Hubungan Sewaktu Menjadi Kekasih sampai Menjadi Pasangan Hidup Studi Psikologi
Hubungan Akrab: Kekasih
Di dalam suatu hubungan yang berkembang, satu atau kombinasi dari aspek-aspek ini (percintaan, cinta, dan keintiman) pada akhirnya dapat diketahui, mungkin aspek-aspek tersebut terjadi secara bersamaan atau berurutan.
Percintaan:
Percintaan bukanlah sekedar hubungan pertemanan. Percintaan atau hubungan romantis mencakup pula keintiman fisik, yang dapat didefinisikan sebagai ketertarikan seksual hingga derajat “tertentu” (sangat tidak suka, agak tidak suka, netral, tidak suka, sangat suka). Keintiman fisik dimaksud barangkali bisa meliputi bergandengan tangan, memeluk, atau berciuman, namun bisa juga meliputi interaksi sosial yang lebih eksplisit, mulai dari cumbuan hingga hubungan seks.
Pertemanan dan Percintaan: Persamaan dan Perbedaannya
Ketertarikan romantis (percintaan) dalam beberapa hal sama seperti ketertarikan interpesonal yang lain. Orang-orang yang mencari hubungan romantis seringkali mengambil langkah tambahan yang disengaja untuk bertemu orang lain dibanding-kan untuk bertemu teman. Percintaan (romance) mungkin saja terjadi sebagai hasil dari: kedekatan, bangkitnya afek, motivasi untuk memiliki hubungan, keyakinan mengenai karakteristik yang dapat diamati mengenai orang lain, dan rasa saling suka.
Umumnya kita menyukai teman yang mengenali dan menerima diri kita dengan cukup baik, namun tidak demikian dengan percintaan (paling tidak pada awalnya). Untuk percintaan, pada awalnya, dua orang tidak mencari ketepatan sebanyak mereka mencari penerimaan, dalam arti, mereka ingin menyukai dan disukai tanpa syarat. Penilaian satu sama lain sering kali tidak realistik, karena setiap individu ingin percaya bahwa ia telah menemukan pasangan yang sempurna dan ingin umpan balik yang tidak rumit. Ini berarti, salah satu cara untuk memahami percintaan adalah dengan menyadari bahwa percintaan dibangun sebagian berdasarkan khayalan dan ilusi yang positif. Ilusi ini tampaknya turut membantu menciptakan hubungan yang lebih baik.

Apa itu Cinta?
Cinta (love) adalah salah satu tema paling umum dalam lagu, film atau drama, dan dalam kehidupan sehari-hari. Cinta merupakan pengalaman manusia yang paling umum. Sebagian, cinta adalah reaksi emosional yang sama dikenalnya dan sama mendasarnya dengan rasa marah, kesedihan, kegembiraan, dan rasa takut (Shaver, Morgan, & Wu, 1996). Aron & Paris (1995) menemukan bahwa jatuh cinta mendorong terjadinya peningkatan self-efficacy dan self-esteem.
Pengertian:
Detil spesifik dari apa yang dimaksud dengan cinta berbeda dari budaya yang satu ke budaya lainnya (Beall & Sternberg, 1995) namun ada alasan untuk percaya bahwa fenomena umum ini adalah universal. Setidaknya, penelitian menunjukkan bahwa cinta adalah sesuatu yang lebih dari sekedar pertemanan biasa dan melebihi rasa tertarik secara romantis atau seksual dengan seseorang.
Baron & Byrne (2005:25) mengartikan cinta sebagai suatu kombinasi emosi, kognisi, dan perilaku yang dapat terlibat dalam hubungan intim.
Cinta : Membuat Komitmen
Salah satu elemen kognitif yg mem-bedakan cinta dari pertemanan, per-cintaan biasa, atau kedekatan sek-sual adalah adanya komitmen.
Seperti diindikasikan wanita pada gambar ini, pasangannya (Laurens) harus menentukan apakah ia serius mengenai hubungan mereka.
Cinta Membara:
Banyak orang jatuh cinta, tetapi tidak ada yang “jatuh berteman”. Cinta membara (passionate love), lebih dari sekedar berteman, ketertarikan, atau bahkan percintaan. Cinta membara melibatkan reaksi emosional yang intensif dan seringkali tidak realistik terhadap orang lain. Seringkali pula cinta itu muncul secara men-dadak, seperti “terpeleset kulit pisang”. Pengalaman ini digambar-kan sebagai “mabuk cinta”.
Cinta membara biasanya timbul sebagai reaksi positif yang segera, berlebihan, menggelora, dan menghabiskan energi, terhadap orang lain – suatu reaksi yang dirasakan seolah-olah melebihi kuasa Anda, seperti kecelakaan yang tak teramalkan sebelumnya. Orang yang mengalami emosi ini biasanya meng-interpretasikannya sebagai cinta sejati, namun pengamat dari luar menamainya sebagai “kegilaan”.
Secara keseluruhan, cinta membara merupakan campuran antara ketertarikan seksual, keterangsangan fisiologis, hasrat untuk dekat secara fisik, dan kebutuhan yang intensif untuk dicintai sebagaimana Anda mencintai – semua ini ditemani oleh rasa takut berulang-ulang bahwa sesuatu dapat terjadi untuk mengakhiri hubungan tersebut.
Tidak mudah untuk menjelaskan mengapa manusia mengalami cinta? Psikoanalisis mungkin memandang cinta hanya sebagai khayalan kolektif yang dimiliki oleh kebanyakan individu. Sementara teori evolusi (sebagaimana disinggung pada pertemuan minggu lalu) menekankan kelangsungan hidup terkait keberhasilan reproduksi, di mana daya tarik seksual dan kesediaan menginvestasikan waktu dan usaha dalam memberi makan dan melindungi anak-anak mereka merupakan faktor yang utama. Disamping itu, hal lain yang perlu dikaji adalah adanya pengaruh budaya, ajaran keagamaan, dan bahkan hukum yang diterapkan masyarakat, yang juga memiliki kemampuan untuk mengatur “nafsu dan komitmen” menjadi lebih bervariasi dan spesifik.
Cinta Bisa Jadi suatu Hal yang Semarak
Cinta membara (passionate love), terlalu meluap-luap. Cinta yang didasarkan sepenuhnya pada emosi seperti itu adalah cinta yang rapuh, karena lebih didasarkan pada khayalan daripada detil-detil yang rasional. Namun demikian, jenis-jenis cinta yang lainnya dapat bertahan lama, misalnya cinta karib (companionate love), yang dapat dimaknai sebagai, “afeksi yang kita rasakan terhadap orang-orang yang sangat dekat kaitannya dengan hidup kita.”
Hendrick & Hendrick (1986, dalam Baron & Byrne, 2005:28) memperluas konsep cinta dengan menambahkan lagi empat “jenis cinta” dalam istilah Yunani, yakni:
o Eros: cinta membara (passionate love)
o Storge: cinta karib (companionate love)
o Ludus: cinta main-main (game-playing love)
o Mania: cinta posesif atau menuntut (possesive love)
o Pragma: cinta logika (logical love)
o Agape: cinta yang tidak mementingkan diri sendiri (selfless love)

Hubungan Akrab: Pasangan Hidup
Pernikahan sepasang kekasih yang kemudian disebut sebagai pasangan hidup adalah hubungan akrab yang paling utama. Faktanya, sebagian berhasil namun tidak sedikit pula yang gagal. Keberhasilan dan kepuasan pernikahan dapat ditinjau dari:
o Kesamaan
o Kesamaan yang diasumsikan
o Faktor Kepribadian
o Seks dalam Pernikahan
Kesamaan dan Kesamaan yang Diasumsikan
Beberapa penilitian menunjukkan secara konsisten bahwa pasangan hidup memiliki kesamaan dalam sikap, nilai-nilai, minat, dan atribut lainnya. Kesamaan yang lebih besar diasosiasikan dengan hubungan yang positif (Acitelli, Kenny, & Weiner, 2001; Nemecheck & Olson, 1999), bagi pasangan yang memikirkan pernikahan secara serius, akan baik jika berpikir di luar daya tarik fisik dan seks untuk melihat secara dekat kesamaan dan ketidak-samaan mereka.
Bukan hanya orang-orang serupa yang menikah, namun hubung-an yang positif juga dikarakterisasikan dengan “kesamaan yang diasumsikan (assumed similarity).
Kesamaan yang diasumsikan adalah sejauhmana dua orang percaya bahwa mereka serupa pada hal-hal tertentu, dan sebaliknya bukan dengan sejauhmana mereka pada kenyataannya serupa.
Pasangan pernikahan lebih mengindikasikan kesamaan yang sesuai dengan kenyataan (artinya, lebih sedikit kesamaan yang diasumsikan), daripada pasangan kencan. Hal ini memberi kesan bahwa banyak pasangan pernikahan membuat keputusan yang relatif bijaksana dan realisitis sebelum memutuskan untuk menikah.
Menurut Davis & Rusbult (2001), memang benar, jika dua orang yang berkomitmen pada suatu hubungan cenderung menggeser sikap mereka menuju kesamaan yang makin besar → memperkecil kesamaan yang diasumsikan.
Kesamaan yang diasumsikan “paling tinggi” pada pasangan kencan - kemungkinan mencerminkan ilusi romantis.
Faktor Kepribadian
Kesamaan bukanlah segalanya, sebab disposisi kepribadian yang spesifik juga terkait dengan berhasil tidaknya pernikahan. Contoh orang yang narsisme (narcissism) yang ekstrem, mereka merasa superior dibandingkan dengan sebagian besar orang, mencari pujian, sensitif terhadap kritik, kurang dapat berempati terhadap orang lain, dan eksploitatif. Artinya, pasangan seorang yang narsisme bukanlah yang memiliki kesamaan (narsisme juga), tetapi pasangan yang bisa memujinya, bukan yang menawarkan keintiman emosional.
Karakteristik kepribadian lainnya yang berkaitan dengan keber-hasilan/kepuasan pernikahan adalah kecemasan, afek negatif, neurotisisme, karena hal ini berkaitan dengan negativitas inter-personal.
Menurut Robins, Caspi, & Moffitt (2000), orang-orang merasa paling bahagia dengan hubungan di mana pasangan mereka cenderung tidak mengekspresikan emosi negatif seperti rasa takut, kecemasan, dan rasa marah.
Pasangan hidup yang negatif dapat dengan mudah membuat hubungan menjadi negatif.
Seks dalam Pernikahan
Survey terhadap pasangan yang menikah menunjukkan bahwa interaksi seksual menjadi lebih tidak sering seiring dengan berjalannya waktu, dan bahwa penurunan yang paling cepat terjadi selama empat tahun pertama pada pernikahan (Udry, 1990)
41% dari semua pasangan pernikahan melakukan hubungan seks dua kali seminggu atau lebih sering, sementara hanya 23% individu lajang yang melakukan hubungan seks sesering itu.
Interupsi → itu penelitian di USA, bagi yang penasaran silakan melakukan penelitian di Indonesia.
Penelitian lain (Laumann et. al., 1994; Michael et. al., 1994) membuktikan bahwa pasangan yang paling aktif secara seksual adalah mereka hidup bersama tetapi tidak menikah (cohabiting alias kebo kumpul), 56% mereka melakukan hubungan seks paling sedikit dua kali seminggu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar