Fase Perkembangan Anak
Fase perkembangan dapat diartikan sebagai tahap rentang perjalanan kehidupan individu yang diwarnai ciri-ciri khusus atau pola-pola tingkah laku tertentu. Kartono (1995) membagi fase perkembangan dalam lima fase yaitu:
· Fase Pertama
Masa menghayati objek dalam diri sendiri dan saat melatih fungsi-fungsi (melatih fungsi-fungsi motorik)
· Fase Kedua
Masa pengenalan dunia objek di luar diri sendiri disertai penghayatan subjektif (pengenalan “aku” dalam bahasa dan kemauan sendiri)
· Fase Ketiga
Fase Sosialisasi anak (anak belajar mengenal dunia sekitar secara objektif)
· Fase Keempat
Masa sekolah rendah ( pada akhir fase ini anak mulai menemukan diri sendiri secara tidak sadar dan mulai berfikir tentang diri sendiri)
· Fase Kelima
Masa tercapainya sintesa
Tugas-tugas perkembangan
Menurut Havighhurst (Elizabeth B. Hurlock, 1995) tugas perkembangan adalah tugas yang muncul pada saat atau sekitar periode tertentu dari kehidupan individu, yang jika berhasil akan menimbulkan rasa bahagia dan membawa ke arah keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya. Akan tetapi bila gagal hal tersebut dapat menimbulkan rasa tidak bahagia dan kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas perkembangan berikutnya.
Tabel 1
Tugas-tugas Perkembangan
PERIODE
|
TUGAS PERKEMBANGAN
|
Masa bayi dan awal masa kanak-kanak
|
- Belajar makan-makanan padat
- Belajar berjalan
- Belajar berbicara
- Belajar mengendalikan pembuangan kotoran
Tubuh
- Mempelajari perbedaan seks dan tata caranya
- Mempersiapkan diri untuk membaca
- Belajar membedakan benar dan salah serta
mulai mengembangkan hati nurani
|
Akhir masa kanak-kanak
|
- Mempelajari ketrampilan yang diperlukan
untuk permaianan yang umum
- Membangun sikap yang sehat mengenai diri
sendiri sebagai makhluk yang sedang tumbuh
- Belajar menyesuaikan diri dengan teman
seusianya
- Mulai mengembangkan diri dan teman
seusianya
- Mulai mengembangkan ketrampilan dasar
untuk membaca, menulis dan berhitung
- Mengembangkan pengertian-pengertian yang
diperlukan untuk kehidupan sehari-hari
- Mengembangkan hati nurani, pengertian moral
dan tingkatan nilai-nilai
- Mencapai kebebasan diri
|
Masa Remaja
|
- Mencapai hubungan baru dan yang lebih
matang dengan teman sebaya baik pria
maupun wanita
- Mencapai peran sosial pria dan wanita
- Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan
tubuhnya secara efektif
- Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial
yang bertanggung jawab
- Mencapai kemandirian emosional dari orang
tua dan orang dewasa lainnya
- Mempersiapkan karir ekonomi
- Mempersiapkan perkawinan dan keluarga
- Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis
sebagai pegangan untuk berperilaku
mengembangkan ideologinya
|
Masa Dewasa Awal
|
- Masa penyesuaian terhadap pola-pola
kehidupan yang baru dan harapan-harapan
baru
- Masa paling aktif karena banyak mengalami
perubahan seperti perubahan status ekonomi,
pola kehidupan, nilai, peran seks, status
perkawinan, minat dan lingkungan sosial
- Kesempatan menerima tanggung jawab sebagai orang dewasa
|
Ciri Khas Perkembangan Emosi Anak
Menurut Havighhurst (Elizabeth B. Hurlock, 1995) ciri khas penampilan emosi yang terjadi pada masa anak adalah sebagai berikut:
· Emosi yang kuat
Anak kecil bereaksi dengan intensitas yang sama, baik terhadap situasi yang remeh maupun situasi yang seram. Anak pra sekolah bahkan bereaksi dengan emosi yang kuat terhadap hal-hal yang ampaknya bagi orang dewasa sepele.
· Emosi sering kali tampak
Anak-anak seringkali memperlihatkan emosi mereka yang tinggi dan mereka menjumapi bahwa ledakan emosional seringkali mengakibatkan hukuman. Mreka menyesuaikan diri dengan situasi yang membangkitkan emosi, kemudian mereka mengekang kedalam emosi mereka atau bereaksi dengan cara yang lebih tepat dapat diterima.
· Emosi yang bersifat sementara
Peralihan yang cepat pada anak-anak dari tertawa kemudian menangis. Hal ini terjadi karena kekurangan matangan intelektual dan pengalaman yang terbatas.
· Reaksi mencerminkan individualitas
Secara bertahap pada anak-anak dengan terjadinya pengaruh faktor belajar dan lingkungan, perilaku yang menyertai berbagai emosi semakin di individualisasi.
Dengan meningkatkan usia, pada usia tertentu emosi yang sangat kurang berkurang kekuatannya, sedangkan emosi yang lainnya yang tadinya lemah berubah menjadi kuat, variasi ini sebagain disebabkan oleh perubahan dorongan sebagian lagi oleh perkembangan intelektual dan perubahan nilai dan norma.
Lebih lanjut lagi Fransiska (1980) mengatakan bahwa motivasi dari orang tua akan sangat membantu anak dalam proses belajarnya dan situasi keluarga yang gaduh akan mengurangi proses belajar membutuhkan konsentrasi dan ketenangan pola asuh orang tua juga sangat mempengaruhi pola pikir anak.
Faktor lingkungan keluarga sangat berperan penting dalam menunjang proses dan hasil prestasi belajar, karena pendidikan yang utama berasal dari keluarga. Lingkungan keluarga ini misalnya pola asuh orang tua, suasana keluarga, ekonomi keluarga dan sebagainya. Lingkungan kelaurga yang harmonis dan menerapkan nilai-nilai demokratis atau adanya komunikasi yang baik antara orang tua dan anak akan membuahkan hasil prestasi belajar yang baik bagi anak tersebut (Balson, 1999).
Lingkungan keluarga berpengaruh besar terhadap proses dan prestasi belajar. Terutama keadaan ekonomi keluarga tingkat pendidikan orang tua serta tingkat kemampuan orang tua merawat pendidikan anak. Anak yang diasuh dalam lingkungan berada dari keluarga yang berpendidikan pula (M. Dalyono, 2001), Menciptakan suasana dirumah yang menyenangkan, tentram, damai dan harmonis akan membuat anak betah dirumah. Keadaan ini akan menguntungkan bagi kemajuan belajar anak, anak tidak lagi terganggu konsentrasi dalam belajar (Abu Ahmadi, 1990).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar