PENDAHULUAN
Skizofrenia merupakan salah satu dari banyak macam gangguan jiwa. Skizofrenia merupakan gangguan jiwa berat. Walaupun demikian, dengan pengobatan yang baik, banyak pasien skizofrenia dapat disembuhkan. Kesembuhan pasien skizofrenia bergantung pada pengobatan rawat inap di ruang rawat inap, dan rawat jalan di poliklinik kesehatan jiwa. Pada rawat inap, dokter dan perawatlah yang paling berperan, walaupun peran keluarga juga sangat membantu bagi kesembuhannya. Pada rawat jalan, peran anggota keluarga sangatlah menentukan bagi kesembuhannya.
Tulisan ini bertujuan untuk sebagai panduan bagi keluarga pasien, sebagai panduan melaksanakan rawat inap. Agar keluarga pasien mengetahui apa yang harus dilakukan tenaga medis di rumah sakit jiwa dalam mengobati pasien skizofrenia, sekaligus sebagai panduan keluarga, tentang hal-hal apa yang perlu dilakukan selama keluarganya yang sakit skizofrenia sedang menjalani rawat inap.
PERSYARATAN RAWAT INAP
Rumah sakit jiwa bukanlah panti atau yayasan social untuk menitipkan pasien gangguan jiwa. Rumah sakit jiwa adalah tempat pengobatan pasien gangguan jiwa. Rumah sakit jiwa mempunyai berbagai aturan yang berkaitan dengan pengobatan. Pasien skizofrenia yang bisa rawat inap di rumah sakit jiwa adalah pasien yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
· Pasien yang memiliki gagasan bunuh diri atau membunuh.
· Pasien yang menolak makan dan minum sehingga membahayakan kelangsungan hidupnya.
· Pasien yang karena kegelisahannya bisa membahayakan dirinya atau lingkungannya.
RAWAT INAP
Sebelum dilakukan pengobatan, pasien diperiksa secara teliti oleh dokter dan tenaga medis lainnya.
Pemeriksaan pasien
Pasien diperiksa secara holistic. Artinya pasien diperiksa baik badannya, kondisi jiwanya, atau kondisi lingkungannya (terutama keluarganya).
Pemeriksaan badan
· Pemeriksaan terhadap kemungkinan adanya gangguan penyakit badan. Misalnya apakah ada luka-luka pada tubuhnya, apakah ada penyakit darah tinggi, apakah suhu tubuhnya panas, dan lain-lain.
· Pemeriksaan terhadap kemungkinan adanya penyakit syaraf. Kalau dianggap perlu bias dilanjutkan dengan pemeriksaan elektrik otak (Electro Encephalography).
· Pemeriksaan laboratorium rutin terhadap darah, feses dan kencing.
· Pemeriksaan foto ronsen (kalau dianggap perlu, misalya ada dugaan penyakit paru).
· Pemeriksaan elektrik jantung (Electro Cardiography).
Pemeriksaan jiwa
· Wawancara dengan pasien untuk mengetahui keadaan jiwanya.
· Kalau dianggap perlu bisa dilanjutkan denga berbagai tes kejiwaan (tes psikologik).
Pemeriksaan kondisi lingkungan atau keluarga
Wawancara dengan anggota keluarga pasien diperlukan, untuk mengetahui riwayat penyakit jiwa pasien, kebiasaan atau sifat-sifat pasien sebelum sakit, apakah ada riwayat penyakit badan sebelumnya yang kemungkinan berhubungan atau menjadi penyebab timbulnya gangguan jiwa pasien, apakah ada stress sebelumnya baik dari keluarga, pekerjaan atau pergaulannya.
Pengobatan pasien
Pasien diobati secara holistic. Artinya pasien diobati baik badannya, jiwanya, maupun menata ingkungan / keluarganya apabila penyebab gangguan jiwa pasien berkaitan dengan stress yang berasal dari dalam keluarganya.
Pengobatan badan
· Penyakit badan pasien, baik yang berkaitan maupun yang tidak dengan gangguan jiwanya akan diobati. Mislanya pasien memiliki gangguan otak yang menjadi penyebab gangguan jiwnaya, atau misalnya pasien memiliki gangguan paru-paru nyang tidak berhubungan dengan sakit jiwanya.
· Olah raga, untuk meningkatkan daya tahan tubuh pasien, misalnya tenis meja, tenis lapangan, volley, senam, sepak bola, renang
Pengobatan jiwa
· Mengguanakn obat-obatan baik obat minum maupun obat suntik.
· Menggunakan pengobatan kejang elektrik apabila dianggap perlu oleh dokter.
· Terapi jiwa perorangan atau psikoterapi individual, yaitu suatu teknik pengobatan khusus kejiwaan yang dilakukan oleh dokter spesialis jiwa a tau ahli jiwa klinik (psikolog klinik).
· Terapi jiwa kelompo, yaitu terapi jiwa yang melibatkan sekaligus beberapa pasien yang hamper sama kondisi gangguan jiwanya, terapi ini sangat bermanfaat bagi kesembuhan pasien, setelah mereka dapat berbagi perasaan kepada teman-temannya sesame pasien gangguan jiwa.
· Terapi kerja. Pasien diajarkan ketrampilan misalnya menyulam, menjahit, menenun, membuat barang-barang kerajinan.
· Terapi seni. Pasien diberi kesempatan mengungkapkan keadaan jiwanya lewat kesenian, misalnya menyanyi, melukis, dimana kegiatan-kegiatan tersebut dapat membantu kesembuhannya.
Terapi lingkungan / keluarga
Kondisi keluarga yang kurang mendukung, mislanya banyak pertengkaran, kurang harmonis, saling acuh tak acuh sesame anggota keluarga, keluarga yang berantakan, kurang perhatian atau terlalu berlebihan perhatiannya kepada pasien gangguan jiwa, adalah tidak mendukung bagi kesembuhan pasien. Oleh sebab itu pada sata pasien menjalani rawat inap, pada kesempatan-kesempatan tertentu, anggota keluarga akan dilibatkan untuk diberi pengarahan atau penyuluhan oleh petugas penyuluh kesehatan jiwa masyaraka dari rumah sakit jiwa, agar dapat mengubah bagaimana caranya menjadi anggota keluarga nyang dapat membantu kesembuhan pasien.
KEWAJIBAN KELUARGA
Apabila sorang pasien gangguan jiwa menjalani rawat inap di rumah sakit jiwa, bukan berarti anggota keluarganya bias lepas tangan atau bersikap itdak mau lagi turut campur terhadap pengobatan pasien. Sperti telah disinggung di atas, bahwa kesembuhan pasien juga bergantung pada peran serta keluarganya. Anggota keluarga tidak hanya berkewajiban membayar ongkos pengobatan, tetapi juga diharapkan ikut serta secara aktif membantu kesembuhan pasien dengan cara :
· Membesuknya secara teratur, paling sedikit seminggu seklai, agar hubungan antara pasien dengan anggota keluarganya tetap terjalin dengan baik, sehingga pasien tetap merasa diperhatikan oleh anggota keluarganya, dan hal itu sangat membantu bagi kesembuhannya.
· Secara aktif mengikuti perkembangan kesehatan pasien, jangan acuh-tak acuh, dan tidak mau tahu tentang kondisi pasien, sebab hal itu akan memperlama kesembuhannya.
· Secara aktif berkonsultasi kepada tenaga medis di rumah sakit, untuk menambah pengetahuan tentang gangguan jiwa, sebab hal itu sangat bermanfaat bagi kelangsungan kesembuhan pasien pada saat pasien menjalani rawat jalan.
CATATAN PENTING BAGI KELUARGA
Lamanya rawat inap yang baik adalah 2 sampai 6 minggu. Apabila pasien terlalu lama dirawat di rumah sakit, justru pasien akan sukar sembuh, sebab pasien akan terbiasa bergaul denga teman-temannya yang sakit jiwa, sehingga akan sukar kembali ke masyarakat normal, atau sukar bersosialisasi kembali di dalam masyarakat normal. Sehingga kalau keluar dari rumah sakit jiwa, tidak lama lagi akan kambuh penyakitnya dan akan rawat inap lagi.
PENUTUP
Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi anggota keluarga yang memiliki pasien gangguan jiwa yang sedang menjalani rawat inap di rumah sakit jiwa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar