Bias Gender Peran Wanita Pada Kebijakan Public

Tabel 4 : BIAS GENDER : Amplikasi pendapat individu tentang peran kewanitaan pada kebijakan public
No
Pendapat individu peran kewanitaan
Kebijakan pada domain publik
1
Perempuan emosional, suka menangis
Jangan diposisikan sebagai pimpinan atau manajer
2
Semua perempuan menjadi ibu (menikah), mengasuh anak
Perempuan tak usah dilatih, tak perlu kaderisasi (karena setelah dilatih ikut suami, tak diijinkan suami, membuang waktu dan biaya)
3
Semua perempuan adalah pengasuh, menegrjakan pekerjaan rumah tangga, memelihara keuangan rumah tangga
Pekerjaan yang pantas untuk perempuan : sekertaris, pelayan, perawat, keuangan, berhubungan dengan kewanitaan (memasak, salon, dsb)
4
Perempuan pandai melaksanakan perintah (bapaknya, suaminya)
Tak perlu berkonsultasi dengan pegawai perempuan, langsung saja diperintah. Pekerjaan yang pantas yang bersifat ‘melayani’
5
Perempuan susah diharap, sering absen karena ada urusan keluarga dan rumah tangganya
Beri perempuan yang kerja paruh waktu (part time), tak perlu dipromosikan
6
Perempuan hanya membantu suami untuk mencari nafkah, kurang pendidikan, kurang mempunyai ketrampilan
Perempuan patut dibayar lebih murah, jenis pekerjaan yang cocok; tak perlu menggunakan ‘otak’, monoton, buruh kelas rendah
7
Perempuan bertangan halus
Bekerja yang menggunakan mesin ketik, assembling (pekerjaan monoton)
8
Tempat perempuan di rumah
Lamaran kerja untuk perempuan baru diterima bila tidak ada pekerjaan untuk lelaki
9
Perempuan yang banyak bicara dan percaya diri adalah pembuat ribut
Ambil staf perempuan yang tidak banyak bicara, patuh, tidak membantah
Herald Tribune 1988,



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#02 Konsep Memerangi Kejahatan Cybercrime dalam Perspektif Kriminiologi

Pengertian memerangi kejahatan sama dengan pengertian menanggulangi kejahatan. Dalam istilah kriminiologi penanggulangan kejahatan sering j...