HUBUNGAN INTERPERSONAL
Menurut Pearson (1983) manusia adalah makhluk sosial. Artinya kita tidak mungkin menjalin hubungan dengan diri sendiri, kita selalu menjalin hubungan dengan orang lain. Mencoba untuk mengenali dan memahami kebutuhan satu sama lain, membentuk interaksi, serta berusaha mempertahan-kan interaksi tersebut.
Hubungan interpersonal (antarpribadi) adalah hubungan yang terdiri atas dua orang atau lebih, yang memiliki ketergantungan satu sama lain dan menggunakan pola interaksi yang konsisten.
Ketika akan menjalin hubungan interpersonal, akan terdapat suatu proses dan biasanya dimulai dengan interpersonal attraction.
Interpersonal Attraction
Menurut Baron & Byrne (2006) interpersonal attraction adalah penilaian seseorang terhadap sikap orang lain, di mana penilaian tersebut dapat diekspresikan melalui suatu “dimensi,” dari strong liking sampai dengan strong dislike.
Jadi, ketika kita berkenalan dengan orang lain, sebenarnya kita melakukan penilaian terhadap orang tersebut. Apakah orang tersebut cukup sesuai untuk menjadi teman atau sebaliknya, hingga mungkin kita memilih untuk tidak melakukan interaksi sama sekali?
Konteks penilaian ini adalah dalam melakukan hubungan interpersonal. Dimensi dimaksud memuat lima tingkat interaksi, yaitu strong liking, mild liking, neutral, mild dislike, dan strong dislike.
Tabel Dimensi
Tingkat Interaksi
|
Kategori Evaluasi
|
Contoh Interaksi
|
Strong liking
|
Teman (Friend)
|
Menghabiskan waktu bersama, merencanakan pertemuan
|
Mild liking
|
Teman dekat (close acquaintance)
|
Menikmati interaksi ketika bertemu
|
Neutral
|
Teman biasa (superficial acquaintance)
|
Saling mengenal satu sama lain dan saling menyapa
|
Mild dislike
|
Penganggu (annoying acquaintance)
|
Memilih untuk menghindari interaksi
|
Strong Dislike
|
Tidak diinginkan (Unde-sirable)
|
Menghindari kontak secara aktif
|
Ketika kita menilai orang yang baru kita kenal dengan kategori evaluasi teman kita (friend), tentu kita akan merasa senang untuk menghabiskan waktu dengan kegiatan bersama, bahkan mungkin merencanakan untuk dapat bertemu di lain waktu. Namun sebaliknya, ketika kategori evaluasinya adalah peng-ganggu (annoying), apalagi yang kita kategorikan sebagai tidak diinginkan (undesirable), saat kita dalam pertemuan, barangkali kita lebih memilih pura-pura tidak melihat, atau menghindar.
Dalam melakukan hubungan interpersonal, ada tiga faktor yang mempengaruhi evaluasi, penilaian atau ketertarikan interper-sonal (interpersonal attraction), yakni:
· Faktor Internal
· Faktor Eksternal
· Faktor Interaksi
v Faktor Internal
Faktor internal (dari dalam diri kita) meliputi dua hal:
o Kebutuhan untuk berinteraksi (need for affiliation)
Pengaruh perasaan
o Kebutuhan untuk berinteraksi (need for affiliation)
Kadang kita ingin berinteraksi dengan orang lain, namun kadang kita memilih untuk seorang diri.
Menurut McClelland, kebutuhan berinteraksi adalah suatu keadaan di mana seseorang berusaha untuk mempertahankan suatu hubungan, bergabung dalam kelompok, berpartisipasi dalam kegiatan, menikmati aktivitas bersama keluarga atau teman, menunjukkan perilaku saling bekerja sama, saling mendukung, dan konformitas. Seseorang yang memiliki kebutuhan untuk berinteraksi, berusaha mencapai kepuasan terhadap kebutuhan ini, agar disukai, diterima oleh orang lain, serta mereka cenderung untuk memilih bekerja bersama orang yang mementingkan keharmonisan dan kekompakan kelompok.
Pengaruh Perasaan
Sebuah penemuan (dalam Baron & Byrne, 2008) menunjukkan bahwa orang asing akan lebih menyukai, jika kita mengucapkan kalimat positif, umpamanya “Kamu memiliki anjing yang bagus” dibandingkan kalimat negatif “Dimanakah kamu menemukan anjing yang buruk itu?”
Contoh ungkapan kalimat positif dan negatif tersebut, menunjuk-kan bahwa jika kita membuat orang lain senang ketika kita berjumpa dengannya, maka interaksi akan lebih mudah terjalin. Sebaliknya, ketika kita berjumpa dengan seseorang namun kita membuat perasaannya negatif (kesal atau marah), maka orang tersebut juga akan lebih sulit untuk berinteraksi dengan kita.
Contoh lain, penelitian dari Byrne (1975), dan Fraley & Aron (dalam Baron & Byrne, 2006) menunjukkan bahwa dalam ber-bagai situasi sosial, humor digunakan secara umum untuk mencairkan suasana dan memfasilitasi interaksi pertemanan.
Humor yang menghasilkan tawa dapat membuat kita lebih mudah berinteraksi, sekalipun dengan orang yang belum dikenal.
v Faktor Eksternal
Faktor eksternal yang mempengaruhi dimulainya suatu hu-bungan interpersonal adalah:
· Faktor kedekatan (proximity)
· Daya tarik fisik
o Faktor Kedekatan (proximity)
Orang Jawa bilang, “witing tresno jalaran soko nglibet eh kulino” yang maknanya (mohon dibetulkan apabila salah), “ketika kita sering bertemu dengan orang di sekitar kita, maka kita akan terbiasa melihat orang tersebut dan memungkinkan kita untuk menjadi lebih dekat, dan akhirnya saling jatuh cinta.”
Menurut Miller & Perlman (2009), kita cenderung menyukai orang yang wajahnya biasa kita kenali dibandingkan dengan orang yang wajahnya tidak kita kenal.
o Daya Tarik Fisik
Penelitian mengenai daya tarik fisik (Dion & Dion, 1991; Hatfield & Sprecher, 1986; dalam Baron & Byrne, 2008) menunjukkan bahwa sebagian besar orang percaya bahwa pria dan wanita “yang menarik” menampilkan; ketenangan, mudah bergaul, mandiri, dominan, gembira, seksi, mudah beradaptasi, sukses, lebih maskulin (untuk pria) dan lebih feminin (untuk wanita). Dalam hubungan interpersonal, orang cenderung memilih berinteraksi dengan orang yang menarik dibandingkan dengan orang yang tidak atau kurang menarik, karena orang yang menarik memiliki karakteristik lebih positif.
Pengalaman menunjukkan bahwa tidak semua orang yang memiliki daya tarik fisik memiliki kepribadian seperti yang kita perkirakan. So, don’t judge a book by its cover”.
v Faktor Interaksi
Ada dua hal yang menjadi pertimbangan, yakni:
· Persamaan-perbedaan (similarity-dissimilarity)
· Reciprocal liking
o Persamaan-perbedaan (similarity-dissimilarity)
Menyenangkan tentu saja, ketika kita mengetahui bahwa orang yang ada di hadapan kita ternyata memiliki kegemaran yang sama. Miller & Perlman (2009) mengemukakan bahwa sangat menyenangkan ketika kita menemukan orang yang mirip dengan kita dan saling berbagi asal-usul, minat, dan penga-laman yang sama. Semakin banyak persamaan, semakin mereka saling menyukai. Penelitian Gaunt (2006) membuktikan bahwa pasangan suami istri yang memiliki kepribadian yang hampir sama akan memiliki pernikahan yang lebih bahagia daripada pasangan suami istri yang memiliki kepribadian yang berbeda.
Lain halnya dengan penelitian Jones (dalam Pines, 1999), bahwa ternyata perbedaan lebih menyenangkan daripada per-samaan. Jones menjelaskan bahwa kita merasa senang saat menemukan adanya hal yang mirip dengan orang yang kita sukai, tetapi ternyata lebih menyenangkan saat kita mengetahui bahwa pandangannya berbeda dengan yang kita miliki. Mengapa demikian? Hal ini terjadi, ketika menyukai seseorang yang memiliki opini berbeda dengan kita, kita mengasumsikan bahwa orang tersebut menyukai kita apa adanya, dan bukan karena opini kita. Keuntungan yang dapat diperoleh dari ber-interaksi dengan orang yang memiliki sikap berbeda adalah kita lebih dapat belajar hal-hal yang baru dan bernilai darinya (Kruglanski & Mayseless, 1987, dalam Pines, 1999).
o Reciprocal Liking
Faktor lain yang juga mempengaruhi ketertarikan kita kepada orang lain adalah bagaimana orang tersebut menyukai kita. Secara umum, kita menyukai orang lain yang juga menyukai kita, dan tidak menyukai orang lain yang juga tidak menyukai kita. Dengan kata lain, kita memberikan kembali (reciprocate) perasaan yang diberikan orang lain kepada kita (Dwyer, 2000). Dwyer menambahkan bahwa pada dasarnya, ketika kita disukai orang lain, hal tersebut dapat meningkatkan self-esteem, mem-buat kita merasa bernilai, dan akhirnya mendapatkan positive reinforcement.
Menurut Izard (dalam Strongman, 1998), cinta dapat men-datangkan segala jenis emosi, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan.
Dalam teorinya, Sternberg (1986, 1988) mengemukakan bahwa cinta memiliki tiga dimensi, yaitu:
o Hasrat atau nafsu (passion)
o Keintiman (intimacy)
o Komitmen/keputusan (commitment/decision)
ü Hasrat atau nafsu (passion)
Dimensi ini menekankan pada intensnya perasaan, serta perasaan (keterbangkitan) yang muncul dari daya tarik fisik dan daya tarik seksual.
ü Keintiman (intimacy)
Dimensi ini menekankan pada kedekatan perasaan antara dua orang, dan kekuatan yang mengikat mereka untuk bersama. Sebuah hubungan akan mencapai keintiman emosional jika kedua pihak saling mengerti, terbuka, dan saling mendukung, serta bisa berbicara apa pun tanpa merasa takut ditolak. Mereka mampu untuk saling memaafkan dan menerima, khususnya ketika mereka tidak sependapat atau berbuat kesalahan.
ü Komitmen atau Keputusan (commitment or decision)
Terkait dengan dimensi ini, seseorang berkeputusan untuk tetap bersama dengan seorang pasangan dalam hidupnya. Komitmen dapat bermakna mencurahkan perhatian, melakukan sesuatu untuk menjaga supaya hubungan tetap langgeng, melindungi hubungan tersebut dari bahaya, serta memperbaiki bila hubungan tersebut dalam keadaan kritis.
Dimensi cinta ada 3 :
· Keintiman
· Hasrat nafsu
· Komitmen atau keputusan
Sternberg (1986, 1988) menyebutnya sebagai model segitiga cinta (triangular model of love) sebagaimana ditunjukkan pada gambar halaman berikut ini.
Formulasi itu menunjukkan bahwa masing-masing hubungan cinta terdiri dari tiga komponen dasar, yang hadir pada derajat yang berbeda, pada pasangan yang berbeda (Aron & Westbay, 1996). Dari tiga komponen dasar (hasrat atau nafsu, keintiman, serta keputusan/komitmen) tersebut, dikombinasikan, lalu dua diantaranya atau bahkan tiga diantaranya, menghasilkan tujuh jenis hubungan. Namun, sebagaimana gambar tersebut, yang ideal adalah cinta sempurna (consummate love) (yang ditengah dari segitiga) itulah yang terdiri dari ketiga komponen dasar, yang diikutsertakan secara seimbang. Namun, untuk mencapai cinta ideal ini tidaklah mudah.
Keintiman (intimacy) adalah kedekatan yang dirasakanoleh dua orang dan kekuatan ikatan kebersamaan mereka. Hasrat atau nafsu (passion) adalah didasarkan pada ketertarikan fisik dan seksualitas. Sedangkan keputusan/ komitmen (decision/commitment) mempresentasikan faktor kognitif.

Pernikahan
Menurut Duvall % Miller (1985), pernikahan adalah hubungan pria dan wanita yang diakui secara sosial, yang ditujukan untuk melegalkan hubungan seksual, melegitimasi membesarkan anak, dan membangun pembagian peran diantara sesama pasangan.
Penelitian Latifah (2005) tentang, “Fungsi dan dampak Persa-habatan Lawan Jenis terhadap Kepuasan Pernikahan Dewasa Muda dan Dewasa Madya,” menunjukkan bahwa kepuasan pernikahan didukung atau ditentukan oleh faktor-faktor adanya komunikasi dan ekspresi perasaan yang terbuka, saling percaya, tidak adanya dominasi pasangan, hubungan seksual yang memuaskan, kehidupan sosial, tempat tinggal, penghasilan yang cukup, anak, keyakinan beragama, dan hubungan dengan mertua/ipar.
PERSELINGKUHAN
Menurut Vaughan (2003), perselingkuhan adalah keterlibatan seksual dengan orang lain yang bukan merupakan pasangan primernya.
Penelitian:
Mengapa orang melakukan perselingkuhan?
Menurut Hawari (2004) terdapat banyak alasan yang dapat di-kemukakan oleh para suami, yang menjadi alasan bagi mereka untuk berselingkuh, utamanya seputar kurangnya perhatian istri. Apalagi jika istri terlalu sibuk bekerja, aktif dalam berbagai kegiatan diluar rumah, ditambah lagi dengan tugas istri dalam mengurus rumah tangga dan anak, sehingga waktu dan perhatian untuk mengurus suami menjadi berkurang. Data yang diperoleh Hawari (2002) menyebutkan bahwa perselingkuhan yang terjadi di Jakarta, 90% dilakukan oleh para suami, dan 10% dilakukan oleh istri.
Hawari (2002) juga mengemukakan bahwa suami mulai berse-lingkuh ketika usianya diperkirakan 40 tahun.
Penelitian lainnya dilakukan oleh Cinthyadevi (2007) menunjuk-kan bahwa perselingkuhan yang dilakukan oleh para suami merupakan suatu hal yang menyakitkan bagi istri.
Berikut sejumlah alasan orang melakukan perselingkuhan, yaitu:
Ø Variasi seksual
Ø Untuk kesenangan
Ø Companionship dengan wanita lain
Ø Kepuasan akan tantangan
Ø Merasa tertarik wanita yang lebih muda
Ø Memanfaatkan kesempatan yang ada
Ø Keinginan untuk melanggar sesuatu yang dilarang
Ø Kebosanan akan pernikahan
Ø Istri tidak lagi menarik secara fisik (tidak lagi memiliki daya tarik seksual)
Ø Ingin menyakiti istri
Ø Istri menjadi gemuk
Ø Istri terlalu fokus pada anak
Ø Untuk mendapatkan pengalaman romantis
Sedangkan menurut Then (1998), alasan yang sering diguna-kan untuk melakukan perselingkuhan adalah sebagai pelarian karena pernikahannya tidak bahagia ataupun untuk mendapat-kan cinta. Selain itu, perbedaan kelas sosial, agama, dan kebiasaan juga dapat dijadikan alasan untuk melakukan per-selingkuhan.
Satidarma (2001) menambahkan bahwa ketidaksiapan dalam menerima perbedaan dan keunikan masing-masing merupakan salah satu faktor seseorang melakukan perselingkuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar