WAWANCARA
Selama ini secara tidak sengaja kita pernah terlibat dalam :
· Menanyakan atau mendapatkan informasi dari guru, dokter atau teman. ;
· Meminta bantuan konselor, pekerja atau orang tua
· Membeli atau menjual produk, jasa atau ide
· Menjawab pertanyaan survey lewat telephone atau di supermarket
· Membantu merekrut anggota organisasi atau kelompok tertentu
· Memberi saran kepada adik atau rekan
· Wawancara pekerjaan.
Definisi
A specialized pattern of verbal interaction initiated for a specific purpose and focused on some specific content area, with consequent elimination of extraneous material (Kahan & Cannell dalam Lesmana, 2005)
An interview is a conversation with a purpose or goal (Matarazzo dalam Lesmana, 2005)
Definisi
An interview is a conversational encounter between two individuals encompassing both verbal and non verbal interactions (Pope dalam Lesmana, 2005)
Interviewing : a process of dyadic, relational communication, with a predetermined and serious purpose designed to interchange behavior and involving the asking and answering of questions. (Stewart & Cash, 2000)
Process…..
Interaksi yang dinamis dan saling bertukaran dengan banyak variable operasional yang saling berinteraksi satu dengan yang lain dan memiliki struktur atau system.
Walaupun masing-masing wawancara berbeda, namun aspek komunikasi dasar selalu ada, termasuk pesan verbal dan non verbal, feedback yang segera dan langsung, persepsi, mendengarkan, motivasi, tingkat sensitivitas, harapan dan asumsi.
Dyadic
Wawancara adalah interaksi person – to – person antara 2 orang/ pihak atau lebih (misal : 2 pewawancara mewawancarai 1 orang pelamar atau 5 orang yang mewakili fakultas mewawancarai 1 orang pelamar beasiswa)
Tidak lebih dari 2 pihak. Bila lebih dari 2 pihak, maka terjadi diskusi kelompok kecil (small group discussion)
Relational
· Hubungan interpersonal antar pihak yang terlibat dalam wawancara.
· Hubungan ini timbul dari :
o Peran yang dilakukan (orangtua, konselor akademik, supervisor, perekrut),
o Anggota suatu kelompok (social, professional, politik dan keagamaan)
o Karakteristik personal (gender, ras, umur, etnis, latar belakang, dsb)
o Perbedaan status (mhs/dosen, orangtua/anak, pelatih/atlet, dsb).
Predetermined and serious purpose
· Memiliki tujuan dan mempunyai rencana untuk fokus terhadap topic yang spesifik
· Serius dan telah ditetapkan sebelumnya
· Percakapan sopan, basa basi dan sedikit menyimpang dari topik juga diperlukan dalam wawancara.
“Sejauh mana tujuan masing-masing pihak dalam wawancara tercapai akan menentukan seberapa produktif dan sukses wawancara tersebut”
Interchange behavior
1) Berbagi harapan, peran, perasaan, perilaku, persepsi dan informasi. Pada wawancara yang sukses, kedua pihak menggunakan kata-kata dan bahasa nonverbal.
2) Masing-masing pihak saling berbicara dan mendengarkan dari waktu ke waktu. Biasanya 70 % - 30 % dengan interviewee lebih banyak berbicara. Bila salah satu pihak mendominasi berbicara terus menerus à pidato!.
asking and answering of questions
Aspek yang harus ada dalam Interviuw
| ||
Suatu proses komunikasi interaksional antara 2 pihak
|
Cara pertukaran yang digunakan adalah cara verbal dan non verbal
|
Mempunyai tujuan tertentu yang spesifik
|
Tipe-tipe Wawancara
Menurut fungsinya, wawancara dibagi menjadi (Charles Redding dalam Stewart & Cash)
· Pemberian informasi (Information giving)
· Orientation à orientasi pegawai baru, mahasiswa baru, anggota baru
· Briefings
· Job-related instructions à interview harian misalnya saat pergantian shift suster jaga (informasi pasien), dll
· Training, instruction, coaching à menunjukkan perilaku spesifik untuk pekerjaan, games, konseling atau membentuk ketrampilan
Pembagian informasi - Information gathering
Untuk mendapatkan fakta, pendapat, data, perasaan, kepercayaan, reaksi dan feedback
· Surveys and polls à menjelaskan penyebab suatu hal, trend, opini politis, efek kampanye dan voting
· Exit interviews àmenemukan bagaimana meningkatkan performa kerja pegawai
· Research interviews
· Investigations : insurance, police, etc
· Medical, psychological, case history, diagnostic, caseworker,etc
· Journalistic
Seleksi (Selection)
Seleksi, merekrut dan menempatkan pelamar, pekerja dan anggota organisasi.
· Screening untuk memotong jumlah pelamar dengan menyisihkan yang tidak sesuai kualifikasi
· Determinate untuk memutuskan apakah pelamar yang telah terseleksi sebelumnya bisa diterima/ tidak
· Placement menempatkan seseorang atau memindahkan ke tempat/ posisi lain
Masalah perilaku interviewee (Problems of interviewee behavior)
Semua interview yang fungsi utamanya mengetahui perilaku seseorang, masalah atau performance dengan tujuan membantu individu tersebut agar dapat melihat penyebab, akibat dan solusi yang memungkinkan.
· Appraisal, evaluative, review à memotivasi agar performa tetap baik, agar perfoma yang rendah bisa meningkat ; mengukur kebutuhan pelatihan, pola komunikasi, hubungan kerja, dll
· Separation, firing à perpisahan, PHK
· Correction, discipline, reprimand à digunakan sekolah, perusahaan, asosiasi keagamaan dan professional untuk mengoreksi tindakan yang salah
· Counseling à Digunakan konselor sekolah, psikolog, psikiater, orangtua, guru untuk membantu pasien, klien, murid dan teman untuk mengerti dan mengatasi masalah personal
Masalah perilaku interviewer (Problems of interviewer’s behavior)
Semua interview yang fungsi utamanya adalah agar interviewer dapat menerima complain, kritik dan saran sehingga dapat menghasilkan jalan keluar terbaik bagi kedua pihak
· Receiving complaints
· Grievances à pengaduan masalah pekerja
· Receiving suggestions
Pemecahan masalah (Problem solving)
Fungsi utamanya untuk menganalisa dan memecahkan masalah kedua pihak.
· Discussing mutually shared problems
· Receiving suggestions for solutions
Persuasi (Persuasion)
Fungsi utamanya merubah pemikiran, perasaan atau sikap int-ee
· Selling products and services
· Recruiting members
· Fundraising and development
· Changing the way a party of deels, thinks or acts
PENGGUNAAN WAWANCARA
Kapan kita menggunakan wawancara dibandingkan kuesioner, surat, pidato, small group discussion? Gunakan interview jika…….
· Harus membuktikan bahwa interviewee adalah orang yang seperti dikatakannya
· Mencari interviewee dengan karakteristik khusus seperti umur, jenis kelamin, ras, latar belakang pendidikan, dll
· Sangat penting untuk mengontrol waktu, kehadiran orang lain, pertanyaan dan jawaban, serta situasinya
· Memotivasi seseorang untuk mengambil bagian, mendengarkan dan merespon secara bebas, terbuka dan akurat.
· Ingin beradaptasi dengan masing-masing interviewee
· Ingin mengetahui emosi terdalam, keyakinan, perasaan dan perilaku. Wawancara memungkinkan kita mendapatkan jawaban yang sebenarnya sekaligus mengobservasi bagaimana seseorang bereaksi secara non verbal melalui kontak mata, ekspresi wajah dan intonasi vocal serta melalui pakaiannya, penampilannya dan tata krama.
· Perlu menjelaskan, mengklarifikasi , menegaskan pertanyaan atau jawaban, membutuhkan detil atau jawaban panjang. Saat menjawab kuesioner, akan sangat membuat frustasi ketika tidak bisa menjawab sebagaimana adanya kita karena ada keterbatasan pertanyaan. Orang tidak mungkin menulis secara panjang lebar dan detil pada kuesioner.
PROSES INTERVIEW
· Pertukaran perilaku selama interview
· Persepsi antara interviewer dan interviewee
· Interaksi Komunikasi
· Feedback
· Situasi interview
Pertukaran perilaku selama interview
Directive Approach
- Interviewer mempunyai tujuan jelas dan menguasai interview
- Digunakan pada information giving, information gathering (surveys & polling), seleksi pekerja, persuasive interview (sales)
- Keuntungan : mudah dipelajari, waktu singkat
- Kerugian : tidak fleksibel sehingga kurang efektif, variasi dan topic pembicaraan terbatas
Contoh :
· Int-er : Sekarang anda sedang bekerja, bukan?
· Int-ee : Ya, di Bank Indonesia
· Int-er : Sudah berapa lama anda bekerja di Bank Indonesia?
· Int-ee : Dua setengah tahun
· Int – er : Berarti anda bekerja di sana sejak lulus kuliah ya?
· Int-ee : Iya, benar.
· Int-er : Apa posisi terakhir anda disana?
Nondirective approach
- Interviewee secara tidak langsung (dengan arahan intervieweer) ,mengontrol tujuan dan topic pembicaraan
- Digunakan pada konseling, penilaian performa dan pemecahan masalah
- Keuntungan : Interviewer dapat melakukan probing (informasi lebih banyak), lebih fleksibel, interviewee bisa lebih bebas mengungkapkan pendapat, interviewer dapat lebih beradaptasi dengan interviewee
- Kerugian : butuh waktu lebih panjang, terjebak pada informasi yang tidak dibutuhkan, adaptasi yang berlebih dapat menimbulkan bias
Contoh Nondirective approach
· Int-er : Ceritakan tentang pekerjaan terakhir anda
· Int-ee : saya adalah pegawai Bank Indonesia sejak dua setengah tahun yang lalu, sejak saya lulus kuliah
· Int-er : ehhmm….
· Int-ee : ee..saya mulai dengan posisi MT. Saya berpindah bagian 3 kali. Di bagian akuntan, lalu di Customer Service lalu di Teller. Dari situ saya tahu, saya merasa menyukai posisi yang berhubungan dengan orang banyak. Sehingga ketika ada lowongan posisi sebagai customer service, saya mengikuti seleksi selanjutnya dan lolos. Saya menjadi CS sudah 2 tahun.
· Int-er : Deskripsi pekerjaan anda sebagai CS?
Persepsi antara interviewer dan interviewee
- Kedua belah pihak hadir di interview dengan membawa persepsi, pengaruh lingkungan, pengalaman, pelatihan, kepribadian, perilaku, nilai-nilai dan harapan-harapan.
- Persepsi mempengaruhi cara int-er dan int-ee dalam merespon satu sama lain.
- Persepsi à persepsi social, fisik dan psikologis
- Masing-masing pihak akan dipengaruhi oleh persepsi tentang pihak lain, misalnya reputasi pihak lain (int-ee adalah bos, presiden, dll ; int-er terkenal sebagai reporter yang kritis atau suka mencela, dll), usia, jenis kelamin, ras, ukuran tubuh, asosiasi dengan kelompok lain, nilai-nilai, perilaku dan factor penampilan (misal : hairstyle, tata krama, baju dan kerapian)
- Persepsi dapat berubah seiring dengan berjalannya interview
Interaksi Komunikasi
· Level Interaksi
- Masing-masing level interaksi berbeda pada derajat self-disclosure, amount of risk, perceived meanings and amount and type of content.
- Level interaksi ibarat pintu. Pintu mulai terbuka sedikit pada interaksi pada level 1 dan terbuka penuh pada level 3. Level semakin meningkat tergantung pada persepsi diri sendiri, persepsi pihak lain, situasi, level kepercayaan, resiko, topic yang didiskusikan, defense, pertanyaan dan motivasi (apresiasi atas prestasi, kontribusi, dll)
· Level 1
- Interaksi relative aman, pertanyaan yang tidak mengancam dan biasanya menghasilkan jawaban yang basa-basi, bisa diterima secara social, nyaman dan ambigu.
· Level 2
- Lebih intim dan pertanyaan mendalam tentang perilaku, pemikiran, keyakinan, perasaan. Respon setengah aman, setengah terbuka. Interviewee berusaha membuka diri, namun tidak seluruhnya.
· Level 3
- Keintiman semakin meningkat dan area pertanyaan- jawaban semakin terbuka kepada perasaan, keyakinan dan persepsi.
- Level ke-3 jarang terjadi tanpa kepercayaan antara interviewee dan interviewer yang kadang-kadang baru terbangun setelah 2 – 3 kali interview.
Ilustrasi Level 1:
· Int-er : Selamat Pagi, Pak A. Apa kabar?
· Int-ee : Selamat pagi, bu. Kabar saya baik.
· Int-er : Bagaimana kabar istri dan anak-anak?
· Int-ee : Mereka juga baik. Istri saya titip salam buat ibu.
· Int-er : Oiya..salam kembali ya, Pak. Susah tidak pak, mencari kantor saya?
· Int-ee : Tidak bu, saya sudah pernah mengantar istri saya kesini.
Ilustrasi Level 2:
· Int-er : Bagaimana perasaan bapak wawancara saat akan berangkat wawancaran?
· Int-ee : Yaa..sejujurnya agak sedikit malas, Bu. Hehehe…
· Int-er : Kenapa begitu pak?
· Int-ee : Yaa..saya kan paling malas,bu kalau membicarakan masalah pribadi.
· Int-er : Putra bapak sering bercerita bahwa bapak jarang berada di rumah karena pekerjaan. Bisa diceritakan bagaimana pekerjaan bapak?
· Int-ee : Saya pelaksana untuk bangunan, bu. Dulu kan saya teknik sipil, yaa..membangun jembatan, membangun jalan. Pindah-pindah sesuai proyeknya…
· Int-er : Berapa lama proyeknya
· Int-ee : Nggak mesti, bu. Bisa sekitar 2 – 3 bulan. Kalau luar jawa, pulangnya juga nggak tentu..bisa2 bulan sekali.
Ilustrasi Level 3:
· Int-er : Jadi jarang ya pak ketemu putra bapak?
· Int-ee : Iya, bu. Sebenernya kalo sama anak, saya kangen bu. Yang bikin saya males pulang itu istri saya.
· Int-er : Kenapa, pak?
· Int-ee : Masa ibu tidak tau sudah wawancara dia lama…dia kan cerewet banget bu. Kalo saya pulang, yang ditanya mana duitnya, bawa oleh-oleh apa…trus diomelin kok saya tambah item, tambah gendut, pasti duitnya dipake makan-makan terus. Lha saya ini kan kerja di proyek, bu. Pasti tambah item. Kalo soal gendut, ya saya kan butuh energy tambahan buat ngurusin proyek, kerja di lapangan. Tapi ya memang kadang-kadang jadi kebablasan makannya…hehehe.
Level Interaksi
Level interaksi bisa beranjak dari level 1 bila :
· Interviewee mengerti apa yang diharapkan interviewer. Hindari trik, tipu muslihat dan “white lies” à jujur dan tepat sasaran
· Interviewee tertarik pada interviewer, organisasi yang diwakili int-er atau topic interview
· Interviewer respek dan memberikan perhatian penuh pada interviewee
· Interviewer menawarkan tangible reward (uang, produk) atau intangible reward
Interaksi verbal
· Pilihlah bahasa secara hati-hati dan perhitungkan bagaimana yang mendengarkan akan menginterpretasikan kata dan bahasa yang diungkapkan. Misalnya : tergantung pada orang lain daripada manja, terjangkau daripada murah, dsb
· “Update” bahasa yang digunakan. Mengetahui arti kata dan bahasa yang digunakan pada situasi yang spesifik dapat membantu memperlancar interview. Caranya : mendengarkan orang bicara pada berbagai variasi situasi, membaca majalah / Koran popular, memperhatikan bahasa yang sedang “in” di televisi dan di wawancara.
Interaksi non verbal
· Interaksi non verbal dan penampilan seringkali disebut lebih efektif daripada interaksi verbal.
· Non verbal misalnya anggukan kepala, ekspresi vocal, sentuhan, pandangan sekilas ke jam tangan.
· Kadangkala perilaku dapat berisi pesan. Misal :
Ø Kontak mata kurang à mempunyai sesuatu yang disembunyikan
Ø Jabatan tangan yang lemas à takut-takut atau malu-malu
Ø Menyentuh tangan atau lengan à bersimpati
Ø Bicara dengan cepat à pembicaraan yang penting / tidak tertarik / cemas
Ø Bicara dengan lambat à kurang persiapan
Ø Diam à mendorong pihak lain untuk bicara / bahwa kita tidak terburu-buru / setuju dengan yang dikatakan / membiarkan pihak lain bicara
· Perilaku non verbal yang menunjukkan keseriusan dalam mendengarkan lawan bicara à mencondongkan badan ke depan, kontak mata yang baik, menganggukkan kepala dan ekspresi wajah serius.
· Perilaku non verbal yang diinterpretasi sebagai kecemasan, ketakutan, gelisah à bergantian menyilangkan lengan dan kaki, duduk tegak kaku, melihat kebawah, nada suara tidak teratur, berkali-kali mengerutkan alis
· Penampilan fisik dan berpakaian penting untuk menit-menit pertama interview sebagai kesan pertama.
· Kita lebih merespon dengan baik orang yang menarik secara umum à tidak terlalu gemuk maupun kurus, bertubuh tinggi daripada pendek, bentuk tubuh bagus daripada yang tidak bagus, cantik dan ganteng daripada yang jelek atau biasa saja.
· Kita tidak bisa berbuat apa-apa dengan bentuk tubuh, wajah, dsb tapi bisa tampil bersih dan rapi. Gunakan pakaian yang sopan, bersih, rapi dan sesuai dengan situasi. Jangan terlalu banyak menggunakan gelang, cincin dan aksesori lainnya.
· Make up dan wewangian penting digunakan seperlunya
· Formal dalam pakaian, makeup, tatanan rambut dan penampilan lainnya untuk keperluan professional.
FEEDBACK
- Respon(verifikasi) terhadap pertanyaan atau pernyataan sebagai tanda apakah pesan yang benar telah tersampaikan.
- Perilaku tidak biasa mendengarkan dapat menyebabkan hilangnya informasi, gagal mengenali feedback dan gagal memotivasi pihak lain untuk merespon, mengekspresikan perasaan dan berinteraksi.
LISTENING
- Seringkali sebagai interviewer maupun interviewee, kita tidak mendengarkan secara efektif jawaban dari pertanyaan yang sudah kita ajukan atau pertanyaan yang diajukan kepada kita.
- Penyebab tidak mendengarkan secara efektif antara lain adalah kita tidak terlalu tertarik dengan lawan bicara (pertanyaannya ataupun jawabannya), mudah terganggu konsentrasi kita atau tidak memahami prinsip mendengarkan efektif.
- Prinsip mendengarkan efektif ada 3, yaitu
1) Mendengarkan untuk memahami
bertujuan untuk memahami, tanpa mengkritisi jawaban atau reaksi. Biasanya terjadi selama menit-menit pertama interview yang dilakukan kedua pihak. Ada beberapa cara:
· Mengklarifikasi pertanyaan dan menjawab melalui pengulangan dan pertanyaan reflektif. Misal : Apakah anda tadi mengatakan bahwa sekarang bukan saat yang tepat untuk anda bertindak? ; Anda setuju untuk melakukan sesuatu, jika…..
· Mendapat informasi tambahan melalui pertanyaan probing. Misal : Apa yang anda ketahui tentang…. ; Tolong anda ceritakan lebih lanjut tentang…
· Menanyakan informasi spesifik jika pertanyaan atau respon meragukan. Misal : Apa yang anda maksud dengan financial? ; Dimana anda bekerja sebelumnya?
· Mendengarkan jawaban terlebih dahulu sebelum menanyakan pertanyaan selanjutnya
· Mencatat informasi yang telah didapat agar tidak ditanyakan ulang sehingga terkesan tidak mendengarkan
2) Mendengarkan dengan empati
Mendengarkan dengan sensitif, meletakkan diri pada posisi pihak lain dan berusaha mengapresiasi perasaan orang lain. Beberapa prinsipnya :
· Mendengarkan dengan empati adalah respon total, sabar, nyaman, hangat, bersahabat dan menghargai pihak lain.
· Biasanya digunakan untuk masalah pribadi dan emosional, misalnya perceraian, DO dari sekolah, masalah keluarga dan PHK. à
· Mendengarkan dengan empati berbeda dengan simpati.
· Jangan menginterupsi pihak lain, jangan bereaksi berlebihan dan terlalu cepat. Bila pihak lain menangis, diam dan berikan waktu untuk ia menata diri.
· Contoh : saya mengerti apa yang anda alami ; hmm..bila saya jadi kamu, saya tidak akan melakukan hal itu
3) Mendengarkan untuk mengevaluasi
Harus didahului oleh mendengarkan 1) dan 2). Beberapa prinsipnya :
· Mendengarkan dengan seksama sebelum membuat keputusan atau kesimpulan (dengarkan isi pernyataan, logika, alasan, dll)
· Melakukan observasi perilaku dan non verbal
· Bila ada yang meragukan, tanyakan lagi untuk klarifikasi sebelum benar-benar mengevaluasi dan merespon.
· Kemampuan “MENDENGARKAN” sangat penting bagi interviewer maupun interviewee. Namun kebanyakan orang, sulit untuk mendengarkan.
· Kemampuan mendengarkan adalah ketrampilan yang tidak terlihat dan harus diasah.
· Kebanyakan orang mendengarkan secara pasif dan bukannya aktif dan efektif sejak kecil. Mereka (kita?) tidak bereaksi secara verbal maupun non verbal dan hanya duduk diam dan menerima (tampak menerima?) apa yang mereka dengar.
Kita bisa menjadi pendengar yang efektif dengan beberapa cara :
1. Keinginan untuk menjadi pendengar = keinginan menjadi pembicara
2. Berharap bahwa kita merasa terhibur dan tertarik dengan banyak hal dan tidak mudah bosan, namun tetap fokus pada hal-hal yang penting.
3. Mendengar secara hati-hati dan kritis terhadap kata-kata, argumentasi dan alasan, serta mengobservasi semua informasi non verbal seperti suara, wajah, sikap tubuh, kontak mata, tata krama, penampilan dan baju.
4. Memiliki daya konsentrasi dalam mendengarkan walaupun terganggu oleh bias dan prejudice serta lingkungan sekitar.
WAWANCARA ANAK DAN REMAJA
· Biasanya, orangtua mencari pertolongan untuk anak mereka ketika mereka memiliki masalah misalnya konflik pernikahan, masalah mental, dll.
· Kosakata anak-anak cenderung terbatas dan perspektif mereka dalam melihat sesuatu hal berbeda dengan orang dewasa. Misalnya pada anak usia 2 – 7 tahun, cara berpikir mereka cenderung konkret, sehingga interviewer perlu mengadakan pendekatan perkembangan dalam wawancara.
· Sebenarnya pada ranah anak dan remaja, informasi harus digali dari beberapa sumber yaitu anak atau remaja itu sendiri, orangtua dan sekolah.
· Orangtua dalam hal ini adalah :
Ø orangtua kandung
Ø orangtua adopsi
Ø orang yang mengasuh anak secara legal (misal tante yang mengasuh karena orangtua kandung meninggal)
Ø significant other misalnya pengasuh.
· Pihak sekolah dalam hal ini guru diharapkan melaporkan tentang keterampilan dan perilaku anak selama di sekolah dengan lebih obyektif dibandingkan orangtua. Namun guru dapat memberkan keterangan yang kurang memadai apabila :
Ø memiliki kemungkinan tidak terlibat secara personal dengan anak karena jumlah siswa yang banyak.
Ø Menggeneralisir semua siswa
Ø Menggunakan label tertentu
Ø Memiliki pengalaman kurang menyenangkan menghadapi anak atau remaja tersebut
· Teknik dasar yang bisa dilakukan untuk wawancara semua umur :
Ø Mendengarkan dengan aktif
Ø Mengarahkan wawancara
Ø Membangun rapport
Ø Menindaklanjut informasi penting
· Pada wawancara untuk anak dan remaja, masing-masing pihak baik interviewer maupun anak orangtua dan guru memiliki persepsi masing-masing. Ayah dan ibu bisa memiliki cara pendeskripsian yang berbeda untuk menjelaskan masalah yang menimpa mereka atau dalam mendeskripsikan anak mereka. Sedangkan orangtua dan guru seringkali melihat permasalahan atau anak
· Pada anak dan remaja bermasalah, orangtua seringkali mengerti mengapa mereka membawa anak mereka ke psikolog, namun anak mereka kebanyakan tidak siap.
· Anak mereka tidak diberi informasi yang cukup tentang apa yang akan mereka hadapi, siapa yang akan mereka hadapi sehingga mereka akan menganggap hal ini sebagai hukuman dan akan mempersulit keadaan. Sedangkan orangtua yang memiliki harapan saat mengajak anak mereka ke psikolog, akan berharap wawancara tersebut berhasil.
Oleh karena itu, penting untuk :
· Memberikan informasi pada orangtua tentang kapan sebaiknya mengajak anak
· Apa yang sebaiknya dilakukan dan menyamakan harapan.
· Apakah anak akan diwawancara bersama mereka atau sendiri.
· Pada anak yang masih kecil, orangtua diharapkan :
Ø Menyarankan mainan dan permainan apa yang dapat membantu int-er.
Ø Anak harus diberi tahu tentang situasi yang terjadi misalnya tes psikologis formal bermain, wawancara keluarga atau berpisah dari orangtuanya.
Ø Mereka juga harus diyakinkan bahwa int-er bukanlah orang yang mengancam atau akan menyakiti mereka.
Ø Orangtua harus membantu untuk memilih kata dan bahasa yang sesuai untuk umur anak, level perkembangan dan level pemahaman kognitif anak. Int-er dapat menanyakan kata apa yang sudah dikuasai dan dipahami anak.
INITIAL INTERVIEW
· Untuk initial interview, int-er harus memiliki gaya wawancaranya sendiri yang didasarkan pada apa yang sudah kita ketahui sebelumnya tentang anak tersebut dari orangtua atau guru, umur anak, referensi dan pengalaman int-er sebelumnya.
· Kedua orangtua seharusnya hadir pada initial int agar kita bisa mengobservasi interaksi orangtua-anak.
· Setelah itu minta orangtua untuk meninggalkan ruang sementara int-er mewawancara anak sendiri.
· Dalam membangun rapport : pada anak-anak akan diperlukan mainan atau material yang dapat digunakan sebagai ice breaker. Topik awal yang dapat dipilih adalah yang familiar dengan anak atau remaja misalnya program TV, film, olahraga, game computer, dan aktifitas lain yang relevan dengan umur mereka.
· Jangan memanipulasi atau menekan mereka karena akan merusak kepercayaan.
· Untuk menumbuhkan kepercayaan anak dan remaja, harus dikatakan tentang confidentiality wawancara tersebut. Sehingga pada wawanacara awal sebaiknya tidak langsung menanyakan hal-hal yang berpotensi menimbulkan masalah misalnya masalah perceraian orangtua, dll.
PLAY INTERVIEW
· Penggunaan mainan dalam wawancara pada anak penting. Anak yang lebih kecil biasanya menceritakan kejadian melalui mainan yang mereka percayai sekan-akan terjadi sungguhan.
· Pada play interview, int-er harus mengarahkan anak untuk memilih mainan.
· Bermain membuat anak merasa berada dalam jarak aman dengan masalah yang sesungguhnya.
· Bermain akan menurunkan kecemasan anak karena mereka terbiasa bermain di rumah.
Interview bayi dan batita
Tujuan harus dicapai adalah
· Membangun rapport dengan orangtua
Membangun rapport à memuji langkah yang dilakukan orangtua (misal : wah..Yuli terlihat cantik memakai baju kuning), menyebutkan perkembangan secara umum dan karakteristik fisik (misal : mari kita lihat bagaimana perkembangan Yuli. Akan kita lihat dari caranya berjalan)
Pertanyaan yang diajukan kebiasaan sehari-hari (misal : bagaimana dengan pola tidurnya?), perkembangan bahasa (misal : apakah Yuli sudah bisa mengucapkan kata-kata?), dll
· Mendapatkan gambaran yang jelas tentang permasalahan
· Mengobservasi petunjuk yang didapat melalui interaksi anak-orangtua
Interview anak usia sekolah
- Bisa menggunakan media gambar (misalnya menggambar keluarga, bisa ditanyakan tentang siapa saja nama dan umur mereka, kebiasaan mereka masing-masing)
- Bermain role play (misalnya : saya jadi adikmu ya…)
Beberapa hal yang harus diobservasi saat wawancara dengan anak usia sekolah :
· level keaktifan,
· rentang perhatian (fokus atau mudah teralih)
· kemampuan komunikasi
· koordinasi,
· toleransi terhadap frustasi,
· perilaku impulsive,
· tata krama,
· mood,
· respon terhadap peraturan
· respon terhadap pujian.
Interview remaja
· Pada remaja, mainan tidak banyak berguna. Namun untuk membangun rapport dapat digunakan permainan yang menarik misalnya kartu, catur, dll.Makanan kecil dan minuman ringan juga dapat membantu.
· Pada dasarnya interview pada dewasa dapat digunakan untuk remaja, hanya saja memerlukan kepercayaan yang lebih dari remaja terhadap interviewer. Hal-hal yang seharusnya dikemukakan :
Ø Bahwa permasalahannya bukanlah remaja tersebut
Ø Kebutuhan akan kebenaran
Ø Kebutuhan akan rasa aman
· Pertanyaan yang diajukan dapat berbentuk pertanyaan terbuka maupun pertanyaan ya-tidak.
· Remaja bermasalah seringkali menunjukkan sikap bermusuhan, menarik diri, tampak tidak tertarik sehingga interviewer harus berhati-hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar