KONSEP DASAR SEHAT DAN SAKIT
Sehat dan sakit adalah keadaan biospikososial yang menyatu dengan kehidupan manusia. Konsep “sehat” dan “sakit” merupakan bahasa kita sehari-hari, terjadi sepanjang sejarah manusia, dan dikenal di semua kebudayaan.
A. SEHAT DAN SAKIT
Sehat (health) adalah konsep yang tidak mudah diartikan sekalipun dapat kita rasakan dan diamati keadaannya. Misalnya, orang tidak dapat memiliki keluhan-keluhan fisik dipandang sebagai orang yang sehat.
Sebagai satu acuan untuk memahami konsep “sehat”, World Health Organitation (WHO) merumuskan dalam cangkupan yang sangat luas yaitu, “keadaan yang sempurna baik fisik, mental maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan/cacat”. Sehat bukan sekedar terbebas dari penyakit atau cacat. Orang yang tidak berpenyakitpun belum tentu dikatakan sehat. Semestinya dia dalam keadaan yang sempurna baik fisik, mental atau sosial.
Pengertian ini merupakan suatu keadaan ideal dari sisi biologis, psikologis dan sosial. Konsep “sakit” terkait dengan tiga konsep, dalam bahasa inggris yaitu disease illness dan sickness. Yang ketiga istilah ini mengandung pengertian yang berdimensi bispikososial. Disease berdimensi biologis, illness berdimensi psikologis, sickness berdimensi sosiologis (Calhoun, dkk, 1994).
Diaease penyakit berarti suatu penyimpangan yang simptomnya diketahui lewat diagnosis. Penyakit berdimensi biologis dan obyektif, bersifat independen terhadap pertimbangan-pertimbangan psikososial, tetap ada tanpa dipengaruhi keyakinan orang atau masyarakat terhadapnya.
Illness adalah konsep psikologis yang menunjuk pada persaan, persepsi, atau pengalaman subyektif seseorang tentang ketidaksehatannya atau keadaan tubuh yang dirasa tidak enak. Sebagai pengalaman subyektif, maka illness ini bersifat individual.
Sedangkan sicknesss meruoakan konsep sosiologis yang bermakna sebagai penerimaan sosial terhadap seseorang sebagai orang yang sedang mengalami kesakitan (illness atau disease). Dalam keadaan sickness ini orang dibenarkan melepaskan tanggung jawab, peran, atau kebiasaan-kebiasaan tertentu yang dilakukan saat sehat karena adanya ketidaksehaan.
Karena pengertian “sakit” itu dapat berdimensi subyektif-kulturalistik, maka setiap masyarakat memiliki pengertian sendiri tentang sakit sesuai dengan pengalaman dan kebudayaannya. Peran sakit hanya dapat dilakukan dan diakui oleh masyarakatnya jika sesuai dengan pertimbangan nilai, keyakinan norma sosialnya. Karena itu, suatu kesakitan yang dirasakan secara dan diakui oleh individu atau masyarakat tidak selalu dirasaskan secara sama oleh individu atau masyarakat yang lainnya (Lyttle, 1986; Pacther, 1994).
Relatifitas pengertian masyarakat tentang sehat dan sakit daoat dipahami beberapa hal antara lain:
1. Memahami kondisi sehat dan sakit
2. Memahami penyebab suatu kesakitan
3. Memberi kewenangan orang yang dapat menetapan kondisi sehat atau sakit
4. Merespon terhadap kesakitan aau simptomnya
5. Menetapkan klasifikasi kesakitan
Akibat dari perbedaan pemahaman tidak mudah menilai seseorang yang sehat atau sakit bedasarkan eksperimen, pengalaman, persepsi, penilaian, atau budaya sendiri. Karena dalm memberikan penilaian tentang sehat dan sakit perlu memperhatikan aspek biopsikososialnya.
Berdasarkan pengertian tentang sehat dan sakit secara singkat keadaan kesehatan itu:
1. Merupakan suatu pengertian (construct) yang samgat longgar yang dipahami berbeda oleh masyarakat
2. Bedasarkan kualitatif karena dapat dimengerti menurut perasaan dan persepsi
3. Keadaan yang bersifat kontinum karena posisinya berada pada dua titik ekstrem yang berlawanan, yaitu titik sehat pada satu sisi dan titik sakit pada sisi lain.
Secara sederhana rentang kesehatan ini tampilkan pada Gambar 1.1
Sakit sehat
|
Gambar 1.1 Rentangan Kesehatan
Implikasi dari konsep kesehatan sebagai kedaan yang kontinum menggambarkan bahwa kesehatan seseorang pada dasarnya dapat ditingkatan yang rendah ke tingkatan yang lebih tinggi, yaitu dari kondisi kurang sehat ke kondisi yang lebih sehat atau sebaliknya dari kondisi sehat menjadi keadaan yang kurang sehat, tergantung pada usahannya.
B. PERILAKU KESEHATAN
Peran yang harus dilkukan oleh seseorang sesuai dengan keadaan sehat dan sakit itu disebut health and sick roles. Orang yang sehat dituntut untuk melakukan peran-peran tertentu dan bertanggung jawab terhadap diri dan orang lain. Sementara orang yang sakit dituntut unyuk beperan sebagai orang yang sakit, dibebaskan dari tanggung jawab normalnya, bahkan tidak perlu bertanggung jawab terhadap diri dan orang lain (Calhoun, dkk, 1994).
Orang yang mengalami skizofrenia, depresi atau gangguan mental lainya dibebaskan dari tugas rutin kluarga, kewajiban bekerja, sama halnya dengan orang yang menderita sakit jantung. Kewajiban mereka adalah beristirahat atau mencari kesembuhan melalui cara-cara pribadi maupun cultural. Perilaku kesehatan itu dapat digambarkan polanya pada Gambar 1.2.
Pada dasarnya manusia terdiri dari dua subsistem, yaitu psikis (jiwa atau mental) dan fisik (soma atau badan). Kedua subsistem yang menyatu pafda manusia tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Psikis merupakanbagian dari manusia yang bersifat non material, yang hanya diketahui dari gejala-gejalanya, atau apa yang disebut dengan gejala p[sikis seperti dorongan (drive), motifasi (motivation), kemauan (willness), kognitif (cognition), kepribadian (persaonality) dan perasaan (feeling). Sedangkan fisik secara visual dapat dengan mudah diketahui dan diamati.
gejala Kesakitan )
Mempersepsi gejala-
gejala kesakitan
Terdapat perbaikan
(kesehatan mulai pulih)
Kerja sama dengan Dijumpai terdapat
Petugas kesehatan gejala-gejala sebagai
Untuk kesembuhan tanda kesakitan
Mencari nasihat dari
Petugas kesehatan
Gambar 1.2. Pola Kesehatan
Orang yang menderita depresi, gangguan kecemasan, gangguan kepribadian, dan sebagainya dapat diketahui dengan memahami gajala-gejala yang ada padanya. Pengetahuan masyrakat tentang kesehatan secara fisik lebih mendalam daripada pengetahuan tentang kesehatan mental. Bedasarkan gejala-gejala yang dijumpai krtidakwajaran dalam fungsi mental. Akhirnya orang memahami bahwa ada kesehatan dan sakit mental selain sehat dan sakit secara fisik. Kemajuan di bidang pengetahuan pada manusia menambah pengertian terhadap persoalan kesehatan mental beserta cara-cara mengatasi.
C. HUBUNGAN KESEHATAN FISIK DAN MENTAL
Fisik dan psikis adalah kesatuan dalam eksistensi manusia. Keadaan fisik manusia mempengarui psikis, sebaliknya psikis mempengarui keadaan fisik.
Hubungan antara kesehatan fisik dengan psikis dapat dibuktikanb dengan penelitian yang dilakukan Hall dan koleganya (1980). Dlam penelitian itu ditemukan bahwa di antara pasien yang sakit secara medis mrnunjukan adanya gangguan mental seperti depresi, gangguan kepribadian, sinddroma otak organic, dan lain-lain. Sebaliknya orang-orang yang dirawat karena gangguan mental juga menunjukan adanya gangguan secara fisik.
Penelitian yang menyanngkut hubungan gangguan fisik dan mental diperkuat oleh Goldberg, 1984 yang mencoba melakukan studi khusus tentang pengakuan gangguan psikiatrik oleh kalangan non-psikiater. Diungkap bahwa gangguan psikiatris adalah umum terjadi pada psien-pasien yang mengalami sakit (fisik) dan pasien yang menkalankan operasi pembedaahan. Dia mengemukakan, sekitar 20% sampai 40% pasien-pasien yang mengaku sakit secara fisik ternyata dapat didiagnosa mengalami gangguan mental, meskipun mayoritas di antara mereka mempeoleh perhatian. Hal ini sejalan dengan penelitian Vogt dan kawan-kawannya (1994) tentang status kesehatan mental sebagai predator morbidiatas.
Goldberg (1984) menggungkapkan terdapat tiga kemungkinan hubungan antara sakit secara fisik dan mental ini.
1. Orang yang mengalami sakit mental disebabkan oleh sakit fisikntya. Karena kondisi fisiknya tidak sehat, dia tertekan sehingga menimbulkan aakibat sekunder berupa gangguan secara mental.
2. Sakit fisik yang diderita itun sebenarnya gejala dari adnya gangguan mental.
3. Antara gangguan mental dan sakit secara fisik adannya saling menopang, artinya bahwa orang menderita secara fisik menimbulkan gangguan secara mental, dan gangguan mental itu turut memperarah sakitnya.
Jelaslah bahwa keshatan fisik dan kessehatan mental saling berhubungan, artinya jika satu terganggu akan membawa pengaruh kepada bagian yang lain. Hubungan antara keduanya sangat kompleks meskipun tidak dapat dinyatakan bahwa satu aspek menentukan yang lainnya (Cutting, 1980).
D. GANGGUAN DAN DEVIASI
Gangguan merupakan konsep medis (dan psikkologis), sementara deviasi adalah konsep social. Seseorang akan dikatakan mengalami gangguan jika secara klinis dijumpai terdapat suatu penyakit, ketidaknormalan, atau terganggunya fungsi tertentu (fisiologis, psikologi). Deviasi menunjukan pada norma social, bahwa orang yang deviasi jika melakukan tindakan yang menyimpang dari norma masyarakatnya.
E. SEHAT DAN NORMAL
Normal mengandung beberapa pengertian. Survei yang dilakukan Offer dan Sabsiro ditemukan terdapat lima pengertian normalitas yaitu:
1) tidak adanya gangguan atau kesakitan;
2) keadaan ideal atau keadaan mental yang positif;
3) normal sebagai rata-rata pengertian statistic;
4) diterima secara sosial; dan
5) proses berlangsung secara wajar, terutama dalam tahapan perkembangan.
Secara antropologis, Ackerknecht menyatakan bahwa perilaku dibedakan dalam empat ketegori yaitu :
1) autopathological;
2) autonormal;
3) heteropathological;
4) heteronormal.
Didasarkan klasifikasi pengertian normal atau kategori perilaku di atas, maka istilah normal tidak selalu berarti sehat. Sehat lebih bermakna pengertian khusus, yaitu keadaan yang ideal atau keadaan mental yang positif.
F. KESIMPULAN
Sehat dan sakit merupakan gejalah universal. Sehat mengandung pengertian keadaan yang sempurnah secara biopsikososial. Sakit juga mengandung makna biopskososial. Yang meliputi konsep disease (berdimensi biologis), illness (berdimensi psikologis) dan sickness (berdimensi sosiologis).
Kesehatan pada prinsipnya berada pada rentangan yang kontinum, yaitu di antara titik yang benar-benar sakit dan titik benar-benar sehat. Kesehatan secara fisiologis berhubungan dengan kesehatan mental, dan keduanya tidak saling menentukan.
Sehat berbeda pengertiannya dengan normal. Kedua istilah ini sering dimaknakan sama, tetapi sebenarnya memiliki pengertian yang berbeda. Hal serupa juga berlaku untuk konsep gangguan dan deviasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar