkan rasa senang atau kegembiraannya dengan tersenyum dan menggerakkan lengan serta kakinya.
e.       Afeksi
Setiap orang yang mengajak bayi bermain, mengurus kebutuhan jasmaninya, atau memperlihatkan afeksi akan merupakan perangsang untuk afeksi mereka. Umumnya, bayi mengungkapkan afeksinya dengan memeluk, menepuk, dan mencium barang atau orang yang dicintai. Pada usia 1-3 tahun, emosi anak kemungkinan dapat dipengaruhi maka anak dapat turut menyayangi, mengasihi ataupun membenci sesuatu.

3.3 Perkembangan Bicara
Berbicara merupakan sarana berkomunikasi (Hurlock, 1980: 82). Bicara merupakan keterampilan mental-motorik. Bicara tidak hanya melibatkan koordinasi kumpulan otot mekanisme suara yang berbeda, tetapi juga mempunyai aspek mental yakni kemampuan mengaitkan arti dengan bunyi yang dihasilkan (Hurlock, 1978: 176).
Beberapa tugas yang terlibat dalam belajar berbicara, antara lain:
1.      Pengucapan
Bayi belajar mengucapkan kata-kata sebagian melalui coba-coba tetapi terutama dengan meniru ucapan orang dewasa.
2.      Membangun Kosa Kata
Mula-mula bayi belajar nama-nama orang dan benda, kemudian kata-kata kerja.
3.      Kalimat
“Kalimat” bayi yang pertama muncul antara usia dua belas dan delapan belas bulan, biasanya terdiri dari satu kata yang disertai dengan isyarat.
Beberapa bentuk komunikasi prabicara, yaitu sebagai berikut.
1.      Menangis
      Menangis adalah salah satu dari cara-cara pertama bayi berkomunikasi dengan dunia pada umumnya. Pada minggu ketiga atau keempat dapat diketahui apa maksud tangis bayi melalui nada, intensitas dan gerakan-gerakan badan yang mengiringinya. Sebelum usia tiga tahun kebanyakan bayi sudah belajar bahwa menangis adalah cara yang manjur untuk memperoleh perhatian. 
2.      Berceloteh
      Berceloteh dimulai pada bulan kedua atau ketiga, mencapai puncaknya pada delapan bulan dan kemudian berangsur-angsur berubah menjadi bicara yang benar-benar. Ocehan menghilang sama sekali pada saat masa bayi berakhir.
3.      Isyarat
      Bayi menggunakan gerakan isyarat sebagai pengganti bicara, bukan sebagai pelengkap pembicaraan seperti yang dilakukan oleh kebanyakan anak yang lebih tua, remaja dan orang dewasa. Banyak bayi menggunakan isyarat yang dikombinasikan dengan kata-kata untuk membuat kalimat.
4.      Ungkapan-ungkapan emosi
      Ungkapan emosi merupakan bentuk prabicara yang paling efektif, karena tidak ada yang lebih ekspresif daripada isyarat-isyarat wajah yang oleh bayi digunakan untuk mengatakan keadaan emosinya kepada orang lain. Alasan mengapa ungkapan emosi merupakan bentuk prabicara yang bermanfaat adalah:
a.       Karena bayi belum mempelajari pengendalian emosi, maka mudahlah bagi orang lain untuk mengetahui emosi apa yang mereka alami melalui ungkapan-ungkapan wajah dan badan.
b.      Bayi lebih mudah mengerti orang lain melalui ungkapan wajah daripada melalui kata-kata.
Beberapa isyarat umum yang digunakan pada masa bayi dapat kita lihat pada tabel berikut.
Isyarat
Artinya
Mengeluarkan makanan dari mulut
Kenyang atau tidak lapar
Mencebik (pout)
Tidak senang 
Mendorong puting susu dari mulut dengan lidah
Kenyang atau tidak lapar
Mendorong benda jauh-jauh
Tidak menginginkannya
Menjangkau benda
Ingin memilikinya
Menjangkau seseorang
Ingin ditimang/digendong
Mengecapkan bibir atau mengeluarkan lidah
Lapar
Tersenyum dan mengacungkan tangan
Ingin digendong
Bersin berlebihan
Basah dan dingin
Bergeliat dan bergetar
Dingin
Menggeliat, meronta dan menangis selama berpakaian dan mandi
Tidak suka adanya pembatasan kegiatan
Menolehkan kepala dari puting susu
Kenyang atau tidak lapar

3.4 Perkembangan Sosialisasi
Perkembangan sosial yang dini memainkan peranan yang sangat penting dalam menentuan hubungan sosial di masa depan dan pola perilaku terhadap orang lain. Karena kehidupan bayi berpusat di sekitar rumah, maka di rumahlah diletakkan dasar perilaku dan sikap sosialnya kelak. Terdapat sedikit bukti yang menyatakan bahwa sikap social atau antisocial merupaan sikap bawaan. “Pengalaman inersaksi sosial di dalam keluarga turut menentukan menentukan pula cara-cara tingkah lakunya terhadap orang lain. Apabila interaksi sosialnya di dalam keluarga tidak lancar, maka besar kemungkinannya bahwa interaksi sosialnya di dalam dengan masyarakat juga berlangsung dengan tidak lancar (Ahmadi, 2002). Apakah seseorang menjadi terikat ke luar atau ke dalam (ekstrovert atau introvert) bergantung terutama pada pengalaman-pengalaman sosial awal.
Mengapa dasar-dasar sosial yang di sini sangat penting adalah bahwa sekali terbentuk dasar-dasar itu cenderung menetap kalau anak-anak menjadi lebih besar. Anak yang pada saat bayi sering menangis, cenderung agresif dan menunjukan perilaku-perilaku yang mencari perhatian. Sebaliknya, bayi yang ramah dan lebih bahagia biasanya penyesuaian sosialnya lebih baik apabila telah menjadi besar nanti.
Beberapa reaksi bayi terhadap orang dewasa antara lain sebagai berikut,
·         Dua sampai tiga bulan
Bayi dapat membedakan manusia dari benda mati dan bayi tahu bahwa manusialah yang memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Bayi puas bila berada bersama manusia dan tidak senang bila ditinggal sendiri.
·         Empat sampai lima bulan 
Bayi ingin digendong oleh siapa saja yang mendekatinya. Ia memberikan reaksi yang berbeda kepada wajah-wajah yang tersenyum, suara-suara yang menunjukan amarah.
·         Enam sampai tujuh bulan
Bayi membedakan “teman” dan “orang-orang asing” dengan tersenyum pada yang pertama dan memperlihatkan ketakutan akan kehadiran pada orang yang terakhir. Ini merupakan awal dari “masa lalu”, juga merupakan permulaan dari “masa terikat”- yaitu masa dimana bayi menunjukan keterikatan yang kuat kepada ibu pengganti dan berkurangnya keramahtamahan.
·         Delapan sampai sembilan bulan
Bayi mencoba meniru kata-kata, isyarat, dan gerakan-gerakan sederhana dari orang lain.
·         Dua belas bulan
Bayi mulai bereaksi terhadap larangan “jangan-jangan”.
·         Enam belas sampai delapan belas bulan
Negativisme, dalam bentuk keras kepala tidak mau mengikuti permintaan atau perintah dari orang dewasa ditunjukan dengan perilaku menarik diri atau ledakan amarah.
·         Dua puluh dua sampai dua puluh empat bulan
Bayi bekerja sama dalam sejumlah kegiatan rutin seperti berpakaian, makan, dan mandi.

Beberapa reaksi sosial terhadap bayi-bayi lain antara lain sebagai berikut.
·        Empat sampai lima bulan
Bayi mulai menarik perhatian bayi atau anak lain dengan melambungkan badan ke atas dan ke bawah, menendang, tertawa, atau bermain dengan ludah.
·         Enam sampai tujuh bulan
Bayi tersenyum terhadap bayi lain dan menunjukan minat terhadap tangisannya.
·         Delapan sampai tiga belas bulan
Bayi mencoba meramasi pakaian dan rambut bayi-bayi lain, meniru perilaku dan suara mereka dan bekerja sama dalam menggunakan mainan, meskipun ia cenderung bingung bila bayi lain mengambil salah satu mainannya.
·         Tiga belas sampai delapan belas bulan 
      Berebut mainan sekarang berkurang dan bayi lebih bekerja sama dalam bermain dan mau berbagi rasa.
·         Delapan belas sampai dua puluh empat bulan
      Bayi lebih berminat bermain dengan bayi lain dan menggunakan bahan-bahan permainan untuk membentuk hubungan sosial dengannya.

3.5 Bahaya-Bahaya dalam Perkembangan Masa Bayi
Karena masa bayi merupakan dasar, maka masa itu khususnya merupakan bahaya bagi bayi. Bahaya itu merupakan bahaya fisik dan psikologis atau keduanya. Dalam tahun pertama dalam masa bayi, bahaya fisik cenderung lebih banyak dan lebih parah daripada bahaya-bahaya psikologis. Dalam tahun kedua terjadi sebaliknya. Keduanya merupakan bahaya yang serius, jadi sedapat mungkin harus dicegah dan segala sesuatu harus dilakukan untuk memperkecil intensitasnya kalau memang bahaya itu terjadi.

3.5.1 Bahaya Fisik
Beberapa bahaya fisik dalam perkembangan masa bayi antara lain sebagai berikut.
1.   Kematian
Meredith telah melaporkan bahwa kematian banyak terjadi selama tiga bulan daripada sesudahnya dan kurang lebih dari dua pertiganya terjadi dalam bulan pertama.
2.   Kematian Ranjang
Bayi yang kelihatan sehat dan normal kadang-kadang menjadi korban kematian mendadak dan tidak diduga. Sampai sekarang ilmu medis belum dapat mengetahui apa penyebab kematian yang disebut kematian ranjang. Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa hal ini terjadi pada bayi yang mengalami ketidaknormalan pada pernafasan atau mempunyai kondisi tidak normal pada waktu lahir seperti sakit kuning. Kematian ini sering terjadi pada tahun pertama masa bayi daripada tahun kedua.

3.   Penyakit
Meskipun benar bahwa banyak kematian dalam bulan-bulan pertama disebabkan karena penyakit separti gastrointestinal atau komplikasi pernafasan, tetapi jumlah kematian yang dulu disebabkan karena penyakit parah sekarang jauh lebih berkurang karena sekarang bayi diberi suntikan dan vaksinasi untuk memperkebal tubuh tehadap penyakit.
4.   Kecelakaan
Pada tahun pertama kecelakaan tidak banyak terjadi karena bayi sangat terlindungi dalam tempat tidur. Namun dalam tahun kedua pada saat bayi dapat bergerak lebih bebas dan tidak sangat dilindungi, kecelakaan lebih sering terjadi.
5.   Kurangnya gizi
Kekurangan gizi dapat disebabkan karena kurang makan atau diet yang tidak seimbang, tidak saja dapat merusak pertumbuhan fisik tetapi juga merusak perkembangan mental. Kalau pertumbuhan dan perkembangan otak terganggu anak tidak dapat mencapai potensi-potensi intelektualnya.
6.   Dasar untuk menjadi gemuk
Banyak orang tua menyamakan arti sehat dengan bayi yang montok dan mereka berusaha dengan segala macam cara agar anaknya gemuk. Berbagai telaah medis menunjukkan bahwa ada 3 periode kritis dalam perkembangan sel-sel lemak. Yang pertama 3 bulan sebelum kelahiran, yang ke 2 dalam 3 tahun pertama setelah lahir, dan yang ke 3 selama awal masa remaja.

3.5.2 Bahaya yang Umum dalam Membentuk Kebiasaan Fisiologis
Beberapa bahaya yang umum dalam membentuk kebiasaan fisiologis antara lain sebagai berikut.
1.   Kebiasaan makan
Bayi yang menetek terlampau lama menunjukkan tanda-tanda tegang. Mereka lebih lama terlibat dalam kegiatan menghisap ibu jari. Lebih banyak mengalami kesulitan tidur dan lebih gelisah daripada bayi yang menetek lebih singkat.
2.   Kebiasaan tidur
Menangis, permainan yang berat dengan orang dewasa atau kegaduhan dapat membuat anak menjadi tegang dan sulit tidur. Jadwal tidur yang tidak memenuhi persyaratan membuat bayi tegang dan menolak tidur.
3.   Kebiasaan pembuangan
Kebiasaan ini tidak dapat dibentuk sebelum saraf dan otot-otot berkembang dengan baik. Mencoba melatih pembuangan terlampau awal membuat bayi tidak mau bekerja sama dalam membentuk kebiasaan ini kalau ia sudah matang nantinya.

3.5.3 Bahaya Psikologis
Beberapa bahaya psikologis dalam masa bayi disebabkan oleh beberapa hal berikut.
1.      Bahaya dalam berbicara
Kelambatan dalam berbicara, seperti halnya kelambatan dalam pengendalian motorik menjadi serius dalam masa bayi karena pada masa ini diletakkan dasar- dasar untuk alat komunikasi. Kelambatan berbicara disebabkan karena beberapa hal, yang paling sering adalah tingkat intelegensi yang rendah, kurangnya perangsang (terutama dalam tahun pertama).
2.      Bahaya emosi
Terdapat empat bahaya psikologis umum yang sering muncul dalam hubungan  perkembangan emosi dalam masa bayi, yaitu:
·         Kurangnya kasih sayang
·         Tekanan
·         Terlampau banyak kasih sayang
·         Emosi yang kuat

3.      Bahaya sosial
Bahaya sosial yang utama adalah kurangnya kesempatan dan motivasi untuk belajar menjadi sosial. Karena kurangnya kesempatan dalam hubungan sosial dapat mempengaruhi  perkembangannya dalam pola sosialisasi. Yang juga berbahaya adalah penyakit sosial “malu”, bahwa sifat ini terbawa sejak bayi dimana mereka dihadapkan pada terlalu banyak orang asing dan pengasuh asing.
4.      Bahaya moralitas
Bahaya psikologis yang serius untuk perkembangan moral di masa depan terjadi bila bayi lebih banyak mendapatkan perhatian kalau dia melakukan sesuatu yang mengganggu atau melawan orang lain daripada kalau melakukan tindakan yang lebih diterima.
5.      Bahaya dalam perkembangan kepribadian
Konsep diri yang sedang berkembang merupakan cermin dari tanggapan bayi mengenai pandangan orang tentang dirinya.
6.      Bahaya bermain
Orang tua perlu berhati-hati dalam memberikan suatu mainan bagi si bayi. Karena ada beberapa mainan dapat menyebabkan luka pada si bayi jika ia tidak hati-hati dalam memainkannya.

BAB IV
PENUTUP
            Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan beberapa hal berikut.
1.      Masa bayi berlangsung selama dua tahun pertama kehidupan setelah periode bayi baru lahir selama dua minggu. Masa bayi sering dianggap sebagai keadaan tidak berdaya di mana bayi setiap hari belajar untuk semakin mandiri, sehingga di akhir masa bayi dikenal sebagai anak kecil yang baru belajar berjalan. Masa bayi adalah masa dasar yang sesungguhnya, meskipun seluruh masa anak-anak merupakan masa dasar.

2.   Berikut ini adalah ciri-ciri yang paling penting
·         Masa bayi adalah masa dasar yang sesungguhnya
·         Masa bayi adalah masa di mana pertumbuhan dan perubahan berjalan pesat
·         Masa bayi adalah masa berkurangnya ketergantungan
·         Masa bayi adalah masa meningkatnya individualitas
·         Masa bayi adalah permulaan sosialisasi
·         Masa bayi adalah permulaan berkembangnya penggolongan peran seks
·         Masa bayi adalah masa yang menarik
·         Masa bayi adalah permulaan kreativitas
·         Masa bayi adalah masa berbahaya

3.   Beberapa tugas yang harus dipenuhi selama rentang kehidupan pada masa bayi antara lain sebagai berikut.
a         Belajar berjalan pada usia 9.0 – 15.0 bulan.
b        Belajar memakan makan padat.
c         Belajar berbicara.
d        Belajar buang air kecil dan buang air besar.
e         Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin.
f         Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis.
g        Membentuk konsep-konsep sederhana kenyataan sosial dan alam.
h        Belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang tua, saudara, dan orang lain.
i          Belajar mengadakan hubungan baik dan buruk dan pengembangan kata hati.

4.   Bahaya-bahaya dalam masa bayi antara lain sebagai berikut.
a.   Bahaya fisik, antara lain:
·         Kematian
·         Kematian Ranjang
·         Penyakit
·         Kecelakaan
·         Kurangnya gizi
·         Dasar untuk menjadi gemuk
b.   Bahaya yang umum dalam pembentukan kebiasaan fisiologis, antara lain:
·         Kebiasaan makan
·         Kebiasaan tidur
·         Kebiasaan pembuangan
c.       Bahaya psikologis, antara lain:
·         Bahaya dalam berbicara
·         Bahaya emosi
·         Bahaya sosial
·         Bahaya moralitas
·         Bahaya dalam perkembangan kepribadian
·         Bahaya bermain
            Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, dapat diajukan saran-saran sebagai berikut.
1.      Orang tua hendaknya memperhatikan pola makan dan kebutuhan nutrisi bayinya agar si bayi dapat berkembang dengan baik dan normal.
2.      Orang tua hendaknya mengetahui dan memahami tugas-tugas perkembangan anak pada setiap fase kehidupan, sehingga dapat menerapkan dan memastikan bahwa anaknya telah dapat menyelesaikan semua tugas perkembangannya sesuai dengan rentang usia pada setiap fase tersebut.
3.      Orang tua hendaknya mengasuh anaknya sendiri dan tidak diserahkan pada pengasuh atau orang lain, terutama pada perkembangan masa bayi sampai awal masa kanak-kanak.
4.      Orang tua hendaknya senantiasa mengawasi anak pada saat bermain dan memastikan bahwa permainan anaknya tidak berbahaya, dan tidak terpengaruh oleh lingkungan yang buruk.
5.      Bagi para pembaca hendaknya lebih memahami tugas-tugas perkembangan anak, sehingga dapat menerapkan pola asuh yang tepat pada anak mereka masing-masing.

Apa Saja Teori Motivasi ditinjau dari Ilmu Psikologi

           Teori-teori tersebut telah dikelompokkan ke dalam beberapa kategori. Dalam suatu kesempatan, Murrell (dalam Zainal, 1984) telah menjabarkan dalam tiga teori, yaitu :
1)      Teori-teori kebutuhan dan dorongan, seperti yang dikemukakan oleh Maslow;
2)      Teori Gestalt yang menekankan pada persepsi, seperti yang dikemukakan oleh Patterson;
3)      Teori harapan yang menekankan pada kemampuan, seperti yang dikemukakan oleh Vroom.
Tetapi secara umum ada tiga kelompok teori motivasi yang selalu dihubungkan dengan tindakan kerja, yaitu teori-teori :
1)      Kebutuhan (needs);
2)      Harapan (Expectancy);
3)      Keadilan (equality).
Yang termasuk kelompok teori mtoivasi isi adalah teori-teori kebutuhan-kebutuhan, sedangkan teori harapan dan keadilan termasuk dalam teori motivasi proses.
A.     Teori Motivasi Isi (Content Theories of Motivation)
Menurut Mullins (1993) ada empat teori motivasi (kebutuhan) yang tergolong dalam kelompok teori-teori dalam kelompok teori-teori motivasi isi (Content theories of motivation), yaitu :
1)      Teori Hierarchy of Needs theory) oleh Abraham Maslow;
2)      Teori ERG (Existence, Relatednees, Growth-keberadaan, relasi dam pertumbuhan) oleh Clayton Alderfer.
Akhirnya, Teori Dua Factor (Two Factor Theory) oleh Herzberg dan teori Motivasi Berprestasi (Achievement Motivation) oleh David McClelland. Menurut Hicks & Gullet (1975) teori Maslow dan Alderfer serta McClelland itu sebagai gambaran motivasi internal, sedangkan teori Herzberg, teori harapan dan Keadilan merupakan teori motivasi eksternal.
1.       Teori Hierarki Kebutuhan Maslow
Seperti yang kita pahami bahwa setiap orang mempunyai kebutuhan yang berbeda. Maslow (1970) telah menyusun kebutuhan-kebutuhan manusia dalam lima tingkat yang kan dicapai menurut tingkat kepentingannya sebagai berikut :
a)      Kebutuhan fisiologi;
b)      Kebutuhan keamanan;
c)       Kebutuhan social dan kasih saying;
d)      Kebutuhan harga diri;
e)      Kebutuhan aktualisasi diri.
Teori Hierarki kebutuhan Maslow bahwa individu yang bekerja mempunyai tahap kebutuhan dasar yang akan dicapai dalam pekerjaannya. Tahap kebutuhan itu adalah fisiologis, keamanan dan kasih saying, social afiliasi, serta harga diri dan aktualisasi diri atau perwujudan diri. Ada beberapa contoh yang memberikan penjelasan terhadap kelima tingkat kebutuhan dasar tersebut.
a.       Kebutuhan Fisiologi (Pysiological Needs)
Merupakan kebutuhan tingkat pertama, yang paling rendah yang harus dipenuhi dan dipuaskan oleh karyawan sebelum dirinya mencapai kebutuhan pada tingkat yang lebih tinggi. Kebutuhan ini terdiri atas makan, minum, pernapasan, dan lain-lain kebutuhan yang bersifat seperti tidur dan seks. Setelah kebutuhan ini terpenuhi barulah muncul keinginan berikutnya, yaitu keamanan.
Contohnya, secara umum karyawan terlebih dahulu menginginkan pekerjaan yang memberikan gaji yang memadai untuk memuaskan kebutuhannya sebelum dirinya menginginkan kebutuhan akan keamanan untuk mencapai prestasi kerja.
b.      Kebutuhan Keamanan (Safety Needs)
Merupakan kebutuhan tingkat kedua yang harus dipenuhi setelah kebutuhan tingkat pertama dipenuhi dan dipuaskan. Kebutuhan-kebutuhan yang termasuk dalam kebutuhan keamanan adalah kestabilan, ketergantungan, bebas dari rasa takut dan ancaman. Termasuk juga kebutuhan dalam mengikuti peraturan secara structural, peraturan dan tata tertib, undang-undang dan batasan-batasan tertentu, dan sebagainya. Contoh, setiap karyawan selain dirinya ingin memperoleh gaji yang memuaskan dalam bekerja, maka ia juga membutuhkan pekerjaan yang dapat member keamanan dan keselamatan diri serta bebas dari ancaman agar dirinya dapat bekerja lebih berprestasi.
c.       Kebutuhan Sosial (Social and Belongingness Needs)
Merupakan kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain, pada saat ini individu akan merasa sangat kesepian dan terisolasi dari pergaulan. Individu akan membutuhkan teman dan perhatian dari seseorang. Contohnya, setiap karyawan selain menginginkan pekerjaan yang aman dan selamat, dirinya juga ingin dapat berinteraksi dengan orang lain dan mau dirinya untuk dikasihi dan diterima oleh orang lain agar tidak merasa kesepian sehingga dia dapat berprestasi dalam bekerja. Ketiga kebutuna di atas merupakan kebutuhan tingkat rendah (lower level needs). Dua kebutuhan berikutnya ialah kebutuhan peringkat tinggi (higher level needs).
d.      Kebutuhan Harga Diri (Self Esteem Needs)
Kebutuhan harga diri dapat di bagi menjadi dua kategori, yaitu :
1)      Kebutuhan terhadap kekuasaan, berprestasi, pemenuhan diri, kekuatan dan kemampuan untuk member keyakinan, dan kehidupan serta kebebasan.
2)      Kebutuhan terhadap nama baik (reputation) atau prestase, status, keberhasilan, pengakuan, perhatian dan penghargaan. Pemuasan kebutuhan  terhadap harga diri akan membawa kepada keyakinan diri, kekuatan, kemampuan dan pemenuhan diri. Contohnya, setiap karyawan umumnya mempunyai harapan untuk dapat mencapai kebebasan diri dan harga dirinya telah dipuaskan untuk mencapai prestasi kerja.
e.      Kebutuhan Aktualisasi Diri (Self Actualization Needs)
Merupakan kebutuhan tingkat kelima yang paling tinggi bagi karyawan yang juga ingin dipenuhi dan dipuaskannya. Pada peringkat ini setiap individu dalam memenuhi kebutuhan ini sangat berbeda satu sama lain. Masing-masing ingin mewujudkan diri sebagai seorang yang mempunyai kemampuan yang unik. Kebutuhan ini hanya ada setelah empat kebutuhan sebelumnya dicapai secara memuaskan. Pada dasarnya kebutuhan ini bertujuan untuk membuat seluruh potensi yang ada dalam diri seseorang sebagai sesuatu wujud nyata yaitu dalam bentuk usaha aktualisasi diri.
Sementara itu, Maslow (1970) menyatakan bahwa kebutuhan aktualisasi diri ini sebagai “this tendency might be pharased as the desire to become more and more what one idiosyncratically is become everything that one is capable of becoming.” Contohnya, Karyawan yang mempunyai jabatan setara dengan manajemen biasanya cenderung menginginkan pekerjaan yang dapat memberikan kesempatan untuk dapat mewujudkan dan meningkatkan potensi diri, kenaikan tingkat dalam mencapai prestasi setelah kebutuhan penghargaan diri sebagai kebutuhan tingkat keempat telah dipuaskan.
Kelima kelompok dalam teori Maslow ini adalah dibutuhkan oleh manusia sepanjang kehidupannya, hanya pada suatu saat kebutuhan akan lebih diutamakan dari kebutuhan lain menurut susunan masing-masing. Jadi kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah bertumpang tindih satu sama lain.
Oleh karena karyawan sebagai manusia berkenan untuk menyesuaikan usaha untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhannya berdasarkan hierarki prioritas semula, yaitu tingkat yang paling rendah hingga yang paling tinggi. Contohnya jika kerja keras walaupun dalam pekerjaannya itu harus menanggung resiko yang akan mengancam keamanan dirinya. Sehingga untuk mencapai prestasi kerja yang memuaskan dia harus menghadapi segala resiko atau ancaman yang menganggu keamanan dan keselamatan dirinya dalam bekerja.
Namun demikian, teori motivasi yang dikemukakan oleh Maslow ini seseungguhnya mempunyai kelemahan karena tidak semua kebutuhan manusia dapat dipenuhi menurut tingkat yang paling rendah ke tingkat yang paling tinggi berikutnya. Contohnya, jika seorang karyawan ingin memenuhi kebutuhan rasa aman yang menjadi prioritas bagi dirinya karena situasi kerjanya yang tidak kondusif, maka ia akan memenuhi kebutuhan rasa aman lebih dahulu daripada ia mendapat gaji yang tinggi tetapi banyak ancaman, yang membuat dirinya tidak nyaman dalam bekerja.
2.       Teori Kebutuhan ERG Alderfer
Teori E. R. G. oleh Alderfer pula (Landy & Trumbo, 1976) menyesuaikan dan melakukan modifikasi dari lima tingkat teori hierarki kebutuhan Maslow hanya pada tiga kebutuhan saja yaitu :
1)      Kebutuhan keberadaan (existence);
2)      Kebutuhan hubungan relasi (relatedness);
3)      Kebutuhan pertumbuhan (growth).
Pada dasarnya teori E. R. G ini meringkas teori kebutuhan Maslow tersebut sebagai berikut :
Kebutuhan eksistensi dalam teori E. R. G adalah meliputi kedua kebutuhan fisiologis dan keamanan di dalam teori Maslow. Selanjutnya kebutuhan relasi sama dengan social dan kasih saying. Akhirnya, kebutuhan pertumbuhan mencakup kebutuhan harga diri dan aktualisasi diri dan aktualisasi diri dalam teori Maslow.
a.       Kebutuhan Keberadaan (existence)
Kebutuhan keberadaan meliputi berbagai macam tingkat dorongan yang berkaitan dengan kebutuhan materi dan fisik. Kebutuhan-kebutuhan tersebut meliputi gaji, keuntungan, dan keselamatan secara fisik. Kategori kebutuhan tersebut mempunyai tujuan untuk memenuhi kebutuhan materi bagi diri individu itu sendiri. Jika kebutuhan materi ini tidak terpenuhi individu mempunyai kecenderungan untuk bersaing dengan individu yang lain. Persaingan itu terjadi bila sumber yang diiginkan terbatas dan dalam persaingan tersebut sering kali dpat mengecewakan individu yang lainnya. Kebutuhan tersebut akan tercapai oleh individu dengan segala macam cara jika memang diperlukan untuk dipuaskan. Contohnya, seseorang karyawan yang ingin mendapat bonus tinggi, maka ia berusaha untuk dapat mencapai keinginannya tersebut walaupun kadang-kadang terjadi persaingan yang dapat membuat rekan kerjanya tidak puas dan merasa kecewa.
b.      Kebutuhan Relasi (relatedness)
Kebutuhan relasi merupakan kebutuhan untuk mengadakan hubungan dan sosialisasi dengan orang lain. Dalam membina hubungan tersebut individu mengharapkan memperoleh pemahaman dan pengertian dari orang lain yang ada sekitarnya seperti suami, istri, anak, orang tua, tetangga, teman, sahabat, dan pacar. Jika diakitkan dengan organisasi, maka individu akan berusaha untuk dapat membina hubungan dengan orang-orang di lingkungan kerjanya seperti teman kerja (kolega), atasan dan bawahan. Kebutuhan hubungan dengan orang lain di dalam organisasi ini tidak akan terpenuhi jika belum tercipta adanya kerja sama dan saling member dukungan satu sama lain dalam usaha mencapai prestasi kerja yang diinginkan.
c.       Kebutuhan Pertumbuhan (Growth)
Kebutuhan pertumbuhan ini, mengacu pada bentuk kebutuhan yang mendorong individu untuk menjadi orang yang kreatif dan produktif serta berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi dirinya maupun lingkungan dimana dia berada. Keputusan akan pemenuhan hidup ini akan timbul jika individu dapat menyelesaikan masalah-masalah dan memuaskan keinginannya untuk dapat mengembangkan potensi diri dan tumbuh secara optimal dalam kehidupan, seperti dalam keluarga, dan di tempat kerjanya misalnya memperoleh kesempatan untuk mengembangkan karier atau meningkatkan diri dalam pengetahuan, ketrampilan dan keahliannya.
Teori E. R. G menjelaskan bahwa manusia bekerja memenuhi kebutuhan keberadaan (eksistensi), hubungan relasi dan pertumbuhan terletak berdasarkan urutan kekonkretannya. Semakin konkret kebutuhan yang rendah dicapai, maka semakin mudah seorang karyawan untuk mencapainya. Kebutuhan yang konkret menurut Alderfer adalah kebutuhan keberadaan yang paling mudah, kemudian kebutuhan hubungan relasi dengan orang lain untuk dipenuhi dalam mencapai prestasi kerja sebelum seseorang mencapai kebutuhan yang lebih kompleks dan yang paling kurang konret (abstrak), yaitu kebutuhan pertumbuhan. 
Paling tidak dua alas an yang mendasar dalam teori ini, yaitu :
1)      Makin sempurna suatu kebutuhan yang paling konkret dicapai, maka semakin besar kebutuhan yang kurang konkret (abstrak) dipenuhi.
2)      Makin kurang sempurna kebutuhan dicapai, maka semakin besar keinginan untuk mematuhi kebutuhannya agar mendapat kepuasan.
Teori Alderfer merupakan penyesuaian dari teori Maslow yang menyatakan bahwa ada tiga proses yang diumpamakan dapat terlibat dalam usaha mencapai kebutuhan-kebutuhan tersebut yaitu :
a)      Proses pemuasan-progresif (fulfillment-progression);
Pada dasarnya penjelasan tentang Fullfilment-progression sama dengan proses hierarki kebutuhan Maslow yang dikemukakan. Oleh sebab itu atas dasar perumpamaan yang mengatakan bahwa jika individu memuaskan kebutuhan yang lebih konkret, maka tenaga (energy) yang dapat disiapkan untuk memperoleh aspek-aspek kebutuhan yang kurang konkret, sifatnya lebih personal dan sulit dipastikan. Misalnya jika individu telah dipuaskan oleh kebutuhan keberadaan (existence), maka tenaga yang disiapkan kurang dapat digunakan untuk memperoleh kebutuhan-kebutuhan bersifat materi dan keamanan dan keselamatan.
b)      Kekecewaan kemunduran (Frustration-regression);
Proses ini adalah kebaikan dari proses yang pertama. Menurut proses ini individu diumpamakan sebagai orang yang cenderung untuk memenuhi kebutuhan yang lebih konkret jika dirinya tidak dapat memenuhi kebutuhan yang abstrak. Kebutuhan keberadaan (existence) akan lebih diinginkan seandainya kebutuhan relasi dengan orang lain (relatedness) tidak dapat dipuaskan. Hal ini karena lebih mudah atau lebih konkret untuk dapat memenuhi kebutuhan survival daripada harus membina hubungan dengan orang lain.
Selanjutnya individu juga akan mengulang kembali kebutuhan relasi dengan orang lain (relatedness) jika dirinya tidak mendapat kepuasan dari kebutuhan pertumbuhan (growth). Hal ini adalah lebih mudah dicapai untuk memperoleh dukungan dan bantuan daripada mengembangkan kemampuan diri sendiri. Singkatnya proses ini dapat mengakibatkan seseorang individu melakukan pengunduran diri untuk memperoleh kebutuhan pada tingkat yang lebih rendah jika kebutuhan tingkat tinggi tidak dapat dipuaskan.

c)       Kepuasan-kekuatan (satisfaction-strengthening) (Alderfer, 1969).
Ada kecenderungan bahwa individu akan mengarahkan tenaganya pada kebutuhan-kebutuhan yang telah berhasil dipasukan. Misalnya, jika kebutuhan growth dipuaskan, maka individu juga akan terus menginginkan atau mempunyai keinginan yang lebih tinggi.
Ketiga proses tersebut akan terjadi secara selaras. Karena ada kecenderungan bahwa setiap orang mempunyai kebutuhan yang berbeda-beda dan kebutuhan-kebutuhan tersebut tergantung pada sejauh mana dirinya berhasil memuaskan kebutuhan-kebutuhan tersebut.
Proses tersebut dapat ditunjukkan seperti dalam tujuh pertanyaan sebagai :
1)      Kebutuhan existence kurang terpuaskan oleh individu, maka dirinya cenderung akan mengingunkannya terus;
2)      Kebutuhan relatedness kurang terpuaskan oleh individu, maka dirinya cenderung akan menginginkan kebutuhan existence;
3)      Kebutuhan existence lebih terpuaskan oleh individu, maka dirinya cenderung akan lebih menginginkan kebutuhan relatedness;
4)      Kebutuhan relatedness kurang terpuaskan oleh inidividu, maka dirinya cenderung akan menginginkan terus;
5)      Kebutuhan growth kurang terpuaskan oleh individu, maka dirinya cenderung akan lebih menginginkan kebutuhan relatedness;
6)      Kebutuhan relatedness lebih terpuaskan oleh individu, maka dirinya cenderung akan lebih menginginkan kebutuhan growth;
7)      Kebutuhan growth lebih terpuaskan oleh individu, maka dirinya akan lebih menginginkannya terus.
Teori E. R. G merupakan teori yang sangat sesuai dengan pihak manajemen dalam rangka mempersiapkan berbagai alternative strategi untuk memberi motivasi kerja karyawan. Jika organisasi kurang mempunyai kemampuan dalam menyediakan atau peluang pertumbuhan bagi diri setiap karyawan, maka pihak manajemen masih mempunyai alternative lain dalam memberikan motivasi bagi setiap karyawannya, misalnya melalui pemberian penghargaan berupa kesempatan libur di luar negeri, pemberian bonus atau tunjangan-tunjangan kesejahteraan lain seperti fasilitas mobil, rumah ataupun cendera mata yang sesuai dengan prestasi kerja masing-masing. Hal ini didukung oleh anggapan dasar teori E. R. G yang mengatakan bahwa jika tingkat tertinggi tidak terpuaskan atau terhalang, maka tenaga (energy) dapat dialihkan pada tingkat kebutuhan yang lebih rendah (Landy, 1985).
Pada dasarnya, teori Hierarki kebutuhan Maslow dan teori E. R. G, merupakan refleksi dari beberapa kebutuhan individu untuk mencapai motivasi kerja baik yang bersifat proaktif maupun reaktif dalam mencapai prestasi kerja. Contohnya, jika seorang karyawan mempunyai kebutuhan untuk meningkatkan motivasi kerja, maka dia akan mencoba untuk memenuhi kebutuhannya yang tinggi. Namun jika kebutuhannya tidak tercapai maka dia akan mengalihkan perhatian untuk memenuhi motivasi kerjanya pada tingkat yang lebih rendah dalam kaitannya mencapai prestasi kerja yang diinginkan.
3.       Teori Kebutuhan Dua Faktor Herzberg
Selanjutnya Herzberg juga menggolongkan kebutuhan-kebutuhan dalam dua factor saja, yaitu factor motivator dan kesehatan. Oleh karena itu, teori Herzberg ini dikenal juga sebagai Teori Dua Faktor (Motivator-hygiene). Kebutuhan-kebutuhan tersebut dibagi menjadi dua yaitu :
1)      Motivator
a)      Pekerjaan itu sendiri;
b)      Prestasi;
c)       Kemungkinan pertumbuhan;
d)      Tanggung jawab;
e)      Kemajuan;
f)       Pengakuan;
g)      Status.
Dalam konteks pekerjaan factor motivatorlah yang akan member kepuasan kerja sekitarnya kebutuhan-kebutuhan dalam factor tersebut dipahami. Jika tidak dipenuhi tidaklah juga menyebabkan individu mengalami ketidakpuasan kerja, tetapi hanya pada tingkat netral saja.
2)      Hygiene
Sebaliknya kebutuhan-kebutuhan yang termasuk dalam factor kesehatan (hygiene) juga adalah :
a)      Hubungan dengan penyelia;
b)      Hubungan antar kolega;
c)       Hubungan dengan bawahan;
d)      Kualitas penyelia;
e)      Kebijakan perusahaan dan administrasi;
f)       Keamanan kerja;
g)      Kondisi-kondisi kerja;
h)      Gaji.
Jika kebutuhan-kebutuhan di dalam factor kesehatan tersebut tidak dipenuhi tidak dapat member individu mengalami kepuasan kerja tetapi hanya pada tingkat netral.
4.       Teori Kebutuhan Berprestasi McClelland
McClelland (1970, 1975) mengelompokkan motivasi berprestasi terhadap tiga dimensi, yaitu motif kekuasaan, motif afiliasi, dan motif berprestasi. Ketiga motif tersebut dalam operasionalnya tergantung pada situasi yang mendukung pada masa tertentu dalam suatu organisasi di mana manajer, supervisor, maupun karyawan berusaha memenuhi kebutuhan mereka untuk mencapai prestasi kerja.
Dalam teori ini McClelland mengemukakan 3 motif, yaitu :
1)      Motif Kekuasaan.
Bagi motif kekuasaan misalnya, supervisor secara umum terpaksa menggunakan paling tidak kekuasaannya terhadap para karyawan yang mempunyai prestasi kerja yang kurang baik.
Dalam konteks organisasi, motif kekuasaan dibagi ke dalam dua bentuk, yaitu positif dan negative. Motif kekuasaan berbentuk negative dapat tercermin dari keinginan individu untuk mempengaruhi dan menguasasi orang lain demi kepentingan pribadinya. Keadaan semacam ini dapat menyebabkan berbagai masalah dalam organisasi, khususnya masalah yang berhubungan dengan afiliasi, yaitu hubungan antara individu atau individu dengan kelompoknya. Hal tersebut dijelaskan oleh Ghiselli, Harrel dan Harrel (Schein, 1980). Sebaliknya juga motif kekuasaan berbentuk positif lebih memainkan peran penting dalam meningkatkan sebuah organisasi. McClelland (1970) mengatakan bahwa seorang manajer yang memegang tanggung jawab pengadministrasian sebuah organisasi mau tidak  terpaksa menggunakan kekuasaannya terhadap karyawan karyawan yang prestasinya kurang baik. Dalam keadaan demikian, sering kali manajer terpaksa memotivasi dan mengarahkan karyawan-karyawannya agar mereka menunjukkan prestasi kerja yang baik sehingga mencapai tujuan organisasi.
2)      Motif afiliasi 
Misalnya, sebagaian supervisor berubah untuk dapat meningkatkan kerja sama dengan bawahannya dalam mencapai kerja yang diinginkan bersama.
Menurut Boyatzis (1972) dalam motif afiliasi ditemukan dua bentuk, yaitu :
a)      Motif jaminan afiliatif (affiliative assurance) 
Boyatzis mengatakan bahwa individu yang mempunyai motif jaminan afiliatif yang tinggi selalu akan mengantisipasi perasaan dan pandangan orang-orang yang ada dibawahnya baik terhadap diri sendiri maupun tugasnya. Dia akan mencoba mendapatkan penerimaan dan persetujuan dari karyawan-karyawan yang ada dibawahnya. Oleh karena itu, manajer demikian akan meletakkan kegembiraan bawahan mereka sebagai  hal yang paling penting. Dia akan juga merasa tidak senang memberi umpan balik negative terhadap bawahan mereka masing-masing. Sikap semacam ini menimbulkan harapan bahwa manajer tidak ingin menciptakan situasi konflik di antara atasan dan bawahan.
b)      Motif minat (affiliative interest)
Maka dirinya akan mengharapkan bahwa sebagai bawahan dapat juga merasakan adanya peluang memperoleh bagian dari tercapainya tujuan organisasi. Misalnya, organisasi akan mengalami keuntungan yang cukup besar karena dukungan dari para karyawannya untuk bekerja lebih berprestasi dan produktif. Jadi organisasi juga akan memberikan bagian yang menjadi haknya seperti adanya gaji tambahan, peluang untuk memperoleh tiket ke luar negeri, dan sebagainya. Motif ini sebenarnya mempunyai tujuan untuk lebih meningkatkan hubungan interpersonal antara manajer dengan karyawan dalam konteks keseluruhan organisasi. Dengan hubungan kerja sama antara manajer dan para karyawannya akan tercipta dalam suasana yang penuh dengan kehangatan dan kondusif dalam mendukung tercapainya tujuan organisasi.


3)      Bagi motif berprestasi misalnya, pada umumnya supervisor mempunyai keinginan memperoleh kesempatan untuk dapat mencapai kenaikan tingkat atau meningkatkan karier untuk mencapai prestasi kerja.

#02 Konsep Memerangi Kejahatan Cybercrime dalam Perspektif Kriminiologi

Pengertian memerangi kejahatan sama dengan pengertian menanggulangi kejahatan. Dalam istilah kriminiologi penanggulangan kejahatan sering j...