Pengertian dan Penjelasan Observasi Menurut Tokoh Psikologi

OBSERVASI
1.       PENGERTIAN OBSERVASI
Observasi dari bahasa latin, yang berarti “melihat” dan “memperhatikan” (Rahayu & Ardani, 2004). Menurut Sutrisno Hadi (1990), sebagai metode ilmiah, observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistematik fenomenon-fenomenon yang diselidiki.
·         Pauline Young, mengatakan observasi sebagai, “suatu studi yang dilakukan dengan sengaja dan secara sistematis melalui proses pengamatan atas gejala-gejala spontan yang terjadi pada saat itu.”
·         Jahoda dkk., mendefinisikan lebih luas, namun sekaligus lebih kabur, menurutnya observasi yang paling dasar untuk mendapatkan informasi mengenai gejala-gejala sosial melalui proses penglihatan.”
Selanjutnya Jahoda dkk., mengemukakan pendapat bahwa observasi menjadi alat penelitian ilmiah, jika :
a.       Mengabdi kepada tujuan-tujuan penelitian yang telah dirumuskan.
b.      Direncanakan secara sistematik, bukan terjadi secara tidak teratur.
c.       Dicatat dan dihubungkan secara sistematik dengan proposisi-proposisi yang lebih umum, tiadk hanya dilakukan untuk memenuhi rasa ingin tahu semata-mata.
d.      Dapat dicek dan dikontrol validitas, reliabilitas, dan ketelitiannya sebagaimana data ilmiah lainnya.
Jadi menurut Jahoda dkk., suatu tindakan observasi dapat dikategorikan sebagai metode ilmiah harus memenuhi syarat-syarat di atas.
·         Chaplin, J. P. (Kamus Psikologi, 2002), menyatakan observasi berarti, “pengujian dengan maksud atau tujuan tertentu mengenai sesuatu, khususnya dengan tujuan mengumpulkan fakta.”
·         Gorman & Clayton (2005) mendefinisikan studi observasi sebagai orang yang merekam secara sistematis fenomena yang dapat diamati atau tingkah laku dalam setting alami.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa observasi adalah “pengamatan yang akurat dan pencatatan terhadap gejala seperti apa adanya, berkaitan dengan sebab-sebab atau hubungan “mutual in nature.”

2.       ALASAN MENGGUNAKAN OBSERVASI
1)      Mendiskripsikan “nature” (taksonomi flora & fauna, klasifikasi jenis buatan, dan lain-lain).
2)      Generalisasi dan menguji hipotesis.
Misalnya tentang hubungan kebiasaan hidup tertentu dengan kecenderungan mendapat penyakit, hubungan merokok dengan kanker paru-paru, dan sebagainya.
3)      Assesmen perilaku.
Misalnya mengamati perubahan perilaku yang terjadi setelah mendapat treatment.
4)      Metode lain tidak dapat diterapkan.
Misalnya, reaksi kehilangan anggota keluarga, bencana alam, pemahaman anak terhadap perasaan cemasnya.

3.       KECERMATAN OBSERVASI :
Seberapa tinggi “kadar ilmiah” yang dikandung oleh suatu observasi sangat tergantung pada banyak faktor yang mempengaruhi kecermatan observer, diantaranya :
1)      Prasangka-prasangka dan keinginan-keinginan dari observer.
2)      Terbatasnya pancaindera, kemampuan pengamatan dan ingatan manusia.
3)      Terbatasnya wilayah pandang, yaitu kenyataan bahwa beberapa kejadian lebih sering timbul dalam “perhatian observer” dibandingkan dengan keajadian lainnya.
4)      Kemampuan manusia untuk menangkap hubungan sebab-akibat  atau kejadian-kejadian yang berturut-turut tergantung sekali pada keadaan mental, indera, dan faktor-faktor akstrane (yang tak ada hubungannya) pada suatu waktu.
5)      Ketangkasan observer dalam menggunakan alat-alat pencatatan.
6)      Kadar penelitian pencatatan hasil-hasil observasi.
7)      Ketepatan alat yang digunakan dalam observasi.
8)      Pengertian observer tentang gejala-gejala yang diobservasi.

4.       KELEBIHAN OBSERVASI
1)      Dapat meneliti beberapa gejala sosial, terutama pada waktu terjadinya.
·         Banyak aspek perilaku manusia tidak dapat diungkap melalui metode lain (hanya dapat diselidiki melalui observasi).
2)      Tidak menuntut subjek dalam kondisi tertentu.
·         Mungkin karena kita tahu subjek tidak ada waktu untuk mengerjakan tes, maka kita dapat melakukan observasi.
3)      Tidak tergantung kemauan objek yang diobservasi untuk melaporkan atau menceritakan pengalamannya. Dengan kata lain, observasi tidak perlu meminta kesediaan orang yang diobservasi dan tidak merubah hasil observasi.
4)      Memungkinkan pencatatan dilakukan secara bersamaan dengan terjadinya suatu peristiwa.
·         Beda dengan tes tulis, yang sebagian menyatakan suatu kejadian umum yang sedang tidak dialami.
5)      Tidak tergantung pada Self-Report.
·         Sebagaimana diketahui bahwa self-report memungkinkan subjek melakukan faking good  atau faking bad.
6)      Studi sosial atau psikologis yang tidak memungkinkan menggunakan metode lain.
7)      Banyak kejadian yang tidak dapat diperoleh bila tidak dapat dialkukan metode observasi.
·         Misalnya, kejadian sehari-hari dianggap tidak penting untuk dikemukakan, sementara dengan pengamatan terhadap perileku sehari-hari, data yang diperoleh akan lebih akurat. Karena ada hal-hal yang sangat penting kadang dianggap remeh oleh subjek jika dikemukakan dalam interview atau kuesioner.

5.       KELEMAHAN OBSERVASI :
1)      Sangat bergantung kepada individu yang melakukan observasi (tanpa pengarahan yang rinci akan diperoleh hasil yang sangat subjektif, tersisip factor antecedent lainnya).
2)      Banyak pula peristiwa yang tidak dapat dilakukan dengan observasi langsung.
·         Misalnya; perilaku-perilaku yang “bersifat pribadi”; perilaku tidur, hubungan suami istri, dan sebagainya.
3)      Ada kemungkinan, jika subjek mengetahui dirinya sedang diobservasi, ia akan berperilaku “dibuat-buat” sehingga tidak lagi natural. Ia sengaja menimbulkan kesan baik atau sebaliknya (faking good or faking bad).
Untuk itu, observasi sedapat mungkin dilakukan dengan cara “menyamar.”
4)      Munculnya perilaku yang akan diobservasi seringkali tidak dpat diprediksi, sehingga ada kemungkinan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menunggu kemunculan perilaku tersebut. Kesulitan ini sering terjadi ketika “participant observation” yang kadang harus menunggu gejala yang akan diobervasi.
5)      Kegiatan observasi dapat saja terganggu oleh kejadian-kejadian situasional.
·         Misalnya, tiba-tiba hujan, gaduh, dsb.
6)      Bervariasinya durasi juga menjadi keterbatasan observasi, karena ada peristiwa yang terjadi sangat cepat (singkat waktunya), atau peristiwa yang sangat lama (bertahun-tahun). Bandingkan observasi dalam ilmu pengetahuan mengenai proses metamorphose dengan pertumbuhan janin dalam kandungan.

6.       MANFAAT OBSERVASI
1)      Hasil observasi yang dibuat dapat dikonfirmasi dengan literatur.
2)      Deskripsi memberi gambaran setting kehidupan nyata (real-life).
3)      Deskripsi dapat menjelaskan proses peristiwa berlangsung & dapat menguji kausalitas, memperkirakan mengapa sesuatu terjadi dalam setting senyatanya.
4)      Dapat mencatat atau merekam gejala yang kadang tidak jelas berlangsungnya. Misalnya, isyarat nonverbal, atau menolak suatu hasil eksperimen.
5)      Mencatat atau merekam situasi-situasi yang tidak bisa direplikasikan kedalam eksperimen.
·         Misalnya, peristiwa perkawinan, pertemuan politik, perileku penonton sepak bola, perilaku religius, dan sebagainya.
6)      Kronologis peristiwa dapat dicatat dengan runtut, dan setiap waktu dapat dilihat kembali.
7)      Peralatan teknologi dapat merekam secara permanen, dapat dianalisis secara independen, untuk menjamin reliabilitas interpretasi.
·         Misalnya, ada kemungkinan wasit tidak lagi menganulir gol dalam pertandingan sepak bola, atas bantuan peralatan teknologi, karena dapat di “replay,” dan sebagainya.
8)      Dapat dikombinasikan dengan pendekatan lainnya dalam penelitian.
·         Misalnya dikombinasikan dengan metode dalam psikodiagnostik lainnya.

Pengukuran melalui pencatatan atas hasil pengamatan, hendaknya dilakukan secara akurat, objektif, valid, dan reliabel. Pengukuran disebut akurat, apabbila memenuhi kriteria objektif, valid, dan reliabel.
Observasi disebut objektif, apabila observer tidak membiarkan perasaannya mempengaruhi pencatatan data maupun interpretasi data, sehingga penarikan kesimpulan pun menjadi salah. Hindarilah proses men-judgment di awal.
Contohnya, dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dia cemberut pada saya, wah dia pasti marah pada saya, itu kan belum tentu, tanyakan dulu bila perlu, bigutu pula dalam observasi “jangan men-judgment di awal.”
Data yang objektif dapat dicapai apabila “perilaku sasaran yang harus dicatat ditegaskan secara cermat.”
Observasi disebut valid, Apabila perilaku yang diukur benar-benar adalah perilaku yang seharusnya diukur.
Misalnya, “target perilaku” kita adalah aktivitas mencoret-coret di tembok. Maka perilaku yang harus kita ukur aadlah aktivitas mencoret-coret di tembok (bukan yang lain).
Observasi disebut reliable, benarkah ia mencoret-coret di tembok? Kalau misalnya, kita mengukur mengenai agresivitas, subjek tidak menendang, kita catat menendang, itu namanya tidak reliable (tidak dapat dipercaya).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#02 Konsep Memerangi Kejahatan Cybercrime dalam Perspektif Kriminiologi

Pengertian memerangi kejahatan sama dengan pengertian menanggulangi kejahatan. Dalam istilah kriminiologi penanggulangan kejahatan sering j...