Penjelasan Arti Keluarga Bagi Anak Ditinjau dari Ilmu Psikologi

ARTI KELUARGA BAGI ANAK

Sepanjang sejarah manusia terdapat hubungan yang dekat dan tidak mungkin dipisahkan,yaitu keluarga, ibu, ayah dan anak.sekalipun dalam kehidupan ini terjadi perubahan dalam system budaya dan social kemasyarakatan, kenyataannya ikatan ketiga hal itu tetap dipertahankan.
                Keluarga mempunyai arti yang penting buat anak. Kehidupan keluarga tidak hanya berfungsi memberikan jaminan makan pada anak, dengan demikian hanya memperhatikan pertumbuhan fisik anak, melainkan juga memegang fungsi lain yang penting bagi perkembangan mental anak.

1.      Sosialisasi Anak
Anak bersosialisasi, yaitu belajar hidup dalam pergaulan, pertama-tama dilakukan dalam lingkungan keluarga. Anak dapat belajar bergaul dengan orang lain bila ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang baik. 
        Sosialisasi yang terjadi dilingkungan keluarga disebut sosialisasi domestic. Pada sosialisasi ini bayi belajar untuk dapat mengadakan antisipasi dengan baik. Anak kecil belajar bagaimana ia harus melakukan kebiasaan-kebiasaan, missal menyikat giginya dan hal lain sebagainya yang ia perlukan dalam tatacara kehidupan manusia. Keluarga punya tugas meneruskan norma-norma dan budaya hidup kepada anak dalam keluarga tersebut. Dalam sosialisasi domestic anak belajar mengenal akan dirinya sendiri, siapa dia, bagaimana dia mengadakan suatu konsep diri (self conception) dan mengenal apa yang dia mampu lakukan (self esteem).karena keluarga adalah lingkungan sosialisasi yang pertama bagi anak maka keluarga disebut juga sebagai “lembaga sosialisasi primer” bagi anak.
        Dalam periode sosialisasi domestic, anak umur 0-5 tahun, anak dibuat siap untuk dapat timbul perasaan kekeluargaan (sense of belonging). Hal ini dapat membuat anak agar tidak mudah terpengaruh oleh situasi-situasi yang tidak baik yang mungkin dilihatnya di luar rumah.
        Bila waktunya bagi anak masuk sekolah, maka anak akan belajar berteman, menanggapi pandangan-pandangan teman,norma-norma dan budaya orang lain. Dalam fase ini anak selalu ada rasa ingin tahu dan muncul sikap ingin membandingkan hal-hal yang dia lihat diluar rumah dengan keadaan yang ada di rumahnya sendiri. Jadi anak ingin meluaskan orientasinya.
        Anak telah menginjak periode sosialisasi  sekunder. Pada saat ini anak belajar bergaul dengan anak sebayanya yang sosialisasi primernya tidak sama dengan dirinya. Anak juga belajar bermain dalam suatu tim (team work) misalnya, sepak bola, kasti, dll. Anak memilih sendiri pemimpinnya, membuat sendiri peraturan-peraturan permainannya, anak belajar untuk tunduk pada peraturan yang mereka ciptakan sendiri dan bagaimana kebijaksanaan pemimpinnya.
        Dalam sosialisassi sekunder anak mendapat pengalaman-pengalaman baru, belajar menanggapi sikap dan tingkah laku teman-temannya. Tidak jarang anak mengalami saat-saat yang kurang menyenangkan dan menyebabkan suatu reaksi emosional padanya. Kemudian anak akan mengajukan persoalannya kepada keluarganya dan ingin mendapatkan tanggapan-tanggapan dari saudara serta orang tuanya. Keluarga perlu menyediakan waktu untuk berkumpul sambil minum dan makan bersama yang disebut family table talk. Family table talk mempunyai peranan yang penting karena tidak hanya memberikan kesempatan kepada anak untuk mengeluarkan keluhan-keluhannya tapi juga memberikan bimbingan.

2.      Tata Cara Kehidupan Keluarga
Tata cara kehidupan keluarga akan memberikan suatu sikap serta perkembangan kepribadian anak yang tertentu pula. Ada tiga jenis tata cara kehidupan keluarga:
1). Keluarga yang demokratis, anak yang dibesarkan dalam keluarga ini, membuat anak mudah bergaul, aktif dan ramah tamah. Anak belajar menerima pandangan-pandangan orang lain, belajar dengan bebas mengemukakan pandangannya sendiri dan mengemukakan alasan-alasannya.
2). Keluarga yang membiarkan tindakan anak. Anak yang dibesarkan dalam keluarga ini, membuat anak tidak aktif dalam kehidupan social, dan dapat dikatakan anak menarik diri dari kehidupan social. Perkembangan fisik anak yang dibesarkan dalam keluarga ini menunjukkan terhambat. Anak mengalami banyak frustasi dan mempunyai kecenderungan untuk mudah membenci seseorang. Hal ini terjadi karena anak tidak mendapatkan tingkat interaksi social yang baik di dalam keluarganya.
3). Keluarga yang otoriter. Anak yang dibesarkan dalam keluarga otoriter biasanya  bersifat tenang, tidak melawan, tidak agresif dan mempunyai tingkah laku yang baik. Anak akan selalu menyesuaikan pendiriannya dengan kehendak orang lain (yang berkuasa orang tua). Dengan demikian kreatifitas anak akan berkurang, daya fantasinya kurang, dengan demikian mengurangi kemampuan anak untuk berfikir abstrak.
Dari tiga jenis tata cara kehidupan keluarga tersebut “Baldwin” mengatakan lingkungan keluarga yang demokratis merupakan tata cara yang terbaik bagi anak untuk memberikan kemampuan menyesuaikan diri.
Bentuk tingkah laku social anak antara lain sikapnya terhadap orang lain  dan kelompok orang sebagian besar berasal dari apa yang ia pelajari. Didapat dari hasil penyesuaian social, khususnya di sini penyesuaian anak terhadap tata cara kehidupan keluarganya.

  1. PERAN IBU DALAM PEMBENTUKAN PERILAKU ANAK
Ibu adalah individu yang pertama yang mempunyai hubungan dengan bayi yang  dikandungnya. Sikap dan hubungan yang dibentuk oleh ibu terhadap anaknya akan mempengaruhi perilaku anaknya.karena itu ibu mempunyai peranan yang sangat penting dalam membentuk tingkah laku anaknya.

1. Perkembangan Emosi Anak
        Ibu yang meneteki anaknya pada dasarnya adalah melatih anak dalam proses sosialisasi. Anak akan mendapatkan apa yang ia inginkan, yaitu kepuasan karena ia dapat dibebaskan dari rasa lapar dan haus apa bila ia menetek. Dalam hal ini anak mualai belajar mengantisipasi terhadap apa yang akan dilakukan. Antisipasi ini adalah bagian yang penting dalam cara hidup dalam masyarakat.
        Selain itu, ibu juga  punya peranan penting dalam perkembangan emosi dan rasa simpati dalam memupuk sense of  belonging pada anak. Hal ini juga akan memperkuat perasaan anak untuk hidup bermasyarakat, sehingga kelak tidak mudah melakukan tindakan yang bersifat antisocial maupun bersikap asosial.
        Rasa simpati sangat diperlukan oleh individu, karena manusia itu adalah makhluk social  yang punya sifat interdependence, yaitu sifat ketergantungan  yang bersifat timbal balik. Ibu akan melatih anak untuk dapat hidup bermasyarakat  yang baik, yaitu dengan memberikan nilai-niali yang diperlukan untuk hidup bermasyarakat.
        Perkembangan emosi bagi anak adalah dasar untuk mengembangkan kepribadiannya sebaik mungkin. Gangguan emosi atau mengalami emosi-emosi yang tidak menyenangkan akan berakibat tidak baik bagi perkembangan anak, diantaranya anak bersifat apatis, depresif, mudah cemas dan putus asa, agresif, atau destruktif. Egosentrisme dan egoisme anak setapak demi setapak akan berkembang dan ini dapat menjadi dasar perkembangan kea rah psikopatia (kepribadian antisosial).
        Hal yang perlu diperhatikan ibu agar dia dapat mengasuh anaknya sebaik mungkin:
1). Pengertian dan kemampuan ibu untuk mengasuh anaknya sesuai dengan prinsip-prinsip kesehatan mental serta kesadaran yang tinggi dalam tanggung jawabnya.
2). Mampu mengatir waktunya untuk mengasuh anaknya dan ketenangan suasana rumah tangganya.
3). Keadaan-keadaan diluar lingkungan keluarganya. 
        Yang perlu diperhatikan pada waktu sekarang ini adalah kecenderungan untuk membentuk keluarga yang membentuk keluarga inti (nuclear family) terutama dikota-kota besar dan bentuk keluarga besar (extended family) mulai berkurang.
        Keadaan frustasi yang menumpuk akan membuat tingkah laku anak cenderung kearah sifat-sifat asosial dan tidak jarang anak melarikan diri (runaway reaction), bersifat agresif dan berkelompok dengan tamannya yang digolongkan dalam golongan tingkah laku yang disebut unsocialized aggressive reaction.
         Yang diperlukan dalam mengasuh anak , selain keperluan-keperluan untuk perkembangan fisik yaitu makanan yang sehat, cukup mengandung nilai-nilai gizi dan kalori , pakaian dll, anak juga memerlukan bahanbahan yang bermanfaat bagi perkembangan emosinya. Untuk itu di perlukan kasih saying, pengertian atau perhatian, dan kelemah lembutan. Pemenuhan kebutuhan bagi perkembangan mental anak adalah hal pokok agar anak dapat hidup dalam masyarakat dan dia akan memberikan rasa kasih saying, penuh pengertian dan kelemah lembutan pada semua orang.
        Sifat perkembngan emosi anak adalah menyebar. Anak yang di benci oleh orang tuanya secara sadar atau tidak, akan menimbulkan rasa kebencian anak kepada orang tuanya dan dapata pula timbul benci kepada semua orang. emosi yang sehat bagi anak akan berpengaruh pada tingkah lakunya  termasuk pada prestassi belajar di sekolah.

2.      Mendidik Untuk Mendapatkan Pengertian
Mengasuh anak tidak cukup dengan kata-kata saja. Mendidik itu harus ditunjukkan melalui perbuatan sehingga anak dapat merasakannya.
        Sesuai dengan prinsip belajar dengan melakukan sendiri maka anak harus diberi kesempatan untuk melatih dirinya membuktikan kasih sayangnya kepada orang tuanya.
        Naluri lain yang ada pada anak adalah dorongan rasa ingin tahu. Pemuasan rasa ingin tahu akan menenangkan perasaan anak dan membuat anak lebih cerdas. Karena itu ibu harus cukup memberi pengertian pada anaknya.
        Keterangan-keterangan yang diberikan ibu cukup dengan bahasa yang sederhana sehingga dapat ditangkap oleh anak. Keterangan-keterangan yang terlalu sukar justru membingungkan anak. Keterangan yang diberikan juga tidak boleh jauh dari pada kebenaran, karena akan menyesatkan pengertian dan tanggapan anak mengenai suatu problem akan salah.
        Memberikan janji-janji pada anak tidak dibenarkan. Karena, anak hanya akan berbuat baik atau tidak berbuat seperti apa yang telah dilarang oleh ibunya tanpa kesadaran atau pengertian. Tindakan anak hanya terdesak oleh janji-janji, bila ibu lupa akan janjinya, anak akan merasa ditipu, dan anak juga akan belajar menipu orang lain. Pemberian hadiah kepada anak tidak dilarang, yang dilarang adalah memberikan janji-janji.
        Sikap ibu dalam mendidik anak haruslah mantap, yaitu tidak boleh berubah-ubah. Dari sikap yang berkenaan menjadi sikap yang sangat kuat melarang. Karena anak akan bingung dalam menanggapi nilai-nilai dan norma-norma budaya yang berubah-ubah. Anak yang merasakan bahwa segala perbuatannya akan dinilai dengan penuh pertimbangan akan merasakan kehangatan hidup keluarga.
        Selain itu ibu dapat mengtur waktunya. Ibu tidak perlu seharian dengan anaknya. Kalau hanya marah-marah saja. Hal ini akan lebih jelek pengaruhnya. Yang diperlukan dalam mengasuh anak adalah kualitasnya bukan kuantitasnya. Bila ibu sehabis kerja meluangkan waktu sekalipun tidak terlalu lama, untuk bersenda gurau, bermain atau beristirahat bersama anaknya. Jika anak telah menunjukkan kegembiraannya, maka hal itu telah cukup untuk sehari itu.
        Keadaan lingkungan diluar keluarga mempengaruhi perkembangan mental anak. Dengan kemajuan teknologi dan komunikasi maka alam pikiran anak jadi lebih kritis. Dasar hidup moral dan etika harus tetap kita pertahankan demi kelanggengan hidup manusia, walaupun ada perubahan-perubahan dalam nilai budaya. Kita harus tahu dan mencoba membedakan mana nilai-nilai baru sebagai proses perkembangan kebudayaan dan mana yang menyimpang dari dasar moral dan etik.

  1. PERAN AYAH DALAM KEHIDUPAN ANAK

Menurut teori psikoanalisa, ayah punya peran dalam hal sebagai mana anak dapat mencegah kompleks oedipusnya. Impuls-impuls seksual mempengaruhi perkembangan anak. Menurut Freud Persoalan yang ada dalam alam bawah sadar harus di ungkapkan dalam alam sadar dan itu mutlak. Pada anak laki-laki berlangsung lewat rasa takut pada ayahnya, maka ia mendekati ibunya. Pada anak perempuan hal ini lewat rasa takut kehilangan ayahnya Karena kecintaan ibu terhadap ayahnya, maka dia mendekati ayahnya. Kalau tidak ada ayah, timbul kecintaan heteroseksual pada anak, sehingga anak tertarik pada seks yang sejenis.
Teori Talcott-Parson, peran ayah bertolak pada aspek instrumental dan peran ekspresi parental yaitu penerapan dari social learning theory. Artinya peran ayah adalah membawa masyarakaat ke dalam rumah dan rumah ke dalam masyarakat. Talcott juga menyatakan, ayah adalah pelaksana kehidupan keluarga dengan harapan yang mempunyai peran, memberi otoritas atau kewenangan  disiplin serta punya sifat netral, objektif, dan dapat mengambil kebijaksanaan yang baik, sedangkan ibu adalah orang yang mengambil peran dalam keluarga yang bersifat ekspresif, integrative, dan sportif. Kekurangan akan peran ayah akan menimbulkan kepincangan dalam mengambil keputusan yang baik, objektif dan netral.
Wolfgang Lederer, kasih saying ibu tidak bersyarat, kasih saying ayah adalah atas dasar tuntutan dan bersifat bersyarat terhadap prestasi. Pengaruh kehilangan ayah pada anak perempuan mengakbatkan anak tersebut kelak mengalami banyak kegagalan untuk dapat mencapai orgasmus. Disebabkan kebencian anak tersebut terhadap laki-laki. Dan kurang kasih saying ayah akan mengakibatkan depresi pada anak.

  1. PERAN ORANGTUA DALAM PENANGGULANGAN KENAKALAN ANAK
        Masalah kenakalan anakanak sanagat kompleks dan lebih bersifat  suatu gejala dari pada suatu penyakit. Kenakalan tidak hanya bersifat medis, tapi juga menyangkut segi-segi sosiobuduya. Values dan norm digunakan sebagai alat pengukur, sedangkan kebudayaan bukan suatu keadaan yang statis tapi berkembang.

1.      Jenis Prilaku
Kenakalan adalah suatu kelainan tingkah laku, dan tingkah laku adalah usaha untuk mendapatkan kepuasan pribadi sedangkan masyarakat dapat menerimanya atau menolaknya. Penggolongan tingkah laku menurut Lowrey ada empat jenis:
1).  Apabila tingkah laku dapat memuaskan anak, dan dapat diterima oleh masyarakat, maka keadaan tersebut tidak merupakan persoalan bagi individu atau kelompok. Tingkah laku ini dalah sehat.
2).  Apabila tingkah laku tidak memuaskan akan kebutuhan anak tetapi masyarakat dapat menerimanya, maka hal ini adalah suatu gangguan dalam jiwa anak.
3).  Apabila tingkah laku dapat memuaskan anak tetapi tidak dapat diterima oleh masyarakat, maka hal ini akan merupakan suatu gangguan tingkah laku delenkuensi atau kejahatan.
4).  Apabila tingkah laku tidak dapat memuaskan anak dan tidak dapat diterima masyarakat, maka ini suatu bentuk delenkuensi yang bersifat neuritik ataupun psikotik.

2.      Sebab Kenakalan Anak
Kerusakan pada otak, karena suatu kecelakaan yang mengenai kepala. Anak dalam perkembangannya dapat menunjukkan kelainan-kelainan dalam bidang emosinya dari tingkat yang ringan sampai yang cukup berat. Anak bias mempunyai kekurangan dalam hal menyesuaikan diri sehingga mudah mengalami frustasi yang menyebabkan dia bereaksi agresif terhadap lingkungannya.
Kerusakan otak juga terjadi pada anak yang mengalami penyakit radang selaput otak dan radang otak, sehingga mengalami gangguan dalam bidang inteligensianya.
Sebab kedua adalah pengaruh keadaan lingkungan yang tidak sehat bagi perkembangan mental anak atau asuhan yang salah. Factor kepadatan penduduk, ekonomi, pendidikan, dll juga memberikan pengaruh terhadap kenakalan anak.
Asuhan yang salah juga merupakan penyebab timbulnya kenakalan yang tidak kalah  penting. Kesalahan dalam mengasuh anak disebabkan karena:                
1).  Orangtua tidak tahu bagaimana mengasuh anak sehingga mereka juga tidak  menyadari betapa pentingnya peranan mereka serta tugas mereka dalam perkembangan mental anak mereka.
2).  Orang tua tidak ada waktu untuk mengasuh anak dengan baik dan mereka mengesampingkan tugas mengasuh anak yang sangat penting.

3.      Peran Orangtua
Masyarakat adalah struktur yang tersusun dari keluarga dan bahwa cirri-ciri masyarakat ditentukan oleh keluarga. Masyarakat akan kehilangan kekuatannya apabila orang-orang gagal menjalankan tugasnya dalam keluarga.


Tulisan-tulisan mengenai moral dan etika antara lain Exodus, Deute Ronomy dan Ecclesiates telah menekankan peranan orangtua  dalam tugas membimbing anak-anaknya serta hubungan antara anak dengan orangtuanya. Tetapi hal ini tidak cukup pada waktu ini dan waktu yang akan datang apabbila tidak dibantu oleh badan-badan dan yayasan-yayasan kesehatan jiwa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#02 Konsep Memerangi Kejahatan Cybercrime dalam Perspektif Kriminiologi

Pengertian memerangi kejahatan sama dengan pengertian menanggulangi kejahatan. Dalam istilah kriminiologi penanggulangan kejahatan sering j...