Penjelasan dan Pengertian Ketergantungan Obat / Narkoba / Drugs

KETERGANTUNGAN DRUGS

1.      KETERGANTUNGAN OBAT (Drug Psychosis) psikosa akibat obat bius.
Ketrgantungan obat telah menjadi masalah yang besar, komplkes dan sukar diberbagai negara. Sejak dulu, obat-obatan  telah digunakan untuk mendapatkan efek psikologisnya untuk merangsang atau menenangkan, menyebabkan mengantuk atau mencegah mengantuk.
Seperti diketahui obat-obatan  tertentu dan minuman yang mengandung alkohol mempunyai dampak terhadap sistem syaraf manusia yang menimbulkan berbagai perasaan. Sebagain dari obat-obatan itu meningkatkan gairah, semangat dan keberanian namun sebagai lagi menimbulkan perasaan mengantuk dan yang lain dapat menyebabkan rasa tenag dan nikmat sehingga bisa melupakan segala kesulitan. Oleh karena efek-efek itulah beberapa remaja menyalahgunakan obat-obatan dan alkohol. Tetapi sebagaimana semua orang pun tahu, obat-obatan dan alkohol dalam dosis yang berlebihan dapat membahayakan jiwa orang yang bersangkutan. Padahal sifat obat dan alkohol itu antara lain adalah menimbulkan ketergantungan (kecanduan) pada pemakainya. Makin sering ia memakai obat atau meminum minuman beralkohol, maka makin besar ketergantungannya sehingga pada suatu saat tidak bisa melepaskan diri lagi. Pada tahap ini remaja yang bersangkutan bisa menjadi kriminal untuk sekedar memperoleh uang guna membeli obat atau minuman keras.
Menyadari akan bahaya penyalahgunaan obat dan alkohol ini, hampir pemerintah di seluruh dunia memiliki undang-undang anti narkotika dan alkohol. Berbagai upaya dan tindakan (oleh aparat keamanan dan hukum) juga telah dilakukan untuk memberantas sindikat-sindikat pembuat dan pengedar obat terlarang dan alkohol yang tak berizin.
Istilah ketergantungan obat memunyai arti yang lebih luas dari pada istilah ketagihan atau adiksi obat. Dalam hal ini W. H. O. Memberikan suatu definisi  ketg=agihan sebagai berikut :
Ketagihan obat ialah suatu keadaan keracunan yang periodik atau menahun, yang merugikan individu sendiri dan masyarakat yang disebabkan oleh penggunaan suatu obat (asli atau suntik) yang berulang-ulang dengan ciri-ciri sebagai berikut, yaitu adanya :
a.       Keinginan atau kebutuhan yang luar biasa untuk meneruskan penggunaan obat itu dan usaha mendapatkannya dengan segala cara.
b.       Kecenderungan menaikkan dosis.
c.       Ketergantungan psikologis (emosional) dan kadang-kadang juga ketergantungan fisik pada obat itu (W. F. Maramis, 1980, hal. 325)

2.      Sebab- Musabab
a.       Faktor kepribadian seseorang mempengaruhi apakah ia akan tergantung pada suatu obat atau tidak. Orang yang merasa tidak mantap serta mempunyai sifat ketergantungan dan psif lebih cenderung menjadi tergantung pada obat.
b.       Faktor sosio-budaya juga tidak kalah penting dan saling mempengaruhi dengan faktor kepribadian. Di Indonesia rupanya lebih banyak penderita ketergantungan obat berasal dari golongan sosio-ekonomi menengah (karena perkembangangolongan itu yang pesat sehingga lebih mengangu kestabilan individu dan keluarga).
c.       Faktor fisik atau badaniah seseorang menentukan efek fisik obat itu seperti hilangnya rasa nyeri dan ketidak-enakan badaniah yang lain, berkurangnya dosongan seksual, rasa lapar an mengantuk atau justru berkurangnya hambatan terhadap dorongan-dorongan.
d.       Faktor kebiasaan yang dikemukakan dalam “hipotesa kebiasaan bekerja” sebagai berikut : karena obat itu mengurangi ketegangan dan perasaan tidak enak, maka kebiasaan diperkuat dengan tiap kali pemakaian (penguatan positif atau “positif reinforcement”).

Ketergantugan obat merupakan hasil saling pengaruh mempengaruhi yang kompleks berbagai faktor tersebut di atas ditambah dengan tingkat kesulitan obat itu diperoleh dan kesempatan untuk menggunakannya. Pemberian obat oleh dokter dapat menimbulkan ketergantungan juga. (W. F. Maramis, 1980, hal. 325)
Sebab-sebab orang menggunakan obat-obat bius ini ialah adanya usaha untuk melarikan diri dari konflik-konflik bathinnya dan maladjusment, atau melarikan diri dari kegagalan-kegagalan dan kelemahan-kelemahan sendiri. Lalu ingin menikmati dunia imaginer yang indah dan nikmat. Dengan jalan menelan atau menyedot atau menyuntikan obat-obat bius tersebut. Dalam hal ini penderita mengalami peristiwa “psychic dependence” atau ketergantungan psikis. Kebiasaan atau “rasa haus” atau rasa kecanduan yang selalu dirasakan oleh si penderita dengan menggunakan obat bius, dimaksudkan untuk meredusir kesakitan-kesakitan fisik dan kepedihan psikis, atau kekecewaan-kekecawaan yang tengah ditanggungnya. (Kartini Kartono, 1989, hal. 144)

3.      Drug Psychosis (psikosa akibat obat bius)
Drug sering disebut sebagai “obat bius”, drug psychosis ini disebabkan oleh ganja, mariyuana, cocaino, barbiturale (pil tidur), amphetamine, LSD, candu, morphin dan heroin.
Ganja dijual dalam bentuk daun-daun yang dikeringkan, kemudian disayat-sayat dalam rajangan dan dicampurkan dengan tembakau atau rokok.
Ganja adalah zat yang pekat tapi bisa melekat (klevering), rupanya hitam kecoklat-coklatan. Biasanya madat atau candu ini disebut, yaitu diisi dengan sebuah alat semacam pipa yang panjang, sambil menyanding sebuah pelitaa untuk menyalakan pipa tersebut jika mati. Morphin berasal dari candu, candu sebagai bahan narkotik bisa mengurangi kesakitan dan keresahan hati, juga menyebabkan orang tidur nyenyak sekali yang sebelumnya didahului oleh kegairahan mental dan kegembiraan. Tapi pada saat bangun tidur, si pecandu bisa menderita sakit kepala, merasa mual dan muntah.
Penggunaan secara habitual (sebagai kebiasaan) candu atau morphin, mengakibatkan ketagihan khronis, juga ada dependensi fisik dan psikis. Penggunaan candu sesuai dengan petunjuk dokter dimaksudkan untuk mengurangi segala macam rasa sakit (kecuali sakit pada radang otak).
Heroin yang rasanya sangat pahit diisap dengan indra penciuman (inhaled, disedot melalui hidung) dalam bentuk bubuk. Atau injeksi dalam bentuk cairan dengan jarum hypodermik, dekat dibawah kulit. Penyuntikan secara demikian disebut “popping” atau diinfesikan dalam urat darah atau secara intra venous.
Jika penyuntikan heroin ini tidak dihentikan, si pasien akan mengalami apa yang disebut orang “cold turkey” dengan gejala sebagai berikut : muntah-muntah, berkeringat banyak, merasa sakit, nyeri hebat di seluruh badan, menjerit-jerit karena merasa sulit dan takut yang sangat, dan merasa seperti dipuncak siksaan dunia seperti menghadapi sekaratul maut. Diikuti pula dengan impian-impian dan ilusi-ilusi yang menakutkan. Lalu timbul gejala sutisme, dalam hal ini penderita mengalami “physical dependece” atau kertegantungan fisik.

4.      Simptom-simptom akibat penyalahgunaan candu, ganja, LSD, morphine dan heroin antara lain adalah :
1)     Simptom Fisik : hilang nafsu makannya, dan pasien selalu merasa kehausan. Ada gangguan pencernaan makanan; tidak bisa buang air besar sampai pada diare, mata dan hidungnya terus saja berair, mengalami kejang-kejang atau gerakan-gerakan rytmis pada otot-otot, sering muntah-muntah, kulit, rambut dan mulutnya selalu kering, bibirnya berwarna biru dan kering, bola matanya menjadi mengkerut. Rambutnya jadi rontokm badan dan otot-ototnya bergemetaran. Tak bisa tidur, walaupun selalu merasa dan capai sekali, senantiasa gelisah dan bingung.
2)     Simptom-simptom psikis :
-          Tidak mampu mengadakan konsentrasi. Jadi pelupa, pikun, kehilangan ambisi-ambisi dan hilang segenap aktivitasnya.
-          Tidak bertanggung jawab, tidak bisa mengadakan adjusment.
-          Dipenuhi rasa ketakutan, kepedihan, halusinasi-halusinasi yang tidak menyenangkan, dihinggapi euphoria delussion of persecution (merasa dikejar-kejar( merasa putus asa. Dan sering timbul hasrat yang sangat kuta untuk bunuh diri.
-          Karena rasa hausnya yang terus-menerus pada obat-obat bius itu, maka orang cenderung untuk menjadi jahat, lalu melacurkan diri, mencuri, menipu, merampok, atau membunuh dalam usahanya mendapatkan uang guna membeli obat-obat bius.

5.      Simptom-simptom akibat Co caine :
-          Simptom fisik :
Otot jadi lemah, ada gangguan pencernaan makanan, timbul rasa geli dan gatal-gatal seperti dirayapi binatang-binatang kutu busuk pada seluruh kulitnya.
-          Simptom psikis :
Ø  Menjadi overactive, terus berbicara atau talkactive dan selalu gelisah.
Ø  Dihinggapi halusinasi-halusinasi yang cepat berganti. Adapula perasaan “tenang dan damai” yang menjrus pada rasa putus asa, kadang-kadang ada simptom-simptom yang mengasingkan diri.
Ø  Disertai ketakutan-ketakutan yang kronis, ada delusi-delusi afleisme atau delusi-delusi iri hati dan cemburu.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#02 Konsep Memerangi Kejahatan Cybercrime dalam Perspektif Kriminiologi

Pengertian memerangi kejahatan sama dengan pengertian menanggulangi kejahatan. Dalam istilah kriminiologi penanggulangan kejahatan sering j...