Pengenalan dan Pendidikan Seks Ditinjau dari Sudut Pandang Ilmu Psikologi


Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya jangan lupa follow :
1. Instagram saya : https://www.instagram.com/jeffy_louis_xiii/
2. Youtube saya : https://www.youtube.com/channel/UCPP1vMvrF-dCcLYyko1Prqw?view_as=subscriber


1.       PENDAHULUAN

Ketika mendengar kata “seks”, secara otomatis pikiran kita terpaku pada sesuatu milik orang dewasa atau juga remaja. Hampir tidak pernah orang menghubungkan kata “seks” dengan anak-anak. Seolah-olah manusia sebagai makhluk seksual baru dimulai setelah menjadi remaja atau dewasa. Seolah-olah sebelum masa itu, manusia sebagai makhluk a-seksual. Padahal sesungguhnya sejak awal manusia sebagai makhluk seksual. Sejak dini tanda0tanda adanya kehidupan seksual telah tampak, bahkan dapat dianggap cukup jelas.

Acapakali kita tidak menyadari kehidupan seksual berkembang sesuai dengan perkembangan fisik dan psikis kita. Acapkali kita menggangap, urusan seks hanya urusan orang dewasa saja. Anak-anak dan remaja tidak boleh tahu sama sekali tentang seks. Oleh karena itu, kalau ada seorang anak atau remaja bertanya tentang seks, reaksi orang tua pada umumnya negatif. Ada perasaan takut mengapa anaknya bertanya tentang hal tersebut. Adapula muncul perasaan tidak senang mengapa anaknya menyinggung hal yang dianggap milik orang dewasa. Atau timbul anggapan anaknya telah jatuh kedalam dosa karena berani bicara tentang seks, yang seharusnya hanya diketahui oleh orang dewasa. Reaksi yang lain dapat berupa kemarahan, bahkan disertai dengan kekerasan fisik.

Seksualitas manusia berkembang sejak masa bayi, anak-anak, remaja dan dewasa. Perkembangan ini sesuai dengan perkembangan fisik dan psikologis seseorang. Gangguan perkembangan psikoseksual pada masa anak-anak dapat menimbulkan gangguan seksual pada masa berikutnya yaitu pada masa remaja. Demikian pula gangguan seksual pada masa remaja dapat menimbulkan gangguan seksual pada masa dewasa.

Masalah seksual yang muncul dikalangan remaja bahkan orang dewasa banyak yang disebabkan dari ketidak mengertian tentang apa itu seksualitas yang benar. Banyak remaja yang menerima informasi seksualitas yang tidak benar, bahkan menyesatkan antara lain dari gambar porno, video porno, laser disc porno dan internet. Sementara disisi lain, orang tua tidak menjadi sumber informasi yang benar tentang seksualitas bagi putra-putrinya.

Ketidakselarasan antara perkembangan fisikoseksual dan psikoseksual, dapat mengakibatkan gangguan dalam kehidupan seksual. Misalnya, secara fisik perkembangan seksual menuju ke arah pria, sedangkan secara psikis perkembangan seksual menuju ke arah wanita. Dalam keadaan seperti ini, manusia akan mengalami konflik antara organ seksualnyayang pria dan jiwanya yang merasa wanita. Oleh sebab itu dengan adanya pembahasan dari makalah ini kita mencoba menyimpulkan kira-kira pendidikan seks yang bagaimana yang diperlukan oleh putra-putri kita, baik pada usia anak, remaja dan dewasa.


2.       APA YANG DIMAKSUD DENGAN PENDIDIKAN SEKS

Ada dua kata yang perlu kita pahami, yaitu kata “pendidikan” dan “seks”. Menurut kamus, kata “pendidikan” berarti proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha pendewasaan melalui upaya pengajaran dan latihan. Sedangkan kata “seks” mempunyai 2 pengertian :
·         Pertama, berarti jenis kelamin.
·         Kedua, adalah hal ikhwal yang berhubungan dengan alat kelamin.

Pendidikan seks sebenarnya mempunyai pengertian yang jauh lebih luas, yaitu upaya memberikan pengetahuan tentang perubahan biologis, psikologis dan psikoseksual sebagai akibat pertumbuhan dan perkembangan manusia. Dengan kata lain, pendidikan seks pada dasarnya merupakan upaya untuk memberikan pengetahuan tentang fungsi organ reproduksi dengan menanamkan moral, etika, serta komitmen agama agar tidak terjadi “penyalahgunaan” organ reproduksi tersebut. Dengan demikian pendidikan seks ini juga disebut sebagai pendidikan kehidupan keluarga.

Menurut Baron dan Byrne, sikap memiliki 3 komponen yaitu aspek kognitif, aspek afektif dan aspek konatif. Dimana 3 komponen sikap ini akan selalu berperan didalam proses pendidikan yang melibatkan proses belajar. Untuk dapat memahami, menghayati dan bersikap positif terhadap pendidikan seks diperlukan 3 aspek tersebut. Misalnya dari sudut kognitif : bagaimana seseorang memiliki informasi mengenai masalah yang berhubungan dengan seksualitas.
Dari sudut afektif : bagaimana seseorang itu memandang “masalah seksualitas” dari sudut dirinya; apakah tahu, berdosa, quilty feeling atau “free seks”. Sedangkan dari sudut konatif adalah bagaimana orang tersebut akan bersikap atau bertingkah laku, apakah bertingkah laku yang sesuai dengan norma-norma agama atau “kumpul kebo”.
Pendidikan seks tidak dapat dipisahkan dari agama bahkan harus sepenuhnya dibangun diatas landasan agama. Dengan mengajarkan pendidikan seks yang demikian, diharapkan akan terbentuk manusia dewasa yang bertanggung jawab, baik pria dan wanita, sehingga mereka mampu bertingkah laku yang sesuai dengan jenisnya dan bertanggung jawab atas kesucian dirinya serta dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan disekitarnya.

3.       KEPADA SIAPA PENDIDIKAN SEKS DIBERIKAN

Pendidikan seks perlu diberikan sedini mungkin, yaitu pada masa kanak-kanak dan seterusnya berlangsung hingga usia remaja. Karena kedua masa ini merupakan landasan utama bagi perkembangan seksualitasnya dimasa dewasa.

Untuk membahas bab ini kita perlu memahami dahulu mengenai karakteristik seksualitas anak, remaja dan dewasa.
·         Pada awal masa kanak-kanak (2-6 tahun)
Keingintahuan mengenai asal usul bayi sangat besar pada anak-anak dan mereka banyak bertanya mengenai masalah ini. Banyak anak memperlihatkan minat mereka terhadap seks dengan membicarakannya bersama teman-teman bermain atau orang dewasa. Pada masa ini mula-mula anak belajar bahwa anak laki-laki dan anak perempuan dibagi menjadi 2 golongan yaitu perempuan dan laki-laki. Pada saat yang bersamaan anak belajar bahwa ia sendiri adalah alki-alki atau perempuan. Kemudian dipelajari bahwa milik-milik tertentu, seperti pakaian, mainan, buku dan alat-alat permainan dianggap sesuai untuk kelompok tertentu dan tidak sesuai untuk kelompok yang lain. Anak mempelajari bahwa ciri kepribadian tertentu dan pola perilaku diasosiasikan dengan seks jenis tertentu.

·         Pada akhir masa kanak-kanak (6-12 tahun)
Anak inigin mengetahui lebih dalam mengenai hubungan antara kedua jenis seks, peran ayah dalam reproduksi dan proses kelahiran. Anak berusaha memperoleh informasi dari buku-buku atau teman-teman sebayanya.
Pada masa ini penggolongan peran seks berpengaruh pada perilaku dan penilaian diri anak-anak. Dalam penampilan, pakaian dan gerak-gerik, anak berusaha menciptakan kesan akan kesesuaian dengan peran seks. Pada saat duduk dikelas II, anak sudah sadar akan penampilan yang dianggap sesuai dengan peran seks.

·         Pada masa remaja (usia 13-18 tahun)
Karena meningkatnya minat pada seks, remaja selalu berusaha mencari lebih banyak informasi mengenai seks. Remaja yang mendapatkan informasi mengenai seks dari orang tuanya, hanya sedikit. Informasi yang mereka dapatkan secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang tua dapat mengakibatkan remaja berani untuk mencoba atau melakukan apa yang dilihat dan didapat oleh mereka.
Pada tahap ini organ-organ seksual remaja alki-laki dan perempuan telah matang, sehingga gejolak-gejolak rangsangan seksualnya semakin meningkat dan menyebabkan minat remaja terhadap lawan jenisnya menjadi sangat menonjol.
Anak remaja perlu diberi pendidikan seks  yang benar. Kalau tidak mereka akan mendapatkan pengetahuan tentang seks dari orang lain. Mungkin dari teman-temannya (yang sama-sama tidak tahu), dari buku-buku porno, tayangan film dan sebagainya. Apalagi saat ini informasi dari berbagai penjuru dunia sudah tidak dapat dibendung lagi. Semua infomasi itu masuk tanpa ada batas dan sering tidak sesuai dengan pola kehidupan dan adat istiadat orang timur.

·         Pada awal masa dewasa (18 tahun keatas)
Pada masa ini lebih banyak ditentukan oleh masa-masa sebelumnya. Bila pada masa sebelumnya tidak mengalami hambatan didalam penyesuaian seksualitasnya, maka individu tersebut berkembang menjadi manusia yang bertanggung jawab.

4.       BAGAIMANA PENDIDIKAN SEKS DIBERIKAN
·         CARANYA PENDIDIKAN SEKS DIBERIKAN

Kalau kita mengacu pada pengertian “pendidikan” itu sendiri maka yang perlu kita perhatikan adalah adanya perubahan sikap didalam memahami permasalahan yang berhubungan dengan seks (seksualitas).
Didalam sikap ada 3 aspek yang perlu kita perhatikan, yaitu masalah kognisi, afektif dan konasi. Ketiga aspek tersebut  harus diberi sentuhan yang tepat agar seseorang pada masa anak, remaja dan dewasa tidak mengalami penyimpangan seks (seksualitas).

-          Pada awal masa kanak-kanak (2-6 tahun)
Menurut Freud perkembangan psikoseksual anak dibagi menjadi beberapa fase, yaitu fase oral, fase anal, fase phalus dan fase laten. Fase Phalus, yang dialami anak pada usia 3-5 tahun, merupakan fase yang nyata menunjukkan bahwa anak-anak sudah mengenal alat kelamin sebagai daerah yang erotik.
Pada usia tersebut, anak-anak gemar memegang-megang atau menggosok-gosok alat kelaminnya, yang sebenarnya merupakan suatu bentuk masturbasi. Lalu apa yang harus dilakukan oleh orang tua?

Orang tua harus mengerti bahwa perbuatan itu adalah wajar, karena memang merupakan suatu fase dalam perkembangan psikoseksualnya. Orang tua pun harus  bersikap netral bila menyaksikan anaknya yang berusia 5 tahun sedang memegang-megang alat kelaminnya. Sikap marah atau tidak senang, dapat menimbulkan perasaan bersalah dalam diri anak. Atau dapat menimbulkan anggapan bahwa kelaminnya merupakan sesuatu yang tidak baik sehingga tidak boleh dipegang.

Apabila perbuatan itu dianggap berlebihan, orang tua dapat mengalihkan perhatian anak, misalnya dengan memberi sesuatu agar anak menjadi sibuk. Dengan demikian, perhatian anak dapat dialihkan tanpa menimbulkan kesan atau anggapan negatif terhadap alat kelamin.
Usia ini merupakan usia sekolah. Disekolah sebaiknya anak-anak juga menerima pendidikan seks dengan cara yang tentunya berbeda dengan dirumah. Apa yang mereka dapat disekolah akan saling melengkapi dengan apa yang pernah mereka denganr dari orang tuanya. Tentang kehidupan keluarga, misalnya anak belajar mengetahui struktur suatu keluarga.
Tujuannya agar anak dapat :
Ø  Mengenali struktur keluarganya, misalnya ada ayah, ibu, kakek, nenek, kakak laki-laki dan wanita, adik laki-laki dan wanita;
Ø  Mengetahui bagaimana anggota keluarga mengasihi dan saling membantu;
Ø  Mengetahui bagaimana perkembangan dirinya terjadi dalam lingkungan keluarga.

Pada usia 5 tahun, banyak anak yang bertanya lebih jauh tentang asal usul bayi. Maka orang tua atau guru harus dapat memberikan penjelasan secara aktif atau menjawab pertanyaan, misalnya “Sebelum ada di dalam rahim, bayi ada dimana?”. Orang tua bisa memberi jawaban dengan menganalogikan dengan kehidupan binatang. Melihat binatang yang baru melahirkan atau sedang melahirkan, merupakan pengalaman yang baik bagi anak-anak. Pasti akan muncul banyak pertanyaan sekitar kelahiran bayi binatang. Ini merupakan kesempatan yang baik bagi orang tua  untuk menyampaikan penjelasan.

Ada baiknya anak diberi kesempatan untuk melihat tubuh temannya yang sejenis. Perlu diberi pengertian bahwa aad kehidupan-kehidupan pribadi yang tidak boleh orang lain tahu, seperti anak harus tahu bahwa waktu mandi atau waktu buang air merupakan waktu yang bersifat pribadi. Orang tua harus memberi pengertian bahwa kamar tidur orang tuanya merupakan tempat yang bersifat pribadi. Jadi, kalau ingin masuk ke kamar orang tuanya, mereka harus mengetuk pintu dulu.

-          Pada akhir masa kanak-kanak (6-12 tahun)
Pada usia 7 tahun, muncul keinginan mengetahui tentang pertumbuhan bayi. Oleh karena itu, anak merasa senang bila ibunya hamil. Banyak pertanyaan yang mungkin sudah diajukan sehubungan dengan kehamilan yang dialami ibunya dan yang dilihatnya sendiri dalam bentuk pembesaran didaerah perut ibu. Untuk mempermudah pengertian anak, dapat ditunjukkan gambar bayi didalam kandungan.

Mengenai asal seorang bayi, biasanya anak pada usia ini sudah merasa cukup puas menerima jawaban bahwa bayi berasal dari sel telur ibu yang dibuahi oleh sel sperma ayah, dengan seijin Tuhan sebagai Sang Pencipta. Akan tetapi, ada saja anak yang ingin mengetahui lebih jauh, dengan mengajukan pertanyaan yang lebih jauh pula.
“Bagaimana caranya sel telur ibu dapat bertemu dengan sperma ayah?”
Pada umumnya orang tua merasa kesulitan untuk menjelaskan atau menjawab pertanyaan ini, karena khawatir jawabannya porno atau tidak tepat untuk anak-anak.

Disekolah anak menerima pelajaran lanjutan yang meliputi 5 topik, yaitu :
1.       Kehidupan keluarga
2.       Pertumbuhan pribadi
3.       Menghargai hidup
4.       Seksualitas ditinjau daru sudut ajaran agama
5.       Kehidupan sosial

Pada topik kehidupan keluarga, anak belajar mengetahui persamaan dan perbedaan antara kelaurga yang satu dengan keluarga yang lain. Juga mengetahui perdebedaan antara keluarga, tanaman dan binatang.
Penjelasan tentang reproduksi tanaman dan binatang akan memberikan pengertian betapa pentingnya dan menakjubkan proses produksi yang terjadi sehingga menghasilkan tanaman baru dan binatang baru.

Ditinjau dari sudut ajaran agama, anak seharusnya melihat proses reproduksi sebagai suatu Karya Sang Pencipta. Dari penjelasa topik-topik itu, anak mendapat pengertian yang lebih luas tentang seksualitas.

Pada usia 8 tahun, banyak anak wanita yang memilih teman sejenisnya untuk bermain. Bila melibatkan remaja atau orang dewasa itu mengalami penyimpangan seksual. Beri tahu anak agar bermain-main di tempat yang terbuka dan berhati-hati dengan orang yang tidak dikenal dengan baik.

Usia 7-10 tahun merupakan masa yang penting bagi anak untuk tumbuh dalam kemampuannya membuat keputusan sendiri. Oleh karena itu, orang tua tak boleh hanya sekedar melarang, tetapi harus mengarahkan sehingga anak dapat mengambil keputusan sendiri, yang tentunya diharapkan sesuia dengan isi larangan.
“Mengapa anak tidak boleh mengucapkan kata itu?”
(perkataan “kotor” yang berhubungan dengan alat kelamin)
“Ya, karena tidak baik didengar orang. Coba lihat Ayah dan Ibu tidak pernah mengucapkannya”.
“Tetapi teman-teman di sekolah mengucapkan itu.”
“Lalu kamu ikut-ikutan? Jangan ikut-ikutan yang tidak baik.”
“Tetapi mengapa Ayah dan Ibunya tidak melarang?”
“Itu terserah mereka. Yang jelas, Ayah dan Ibu tidak senang kami mengucapkan kata-kata itu, karena orang akan menganggap kamu tidak sopan.”
Disekolah mereka memperluas pengertian tentang bagaimana pengalaman dalam keluarga yang berpengaruh bagi perkembangan kepribadiaannya. Mereka pun mengevaluasi keberadaan mereka diantara teman-teman dan orang lain, untuk dapat menghargai kehidupan orang lain dan keterlibatannya dalam sosialisasi.

-          Pada Masa Remaja (12-18 tahun)
Pada usia ini orang tua harus menyadari bahwa anaknya memasuki gerbang masa remaja. Beberapa perubahan fisik mulai tampak. Anak wanita mengalami menstruasi, pertumbuhan payudara dan rambut di daerah kelamin. Dimana sebelum terjadi sebaiknya ibu sudah memberi tahu tentang akan terjadinya tersebut, agar anak tidak merasa terkejut atau takut ketika mengalaminya. Disamping itu anak diberi tahu bagaimana cara menggunakan alat pembalut wanita.

Pada usia ini laki-laki mengalami pertumbuhan dan perkembangan alat kelaminnya, seperti buah pelirnya membesar, rambut mulai tumbuh disekitar alat kelaminnya. Dan sudah saatnya anak diberi tahu, bahwa anak akan mengalami pengeluaran sperma ketika ia tidur.

Di sekolah, anak belajar tentang perasaan seksualnya yang sedang berkembang dan prinsip-prinsip pergaulan dengan teman dari lawan jenisnya. Mereka memperluas pengertian mengenai identitas diri. Mereka melihat bagaimana pentingnya pergaulan dengan teman laki-laki dan wanita sebagai bagian perkembangan pribadi. Anak memperdalam kesadarannya tentang hak dan kewajiban di dalam masyarakat. Mereka juga meyakinkan kembali peranan mereka di dalam keluarga dan melihat bagaimana hubungannya dengan orang tua, saudara dan keluarga lain yang berlangsung selama ini. Mereka pun perlu diberi tahu tentang hal-hal yang membahayakan dirinya, seperti narkotik, pergaulan bebas atau jenis kenakalan-kenakalan remaja yang lain. Kemudian mereka pun harus belajar membuat keputusan dalam menghadapi hal-hal tersebut.

Anak perlu diingatkan lagi tentang adanya penyimpangan seksual yang dialami orang-orang tertentu, seperti pedophilia, yaitu orang dewasa yang ingin memuaskan seksnya dengan anak-anak, demikian juga dengan kasus homoseksual atau biseksual atau lesbianisme, kasus perkosaan juga perlu disampaikan pada anak-anak remaja agar mereka, terutama remaja wanita lebih hati-hati berhadapan dengan laki-laki, baik yang sudah mereka kenal maupun yang tidak mereka kenal.

Di sekolah anak belajar lebih jauh tentang seksualitas dalam hubungannya dengan prinsip-prinsip agama, yang akan menolong mereka agar tumbuh menjadi orang dewasa yang matang dan bertanggung jawab. Termasuk di sini, antara lain bagaimana mereka bergaul lebih dalam mengenai lawan jenis tetapi tetap wajar dan positif, masalah-masalah yang timbul akibat hubungan seksual, dan memahami seksualitas sebagai suatu cara untuk menyatakan cinta kasih dan melanjutkan keturunan. Mereka mempelajari masalah-masalah yang bersifat menghargai kehidupan sebagai anugerah Tuhan, seperti pengguguran kandungan atau kekerasan yang mengancam hidup manusia, mereka harus mengerti tentang tanggung jawab yang perlu diberikan kepada lingkungan tempat dimana mereka hidup. Mereka mempelajari kembali nilai-nilai yang ada dalam keluarganya dan melihat bagaimana nilai-nilai ini akan menolong mereka kelak membentuk suatu keluarga sendiri.

·         OLEH SIAPA PENDIDIKAN SEKS SEBAIKNYA DIBERIKAN

-          Kedua orang tuanya yang paling bertanggung jawab terhadap pendidikan seks bagi putra-putrinya.
Caranya orang tua menciptakan suasana hormat, keakraban, keterbukaan, bukan ketakutan. Lingkungan dan suasana harus demikian rupa, sehingga anak dan remaja berani menanyakan apa saja  yang ingin mereka tanyakan tanpa ada rasa takut atau merasa dipermalukan.

-          Diberikan oleh guru melalui pelajaran agama dan biologi. Hal tersebut harus disesuaikan dengan usia anak didik dan tidak boleh dilepaskan dari nilai-nilai keagamaan.

-          Para ahli yang berkompeten didalamnya, seperti dokter, psikolog dan tokoh agama.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#02 Konsep Memerangi Kejahatan Cybercrime dalam Perspektif Kriminiologi

Pengertian memerangi kejahatan sama dengan pengertian menanggulangi kejahatan. Dalam istilah kriminiologi penanggulangan kejahatan sering j...