Konsep Diri Wanita Lanjut Usia Setelah Ditinggal oleh Suaminya


 I.      PENDAHULUAN

A.     LATAR BELAKANG MASALAH

Orang usia lanjut, yang kira-kira mulai terjadi pada usia enam puluh tahun ditandai dengan adanya perubahan yang bersifat fisik dan psikologis yang cenderung mengarah ke penyesuaian diri yang buruk dan hidupnya tidak bahagia. Keberadaan lansia sendiri memiliki peran penting sebagai motor penggerak bagi generasi penerus mereka. Secara historis, lansia dapat dikatakan merupakan pelopor pembangunan, di mana mereka sendiri pernah mengalami fase usia yang secara kategorial berada di bawah fase usianya yang sekarang, dan pada prosesnya, mereka menjalankan peran tersebut dalam masyarakat sampai pada akhirnya menyandang status sebagai lansia, di mana memiliki peran yang berbeda dengan peran yang mereka jalani sebelumnya.
Konsep diri adalah gambaran yang dimiliki seseorang tentang dirinya sendiri. Konsep diri merupakan gabungan dari keyakinan yang dimiliki orang tentang dirinya sendiri, karakteristik fisik, psikologis, social emosional, aspirasi dan prestasi (Hurlock, 1980).
Konsep diri merupakan pendapat individu mengenai diri sendiri yang terdapat dalam pikiran seseorang yang diambil berdasarkan observasi diri pribadi dalam situasi yang berbeda-beda (Burns, 1993). Menurut Rainy, konsep diri adalah suatu system persepsi yang dpelajari berfungsi sebagai suatu obyek didalam lapangan persepsi. Jadi konsep diri seseorang merupakan dirinya sendiri dari titik pandangannya sendiri.
Konsep diri menurut Kelli adalah suatu penilaian atas pandangan seseorang tentang dirinya, pandangan itu hasil dari bagaimana cara melihat dirinya, pemikiran pendapat tentang dirinya dan sikap terhadap dirinya. Konsep manusia mengenai dirinya sendiri mempengaruhi tingkah lakunya dan pengharapan dari hidup ini. Banyak orang mendefinisikan diri mereka sendiri dengan apa yang mereka miliki daripada apa yang mereka lakukan (Burns, 1993). Konsep ini sendiri memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perilaku yang ditampilkan oleh seseorang.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa konsep diri merupakan pendapat atau cara pandang individu terhadap dirinya sendiri, memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perilaku yang ditampilkan oleh seseorang dalam proses sosialisasi yang dipengaruhi oleh persepsi dan pengalaman individu.
Salah satu diantara sekian masalah yang unik bagi orang usia lanjut adalah mencari teman baru untuk menggantikan suami atau istri yang telah meninggal atau pergi jauh dan atau cacat yang melatarbelakangi judul ini. Status pernikahan merupakan kondisi umum yang mempengaruhi perubahan minat pada usia lanjut. Seperti halnya pria dan wanita yang menikah pada awal masa dewasa dan usia madya yang mempunyai banyak waktu dan uang untuk memenuhi keinginan mereka, begitu juga terjadi pada orang-orang berusia lanjut, sebagian besar merupakan bawaan sejak masa muda dulu. Orang berusia lanjut yang sudah terbiasa terikat dengan kegiatan bersama suami dan anak, harus melakukan perubahan yang radikal setelah kehilangan pasangan hidupnya karena kematian atau perceraian. Dalam hal ini harus mengusahakan penyesuaian diri yang baru apabila dia telah sendirian karena bercerai atau ditinggal mati suaminya. 
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul “Konsep Diri Wanita Lanjut Usia Setelah Ditinggal oleh Suaminya”.

B.     IDENTIFIKASI MASALAH

Subyek adalah wanita lanjut usia yang berumur 71 tahun. Subyek adalah ibu dari enam orang anak. Sejak 3 tahun yang lalu, subyek ditinggal pergi oleh suaminya untuk selama-lamanya (meninggal dunia).

C.     RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang uraian di atas, maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah “Apakah ada pengaruh konsep diri wanita lanjut usia setelah ditinggal oleh suaminya?”

D.     TUJUAN PENELITIAN

Adapun tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui pengaruh konsep diri wanita lanjut usia setelah ditinggal oleh suaminya.

 

E.     MANFAAT PENELITIAN

a.       Secara teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu-ilmu psikologi khususnya psikologi perkembangan.
b.      Secara praktis
Penelitian ini juga diharapkan bermanfaat bagi wanita lanjut usia agar mereka dapat memberikan informasi kepada wanita lanjut usia lainnya untuk lebih termotivasi dan dapat meminimalisir pengaruh negatif yang muncul dan mempertahankan pengaruh positif.

II.      KAJIAN PUSTAKA

A.     MASA LANJUT USIA

1.      PENGERTIAN MASA LANJUT USIA
Usia tua adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang, yaitu suatu periode di mana seseorang telah “beranjak jauh” dari periode terdahulu yang lebih menyenangkan, atau beranjak dari waktu yang penuh dengan manfaat. Bila seseorang yang sudah beranjak jauh dari periode hidupnya yang terdahulu, ia sering melihat masa lalunya, biasanya dengan penuh penyesalan, dan cenderung ingin hidup pada masa sekarang, mencoba mengabaikan masa depan sedapat mungkin.
Karena kondisi kehidupan dan perawatan yang lebih baik, kebanyakan pria dan wanita zaman sekarang tidak menunjukkan tanda-tanda ketuaan mental dan fisiknya sampai usia enam puluh lima, bahkan sampai awal tujuh puluhan. Oleh karena itu, masa lanjut usia adalah masa setelah mereka mencapai usia tujuh puluh, yang menurut standar beberapa kamus berarti makin lanjut usia seseorang dalam periode hidupnya dan telah kehilangan kejayaan masa mudanya (Hurlock, 1980:380).  

2.      CIRI-CIRI MASA LANJUT USIA
Sama seperti setiap periode lainnya dalam rentang kehidupan seseorang, usia lanjut ditandai dengan perubahan fisik dan psikologis tertentu. Efek-efek tersebut menentukan sampai sejauh tertentu, apakah pria atau wanita lanjut usia akan melakukan penyesuaian diri secara baik atau buruk.
1.      Usia Lanjut Merupakan Periode Kemunduran
Periode selama usia lanjut, ketika kemunduran fisik dan mental terjdai secara perlahan dan bertahap dan pada waktu kompensasi terhadap penurunan ini dapat dilakukan, dikenal sebagai “senescence”, yaitu masa proses menjadi tua. Seseorang akan menjadi orang semakin tua pada usia limapuluhan atau tidak sampai mencapai awal atau akhir usia enampuluhan, tergantung pada laju kemunduran fisik dan mentalnya. 
2.      Perbedaan Individual pada Efek Menua
Penuaan fisik lebih cepat dibandingkan dengan penuaan mental, walaupun hal yang sebaliknya juga kadang-kadang terjadi, terutama apabila seseorang sangat memikirkan proses ketuaannya dan membiarkan saja penuaan mentalnya terjadi apabila tanda-tanda pertama ketuaan fisik tampak.
3.      Usia Tua Dinilai dengan Kriteria yang Berbeda
Banyak orang berusia lanjut melakukan segala apa yang dapat mereka sembunyikan atau samarkan yang menyangkut tanda-tanda penuaan fisik dengan memakai pakaian yang biasa dipakai orang muda. Inilah cara mereka untuk menutupi diri dan membuat ilusi bahwa mereka belum lanjut usia.
4.      Pelbagai Stereotype Orang Lanjut Usia
Sumber-sumber yang dijadikan sebagai kepercayaan tradisional orang berusia lanjut:
Pertama. Cerita rakyat dan dongeng, yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, cenderung melukiskan usia lanjut sebagai usia yang tidak menyenangkan.
Kedua. Orang yang berusia lanjut sering diberi tanda dan diartikan orang secara tidak menyenangkan oleh pelbagai media massa.
Ketiga. Berbagai humor dan canda yang berbeda juga menyangkut aspek negatif orang usia lanjut, dengan acara yang tidak menyenangkan dan klise yang sebagian besar lebih menekankan sikap ketololan sebagai orangtua daripada kebijakan.
Keempat. Pendapat klise lama telah diperkuat oleh hasil studi ilmiah, karena masalah pokok dari studi tersebut pada umumnya menekankan masa sebelumnya, bahwa orang-orang dalam lembaga tertentu yang kemampuan fisik dan mentalnya telah menurun merupakan orang penting yang bertanggungjawab terhadap proses perlembagaannya, sehingga tidak mengherankan lagi kalau hasil studi semacam itu justru mendukung pendapat klise yang sudah popular. 
5.      Sikap Sosial Terhadap Usia Lanjut 
Pendapat klise tentang usia lanjut mempunyai pengaruh yang besar terhadap sikap sosial baik terhadap usia lanjut maupun terhadap orang berusia lanjut. Dan karena kebanyakan pendapat klise tersebut tidak menyenangkan, maka sikap sosial tampaknya cenderung menjadi tidak menyenangkan.
6.      Orang Usia Lanjut Mempunyai Status Kelompok Minoritas
Yaitu suatu status yang dalam beberapa hal mengecualikan mereka untuk tidak berinteraksi dengan kelompok lainnya, dan memberinya sedikit kekuasaan atau bahkan tidak memperoleh kekuasaan apapun. Status kelompok minoritas ini terjadi sebagai akibat dari sikap sosial yang tidak menyenangkan terhadap orang usia lanjut dan diperkuat oleh pendapat klise yang tidak menyenangkan tentang mereka.
7.      Menua Membutuhkan Perubahan Peran
Karena sikap social yang tidak menyenangkan bagi kaum usia lanjut, pujian yang mereka hasilkan dihubungkan dengan peran usia tua bukan dengan keberhasilan mereka. Perasaan tidak berguna dan tidak diperlukan lagi bagi orang usia lanjut menumbuhkan rasa rendah diri dan kemarahan, yaitu suatu perasaan yang tidak menunjang proses penyesuaian sosial seseorang.
8.      Penyesuaian yang Buruk
Orang usia lanjut cenderung sebagai kelompok, lebih banyak untuk menyesuaikan diri secara buruk ketimbang orang yang lebih muda.
9.      Keinginan Menjadi Muda Kembali Sangat Kuat
Berbagai cara kuno, obat yang termanjur untuk segala penyakit, zat kimia, tukang sihir dan ilmu gaib digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Kemudian timbul orang-orang yang bisa membuat orang tetap awet muda, yang dipercayai mempunyai kekuatan magis untuk mengubah usia lanjut menjadi mada lagi.
3.      TUGAS PERKEMBANGAN MASA LANJUT USIA
Orang lanjut usia yang mengalami proses perkembangan yang baik akan menampilkan tugas perkembangan sebagai berikut:
·         Menyesuaikan diri dengan menurunnya kekuatan fisik dan kesehatan
·         Menyesuaikan diri dengan masa pensiun dan berkurangnya income (penghasilan) keluarga
·         Menyesuaikan diri dengan kematian pasangan
·         Membentuk hubungan dengan orang-orang yang seusia
·         Membentuk pengaturan kehidupan fisik yang memuaskan
·         Menyesuaikan diri dengan peran sosial secara luwes

B.     KONSEP DIRI

1.      PENGERTIAN KONSEP DIRI
Konsep diri adalah evaluasi individu mengenai diri sendiri: penilaian atau penaksiran mengenai diri sendiri oleh individu yang bersangkutan (Chaplin, 2004).
Konsep diri adalah totalitas sikap dan persepsi seseorang terhadap dirinya sendiri (Syah, Muhibbin, 2005). Keseluruhan sikap dan pandangan tersebut dapat dianggap deskripsi kepribadian orang yang bersangkutan.
Konsep diri menurut Kelli adalah suatu penilaian atas pandangan seseorang tentang dirinya, pandangan itu hasil dari bagaimana cara melihat dirinya, pemikiran pendapat tentang dirinya dan sikap terhadap dirinya (Burns, 1993).
Konsep diri adalah gambaran yang dimiliki seseorang tentang dirinya sendiri. Konsep diri merupakan gabungan dari keyakinan yang dimiliki orang tentang dirinya sendiri, karakteristik fisik, psikologis, social emosional, aspirasi dan prestasi (Hurlock, 1980).
Menurut Stuart konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang diketahui oleh individu tentang dirinya dan mempengaruhi dalam berhubungan dengan orang lain (Stuart Sudden, 1997).
Jadi konsep diri adalah bagaimana seseorang mempersepsikan, menganalisa dan mengartikan serta memandang tentang dirinya sendiri.

2.      UNSUR-UNSUR KONSEP DIRI
Menurut Burns dalam konsep diri seseorang terdapat beberapa unsur antara lain:
  1. Physical Self Image 
Terdiri dari kualitas tubuh seperti tinggi atau pendek, kurus atau gemuk dan adanya cacat atau tidak. Oleh karena itu fisik sangat menentukan dalam pembentukan konsep diri, karena apabila seseorang mempunyai fisik yang kurang bagus (misalnya cacat) maka secara tidak langsung merasa akan mempengaruhi konsep diri seseorang.
  1. Psychologycal Self Image
Terdiri dari bermacam-macam traits seperti pemalu, jujur, sederhana, kikir atau agresif. Karena hal ini sangat berpengaruh menentukan konsep diri, misalnya orang yang kikir tidak disenangi oleh orang lain.
  1. Real Self Image
Merupakan pencerminan ini yaitu anggapan orang lain atau penilaian orang lain yang berani seperti orang tua, guru, teman baik dari segi fisik maupun psikologis. Dengan melihat kenyataan yang sebenarnya, yang terjadi dalam diri seseorang, maka orang itu dapat dilihat apakah orang tersebut mempunyai konsep diri yang baik atau tidak.
  1. Ideal Self Image
Merupakan gambaran yang diinginkan oleh seseorang yang ditentukan baik secara fisik maupun psikis, hal ini merupakan standar baginya yang ditentukan oleh harapan atau anggapan dari lingkungan sosialnya (Burns, 1993).

3.      PENYEBAB KONSEP DIRI RENDAH
Adapun penyebab dari konsep diri rendah antara lain adalah sebagai berikut:
1.      Cacat fisik.
2.      Kehilangan kasih sayang dan penghargaan dari orang lain terhadap dirinya.
3.      Pandangan individu yang tidak pernah realistik dan konsisten terhadap gambaran tentang dirinya sendiri. 
4.      Terjadinya konflik peran, peran yang tidak jelas, peran yang tidak sesuai dan peran yang berkurang.
5.      Ambisi dan keinginan untuk melebihi dan berhasil serta keinginan itu untuk menghindari kegagalan dan perasaan cemas dan rendah diri.
6.      Kecenderungan individu menetapkan ideal dirinya pada batas kemampuan.
7.      Tekanan sosial yang dialami dapat menimbulkan konsep diri yang rendah.
8.      Lingkungan keluarga yang kurang kondusif.
9.      Sebab-sebab yang berasal dari luar diri individu, misalnya hubungan dengan lingkungan serta kelompok sosial yang kurang harmonis.
10.  Nama dan julukan.
11.  Kondisi fisik, artinya kesehatan yang buruk yang menghalangi individu untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya.
12.  Bentuk tubuh yang tertinggi ataupun terlalu pendek, terlalu kurus atau terlalu gemuk menyebabkan seseorang merasa rendah diri dan kurang percaya diri.
13.  Cita-cita, bila orang lanjut usia mempunyai cita-cita yang tidak realistik, ia akan mengalami kegagalan. Hal ini akan menimbulkan perasaan tidak mampu dan reaksi-reaksi bertahan dimana ia akan menyalahkan orang lain atas kegagalannya. Ini akan menimbulkan rasa kurang percaya diri dan kurang puas pada diri sendiri sehingga akan menimbulkan konsep diri yang rendah (Hurlock, 1999).

4.      GEJALA-GEJALA KONSEP DIRI RENDAH
  1. Responsif terhadap pujian, meski pura-pura menjauhi pujian namun tidak dapat menyembunyikan antusiasnya pada saat menerima pujian, baginya segala yang menunjang harga dirinya menjadi pusat perhatian.
  2. Peka terhadap kritik, artinya tidak tahan terhadap kritik yang diterimanya dan mudah marah karena kritikan tersebut.
  3. Pesimistis dalam kompetisi, hal ini terungkap pada kelebihan orang lain dalam membuat prestasi.
  4. Merasa tidak disenangi orang lain, karena itu bereaksi pada orang lain, bermusuhan, kurang hangat dalam persahabatan.
  5. Tidak mampu mengungkapkan penghargaan atau pengakuan pada kelebihan orang lain.
  6. Bersikap sangat kritis, secara bersangkutan dengan kesenangannya menerima pujian, ia pun bersikap kritis terhadap orang lain, suka mencela, meremehkan dan suka mengeluh.

5.      AKIBAT KONSEP DIRI RENDAH
  1. Mudah putus asa dalam menjalankan serta melakukan sesuatu yang seharusnya bisa dikerjakan oleh semua orang dengan baik.
  2. Kurangnya motivasi untuk maju ke arah masa depan yang lebih baik.
  3. Mudah menyerah, yaitu tidak mampu menyelesaikan masalah, pasrah dan tidak ada usaha maksimal untuk menyelesaikannya.
  4. Selalu menyalahkan diri sendiri, yaitu merasakan apapun yang terjadi pada dirinya sendiri adalah kesalahannya semata, selalu gagal dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.
  5. Merasa tidak disukai orang lain sehingga individu tersebut selalu menghindar apabila bertemu atau berkumpul dengan orang lain. Hal inilah yang menyebabkan individu tersebut senang menyendiri.
  6. Cenderung menarik diri dari lingkungannya.
  7. Kurang percaya pada diri sendiri ataupun kurang percaya pada kemampuan diri sendiri.

6.      PENANGGULANGAN UNTUK KONSEP DIRI RENDAH
  1. Memberikan pemahaman yang benar tentang segala sesuatu yang ada dan menimpa pada diri subyek tersebut.
  2. Memberikan keyakinan atau kepercayaan diri bahwa subyek mampu untuk melakukan sesuatu dengan baik.
  3. Memberikan motivasi kepada subyek untuk meraih masa depan yang lebih baik, serta menyongsong kehidupan dimasa akan datang.
  4. Memberikan pemahaman tentang keadaan dirinya apa adanya, serta memberikan keyakinan kepada subyek untuk terus menjadi lebih baik serta tidak hanya memikirkan segala kekurangan yang ada pada diri subyek.
  5. Memberikan kepercayaan terhadap diri subyek dengan cara senantiasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

C.     PENYESUAIAN TERHADAP KEMATIAN PASANGAN

  1. Menjanda atau menduda
Kehilangan pasangan merupapakn sesuatu yang tidak dapat dielakkan, kecuali apabila pasangan tersebut meninggal pada waktu yang sama. Makin lama usia pernikahan, maka makin berat pula rasa kehilangan yang dirasakan oleh lansia tersebut. Oleh karena itu mereka cenderung lebih memilih menjanda atau menduda ketimbang untuk menikah kembali. Menjanda adalah saat dimana suami atau istri tidak lagi satu dalam mengahadapi kehidupan baik karena perceraian atau karena kematian salah satunya. Selanjutnya kematian suami akan menimbulkan trauma yang lebih parah pada keluarga miskin, karena suami merupakan satu-satunya sumber ekonomi keluarga.
  1. Reaksi terhadap kehilangan pasangan
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi intensitas perasaan duka yang dirasakan oleh orang yang ditinggal mati, diantaranya adalah:
a. Menimbulkan kesengsaraan bagi yang ditinggalkan
b. Sifat sentimentil atau gaya hidup yang pemurung
c. Kenangan yang mendalam dengan pasangan yang meninggal
  1. Usaha-usaha menyembuhkan kesedihan
Ada beberapa cara dalam menyembuhkan duka yang mendalam bagi janda atau duda, diantaranya dengan menikah kembali, melakukan aktivitas baru yang bermanfaat bagi pengembangan diri sendiri dan menunjang kehidupan ekonomi (terutama wanita).
  1. Pernikahan sesudah perceraian 
Secara sosial, pria mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk menikah kembali setelah bercerai dibandingkan dengan wanita. Janda yang tidak memiliki anak memiliki kesempatan yang luas untuk mendapatkan pasangan baru, karena ruang gerak sosialnya tidak terbatas. Dan jika janda tersebut memiliki jabatan maka lebih besar kesempatan untuk menemukan pasangan baru lebih besar daripada janda yang tidak bekerja dan memiliki anak.
  1. Pernikahan kembali setelah kematian pasangan
Pernikahan kembali bagi pasangan yang ditinggal mati cenderung ditunda karena akan mengingatkan pada pasangan yang lama.



III.      METODOLOGI PENELITIAN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#02 Konsep Memerangi Kejahatan Cybercrime dalam Perspektif Kriminiologi

Pengertian memerangi kejahatan sama dengan pengertian menanggulangi kejahatan. Dalam istilah kriminiologi penanggulangan kejahatan sering j...