Penjelasan dan Pengertian Gaya Hidup ditinjau dari Ilmu Psikologi

Gaya Hidup
1.      Pengertian Gaya Hidup
            Teori perilaku dari Kelly (1990) yang mengatakan bahwa setiap manusia akan berusaha mensistematisir reaksi-reaksi agar ia dapat mengendalikan sekaligus memprediksikan diri sendiri maupun lingkungannya. Bila ia tidak dapat menciptakan suatu pola perilaku tertentu maka ia akan menghadapi ancaman inkompobilitas dan inkomsistensi yang menyebabkan reaksi-reaksinya tidak efektif atau tidak menguntungkan.
            Menurut Susianto (1999) mengatakan bahwa konsep gaya hidup ini menjadi sangat penting karena gaya hidup berguna untuk memberi pemahaman yang lebih rinci terhadap gradasi dari masyarakat perkotaan yang digambarkan dengan struktur seperti kelas sosial, usia, jenis kelamin dan etnik. Dengan konsep gaya hidup akan memperoleh gambaran yang lebih bernuansa tentang mereka.
                Gaya hidup seseorang dapat menyebabkan timbulnya selektifitas dan distorsi pada mental, karena gaya hidup ini berpengaruh terhadap tempat-tempat yang diketahui atau didatangi, gaya hidup antara individu satu dengan individu lain berbeda. Gaya hidupseseorang dipengaruhi oleh latar belakang lingkungan orang tersebut. Hal ini sangat terkait erat dengan interaksi tiap individu (Sarwono, 1992)
Menurut Achir (1990), mengatakan bahwa gaya hidup sebenarnya adalah suatu disposisi yang melatarbelakangi perilaku atau reaksi yang diperlihatkan seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Gaya hidup baru dapat dipahami apabila sudah diwujudkan dalam tingkah laku nyata (dalam Widiastutik, 1999).
Era globalisasi memungkinkan timbulnya gaya hidup global. Orang cenderung untuk tampil sebagai pemenang dalam persaingan untuk memperoleh yang terbaik, tertingi, dan terbanyak (Naisbith 2004).
Gaya hidup adalah prinsip sistem dengan mana kepribadian individual berfungsi keseluruh yang memerintahkan bagian-bagiannya. Gaya hidup merupakan prinsip yang menjelaskan keunikan seseorang. Setiap orang mempunyai gaya hidup tetapi tidak memungkinkan ada dua orang mengembangkan gaya hidup yang sama. Semua tingkah laku orang muncul dari gaya hidupnya. Orang mempersepsikan, mempelajari dan mengingat apa saja yang cocok dengan gaya hidupnya dan mengabaikan semuanya (Hall dan Lindze 1993).
Menurut Enggel dan Blackwell (1994), mengatakan bahwa gaya hidup adalah perilaku membeli dan memanfaatkan waktu luang, hal ini berkaitan dengam faktor ekonomi dan demografi seseorang. Menurut teori perilaku dari Kelly (1990), yaitu teori konstruk dimana setiap manusia akan berusaha mensistematisir reaksi-reaksinya agar ia dapat mengendalikan sekaligus memprediksikan diri sendiri maupun lingkungannya. Bila ia tidak dapat menciptakan suatu pola perilaku tertentu maka ia akan mengahadapi ancaman inkompobilitas dan inkomsistensis yang menyebabkan reaksi-reaksinya tidak efektif atau tidak menguntungkan.
Sedangkan menurut Susianto (1999), mengatakan bahwa gaya hidup menunjukkan pada kerangka acuan yang dipahami oleh seseorang dalam bertingkah laku. Dua aspek yang ditekan disini adalah individu berusaha membuat seluruh aspek hidup berhubungan dalam suatu pola tertentu atau mengatur strategi bagaimana individu berinteraksi dengan orang lain. Persepsi yang timbul pada orang lain merupakan hasil dari cara individu berkomunikasi, strategi komunikasi ini sangat penting karena mencerminkan bahwa individu memiliki kebebasan untuk mengatur hidupnya, kebebasan dalam batasan struktural tertentu, seperti kelas sosial, tingkat usia, jenis kelamin dan etnik tertentu, namun akan memiliki gaya hidup yang berbeda-beda.
Faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup menurut Widiastutik (1999) yaitu :
1)      Activity yaitu tingkah laku nyata dapat diobservasi (aktivitas)
(1)   Penampilan fisik yang berhubungan dengancara berpakaian
(2)   Pembelian produk-produk yang mahal
(3)   Penampilan yang selalu mengikuti mode
2)      Interest yaitu tingkah laku yang melatarbelakangi suatu pilihan perilaku
(1)   Takut dikucilkan teman atau lingkungannya
(2)   Biar dikatakan gaul dan tidak ketinggalan jaman
3)      Opinion yaitu reaksi lisan atau tulisan terhadap  pernyataan atau event tertentu.
(1)   Barang bermerek dapat meningkatkan harga diri
(2)   Suka jika menjadi pusat perhatian
Menurut Leda Poernomo (2004), gaya hidup yang menyangkut pilihan pekerjaan, makanan, mode pakaian dan kesenagan telah mengalami perubahan, dengan kepastian mengalirnya pengaruh kota-kota besar terhadap kota-kota kecil, bukan sapai ke desa. Bentuk-bentuk tradisional bergeser, diganti dengan gaya hidup global.
Menurut Sajogja (2002) gaya hidup dapat diartikan secara luas sebagai mode kehidupan yang didefinisikan dengan bagaimana orang menampilkan kepribadian melalui perilaku sebagai aktualisasi diri terhadap lingkungan yang ada disekitarnya.

2.      Tipe-tipe Gaya Hidup
Menurut Susianto (1999) bahwa tipologi gaya hidup merupakan gambaran idnetifikasi karakteristik yang dominant dan dengan diperkaya oleh aktifitas dan ciri-ciri yang dimiliki pada masing-masing tipe. Adapun tipe-tipe gaya hidup sebagai berikut :
1)      Tipe hura-hura, mereka adalah orang-orang yang selalu terlibat dengan orang lain. Ciri gaya hidup yang mencari kesenangan pribadi, individualis, tidak ambil pusing dengan urusan sekelilingnya. Tidak mempunyai prinsip dasar yang kuat, cenderung ikut-ikutan oleh karena itu mereka enggan terikat dengan rutinitas, serta dalam mengikuti kegiatan tidak ingin serius terlibat didalamnya.
2)      Tipe sportif, mereka adalah kelompok yang mempunyai kesenangan terhadap olah raga, energik, memiliki molitas dalam mencapai sesuatu yang tinggi ditunjang denganrasa percaya diri, supel dalam pergaulan dan mau menerima kritikan secara terbuka, senang tampil rapi dan menjadi pusat perhatian.
3)      Tipe sosial, mereka adalah kelompok yang suka terhadap roang lain. Untuk ini mereka lebih aktif dalam kegiatan yang bersifat sosial dan produktif, sampai pada mengisi waktu luangnya pada kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi diri maupun orang lain.
4)      Tipe rumahan, mereka adalah orang-orang yang mengisi waktu luang dengan berada di dalam rumah, kurang aktif pergaulannya dengan teman-teman sebaya. Dengan memiliki hobi membaca sehingga tergolong berpretasi tinggi, kurang menyukai keramaian dan kurang menyukai hal-hal yang baru, dan dalam mengambil keputusan lebih dahulu mempertimbangkan secara rasional.

3.      Pembentukan Gaya Hidup
Gaya hidup individu ditentukan oleh inferioritas-inferioritas khusus. Individu yang memiliki kelemahan fisik maka gaya hidupnya akan melakukan hal-hal yang menghasilkan fisik yang kuat. Individu yang bodoh akan berjuang mencapai superioritas intelektual yang tinggi (Widiastutik, 1999).
Menurut Yanti B. Sugarda (1995), sebagaimana yang telah disebutkan tentang tipe-tipe gaya hidup tidak seorang pun murni memiliki sifat-sifat tanpa tercampur dengan sifat lain, sehingga kecenderungan untuk menggunakan sifat tertentu pada suatu kesempatan akan tampak pula.

4.      Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Gaya Hidup
Menurut Yanti B. Sugarda (1995) bahwa fenomena baru tentang gaya hidup dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :
1)      Globalisasi informasi
2)      Menjamurnya media masa khususnya TV dengan segala atribut gaya hidup yang ditampilkan.
3)      Perkembangan mode.
4)      Meningkatnya ekonomi dan pendapatan masyarakat kota yang diiringi dengan membesarnya segmen menengah.
5)      Munculnya generasi muda hasil dari sukses orde baru yang membentuk gaya hidup sendiri.
6)      Menjamurnya mall, pasar swalayan, fast food, perangkat hiburan, ATM, kartu kredit, telepon genggam dan note book.
7)      Serta nilai-nilai baru dan kebiasaan konsumen yang baru (dalam Swa Sembada, 1995).

5.      Pengaruh Gaya Hidup Terhadap Interaksi Sosial
Menurut Sarwono (1992), gaya hidup seseorang dapat menyebabkan timbulnya selektifitas dan distorsi pada mental, karena gaya hidup ini berpengaruh terhadap tempat-tempat yang diketahui atau didatangi, gaya hidup antara individu satu dengan yang lain berbeda. Gaya hidup seseorang dipengaruhi oleh latar belakang lingkungan orang tersebut. Hal ini sangat terkait erat dengan interaksi tiap individu.
Menurut Ahmadi (1991) individu dalam mencari kenikmatan dalam hidupnya cenderung tidak lagi melihat masyarakat disekelilingnya apakah gaya hidup tersebut dapat diterima atau tidak.
Gaya hidup besar pengaruhnya pada tingkah laku seseorang, dimana setiap individu ingin mencapai superioritas yang diinginkan untuk membuktikan bahwa dirinya bisa seperti orang lain. Walaupun hal ini membutuhkan perjuangan yang sangat sulit dalam mencapainya (Widiastutik, 1999).


Menurut Soekamto (1997) mengatakan bahwa faktor imitasi mempunyai peran yang sangat penting dalam proses interaksi sosial. Salah satu segi positifnya adalah imitasi dapat mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku. Namun demikian imitasi mungkin pula mengakibatkan terjadinya hal-hal yang negatif, misalnya yang ditiru adalah tindakan-tindakan yang menyimpang, selain itu imitasi juga dapat melemahkan atau bahkan mematikan daya kreasi seseorang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#02 Konsep Memerangi Kejahatan Cybercrime dalam Perspektif Kriminiologi

Pengertian memerangi kejahatan sama dengan pengertian menanggulangi kejahatan. Dalam istilah kriminiologi penanggulangan kejahatan sering j...