Penjelasan dan Pengertian Perubahan Sosial dan Gerakan Sosial

SOCIAL CHANGE and SOCIAL MOVEMENT
Social Change (Perubahan Sosial)
Kehidupan manusia tampaknya tidak pernah statis, namun senantiasa mengalami perubahan (baik individu maupun kelompok), dapat berlangsung secara cepat maupun lambat ke arah tujuan yang ingin dicapai.
Menurut ahli sosiologi, Mac Iver, terkait dengan “social change” (perubahan sosial) ia berpendapat, “In all this change can we discover any movement of the whole, of society conceived as a unity, whether in terms of a nations, or large civilization” (dalam semua perubahan ini kita dapat temukan setiap gerakan dari keseluruhan, masyarakat dipahami sebagai satu kesatuan, baik dalam hal suatu negara, atau peradaban yang besar).
Batasan tersebut menekankan pada perubahan dalam arti keseluruhan yang terdapat pada bangsa atau peradaban. 
Ahli antropologi mempunyai pandangan yang berbeda dengan ahli sosiologi di atas tentang “social change”, Pitirin A. Sorokin, berpendapat, “even in technological field the invasion of the cultural element complicates the process of change” (bahkan dalam lapangan teknologi, penyebaran unsur budaya membuat komplikasi proses perubahan).
Pandangan ahli antropologi ini menekankan pada proses dalam mempelajari perubahan sosial, sehingga hadirnya teknologi menjadikan perubahan sosial lebih sulit diterangkan secara pasti.
Ahli psikologi sosial berpendapat bahwa “they are concerned with describing the social process and influences producing social change; the social psychologist’s interpretation draws upon their and in term supplement of it” (mereka ditarik keinginannya dengan menguraikan proses sosial dan pengaruh hasil perubah-an sosial; ahli psikologi sosial menafsirkan penggambaran mereka dan mengumpulkan kelengkapannya).
Pendekatan, Definisi, dan Isi Perubahan Sosial
Pendekatan Sosiologi
Para ahli sosiologi menekankan perubahan sosial pada “hasil-hasil” perubahan sosial, menyangkut: nilai, aturan, dan sebagai-nya, tidak menekankan pada proses perubahan sosial itu sendiri. 
Ogburn misalnya menjelaskan perubahan sosial sebagai “the great significance of technological developments in producing the rapid social change – that are in values, more, intuitional role and social behavior” (suatu arti yang besar dari pengembangan yang bersifat teknologi pada hasil perubahan sosial yang cepat – itu dalam nilai-nilai, aturan-aturan peran kelembagaan, dan tingkah laku sosial).
Tampaknya, hasil-hasil perubahan sosial dimaksud memiliki titik singgung dengan aspek kebudayaan manusia.
Hasil-hasil perubahan sosial dimaksud:
·         Nilai (values) 
Stanfeld S. Sargent, berpendapat, “... thus indicates clearly that socially accepted and observed norms are set up in the coerce of social interaction. The describes a basic process operating in the formation of the commonly accepted standard of judgment and behavior which we call by such name as values..” (... Jadi menunjukkan dengan jelas bahwa norma-norma yang diterima dan diamati secara sosial berada dalam aliran interaksi sosial. Ia menjelaskan dasar proses pelaksanaan dalam pembentukan dari uluran keputusan dan tingkah laku yang diterima pada umumnya, yang mana kami menyebut seperti nama sebagai nilai-nilai..)
Nilai, misalnya terkait dengan penghormatan terhadap orang tua. Dalam berinteraksi, nilai ini diawali dan diterima secara umum, serta diterapkan dalam pengambilan keputusan sehingga muncul dalam tingkah laku orang tersebut.
·         Adat istiadat (mores) 
Stanfeld S. Sargent, mendefinisikan, “mores center about our most touchy and vital social relationship. They make up the moral standard of a group and are considered essential to social preservation” (Adat istiadat merupakan pusat paling sensitif dan penting terkait dengan hubungan sosial kita. Mereka membentuk standar moral suatu kelompok yang dianggap penting untuk pelestarian sosial).
·         Peran Kelembagaan (Institutional role) 
Stanfeld S. Sargent, mendefinisikan, “institutional role exist in each culture, for example expected pattern of behavior for parents and children for minister, teachers, political, and social leader, doctors and other wise”. (peran kelembagaan ada dalam tiap kebudayaan seperti pola-pola tingkah laku yang diharapkan untuk orang-orang tua dan anak-anak sebagai menteri, guru, politisi, dan pemimpin sosial, dokter, dan lain-lain).
·         Tingkah laku sosial (Social Behavior)
Stanfeld S. Sargent, menjelaskan, “social behavior is the include two or more person as why stimulate and response to each other” (tingkah laku sosial mencakup dua atau lebih orang sebagaimana mereka mendorong dan mereaksi satu sama lain).
Tingkah laku sosial juga dapat didasarkan pada hal-hal yang bersifat biologis ataupun kondisi sosial. Misalnya si ibu yang menyelimuti anaknya ketika tidur dalam cuaca dingin, dsb.


Pendekatan Antropologi
Para ahli antropologi menekankan perubahan sosial pada proses-nya sebagaimana disebutkan, “the cultural change is term of processes involved diffusion, acculturation, and assimilation” (perubahan kebudayaan adalah istilah dari proses-proses yang mencakup difusi, akulturasi, dan asimilasi).
Difusi                   penyebaran sifat-sifat kultural satu kelompok ke kelompok lainnya. 
Akulturasi        percampuran dan peleburan budaya menjadi suatu budaya baru tetapi masih memperlihatkan ciri-cirinya sendiri.
Asimilasi           pembauran dua kebudayaan yang disertai dengan hilangnya ciri khas kebudayaan (yang asli) sehingga membentuk kebudayaan baru.   

Pendekatan Psikologi Sosial
Para ahli psikologi sosial tertarik pada individu dalam perubahan sosial seperti penyesuaian dan perubahan. Dalam hubungan itu, mereka mengenalkan istilah; reactionary, concervative, liberal, dan radical.
Reactionary  menunjuk pada seseorang yg ingin kembali pada hari tua yg baik.
Concervative  orang yang memihak pada keadaan semula.
Liberal  bebas, orang yang menyukai perubahan sosial yang bertahap.
Radical  orang yang menyukai secara cepat (keras) perubahan sosial yang terjadi. 

Sumber Perubahan Sosial  perhatikan juga Soekanto, dll 
·         Menurut Ralph Linton, sumbernya adalah:
Discovery          suatu hasil pendapat yg diperoleh seseorang atau kelompok/masyarakat.
                Invention           suatu penemuan yg biasanya ditemukan oleh para ahli
Borrowing        sesuatu yang dipimpin oleh seorang/kelompok dari kebudayaan orang atau kelompok lain.  

·         Menurut Stanfeld S. Sargent, sumbernya adalah:
Learning            baik untuk seseorang mencapai usia dewasa atau menyesuaikan diri sebagai anggota masyarakat.      
                Frustration       ada juga perubahan yang berlangsung karena sedikit frustrasi 
Technological change  kadang perubahan teknologi menciptakan krisis utama dalam kehidupan manusia. 

Faktor-Faktor yang Menentukan Perubahan Sosial
Menurut Stanfeld S. Sargent, antara lain:
·         The Family       First and for most among the determiners of an individual’s change is the family in which he grew up.
·         The School       The influence of the school upon pupils change is less significants than that of the family.
·         The Parents     Another influence affecting a child’s change is selection on the part of his parents.
·         Intelligence and Knowledge  Another influence upon the indivi-dual’s attitude an toward social change is his intelligence and knowledge.

Faktor-faktor “penyebab” Social Change
Perubahan sosial dapat bersumber dari “dalam” maupun dari “luar” masyarakat itu sendiri. 
Menurut Soekanto (1982), sebab-sebab yang bersumber dari dalam masyarakat, antara lain: 
Ø  Bertambah atau berkurang penduduk.
Ø  Penemuan-penemuan baru.
Ø  Pertentangan (conflict).
Ø  Terjadinya pemberontakan atau revolusi dalam tubuh masya-rakat itu sendiri.
Namun dapat pula “perubahan sosial” itu bersumber pada sebab-sebab yang berasal dari luar masyarakat itu sendiri, umpamanya:
-          Sebab-sebab yang berasal dari lingkungan alam fisik yang ada di sekitar manusia (bencana alam, dsb)
-          Peperangan
-          Pengaruh kebudayaan dari masyarakat lainnya

·         Ada banyak teori tentang sebab terjadinya perubahan sosial. Ada yg berpendapat bahwa masyarakat berubah karena ideas. Max Weber (1864-1920) salah seorang penganutnya. Dalam bukunya The Sosiology of Religion dan The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism, Weber banyak menekankan betapa besar pengaruh ide terhadap terjadinya perubahan sosial.
·         Ada pula yg berpendapat, terjadinya perubahan sosial adalah karena great individuals (tokoh-tokoh besar), sering disebut heroes. Salah seorang pengikut teori ini adalah Thomas Carlyle (1795-1881). Carlyle menulis buku On Heroes, Hero-Worship, and the heroic in history (Para Pahlawan, Pemujaan-Pahlawan, dan Kepahlawanan dalam Sejarah). Caryle pernah menyatakan, “Sejarah dunia.... adalah biografi orang-orang besar”.
Oleh sebab itu, menurut pemikir seperti Caryle, perubahan sosial terjadi karena munculnya seorang tokoh / pahlawan yg dapat menarik simpati para pengikutnya yg setia. Kemudian bersama-sama dengan para simpatisan, sang pahlawan melancarkan gerakan untuk mengubah masyarakat. Inilah yg oleh para sosiolog dinamakan great individuals as historical force
·         Ada pula yg berpendapat bahwa perubahan sosial terjadi karena munculnya social movement (gerakan sosial). Contohnya, LSM-LSM, walaupun kecil, termasuk gerakan sosial. Yayasan juga dapat berfungsi sebagai organisasi gerakan sosial. 
Jadi, terjadinya perubahan sosial (social change), “salah satunya” karena munculnya gerakan sosial (social movement akan dibahas!

Strategi-Strategi Social Change  ada 3 yakni:
·         Revolution (people power)
Terkait dengan “strategi” yang ditempuhnya, social change bisa dilakukan dengan revolusi atau people power. Revolusi merupakan bagian dari power strategy sekaligus puncak dari semua bentuk perubahan sosial, sebab ia menyentuh segenap dimensi sosial secara radikal, massal, cepat, mencolok, mengundang gejolak intelektual dan emosional dari semua orang yang terlibat di dalamnya. 

Social Movement (Gerakan Sosial)
Beberapa istilah muncul terkait dengan topik ini, Stanfeld S. Sargent menyebut social movement (gerakan sosial)Kimbell Young menyebutnya sebagai social mobility, Pitirin A. Sorokin menyebutnya sebagai social circulation.
Kesemuanya merujuk pada perubahan yang terjadi dalam masyarakat dan hal ini berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Bisa saja terjadi karena berawal dari munculnya semacam propaganda (penerangan yg disiarkan dgn tujuan membuat orang percaya) atau rumor (gunjingan atau desas-desus), lalu muncullah pro dan kontra, makin lama pengikutnya makin banyak, dan sejalan bertambahnya waktu, akhirnya menyatakan kegiatan diri dengan jelas, tanpa rasa takut atas hal-hal yang akan diterimanya. Hal ini ditandai dengan diterimanya kelompok sosial tsb, seperti dipilihnya seseorang (dari kelompok tsb) sebagai pimpinan, ada program yg tersusun, tujuannya jelas. 
Misalnya, suasana pergerakan kemerdekaan Indonesia oleh para tokoh politik & pemuda bbrp puluh tahun yg lalu.   
Definisi Social Movement 
Tidak ada definisi tunggal mengenai konsep “gerakan sosial” sebagai suatu gejala sosial.
-          Stanfeld S. Sargent  Social movement is a social group of a particular kind –  a group which is moving, dynamic, going somewhere. (Gerakan sosial adalah kelompok sosial dari jenis tertentu – suatu kelompok yg bergerak, dinamis, pergi ke suatu tempat).

-          Blummer  Social movement can be viewed as collective enterprises to establish a new order of life. (Gerakan sosial dapat dipandang sebagai usaha bersama untuk menciptakan tatanan kehidupan baru).

-          Kimbell Young (dalam Soekanto) menyebut “social movement” sebagai “social mobility”, yaitu suatu gerakan dalam struktur sosial. Struktur sosial adalah pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial, yang mencakup sifat-sifat dari hubungan antara individu dengan kelompoknya.

-          Giddens (1993, dalam Suharko, 2006)  gerakan sosial sebagai suatu upaya kolektif untuk mengejar suatu kepentingan bersama, atau mencapai tujuan bersama melalui tindakan kolektif.

-          Sydney Tarrow (1998, dalam Suharko, 2006)  gerakan sosial adalah tantangan-tantangan kolektif yang didasarkan pada tujuan-tujuan bersama dan solidaritas sosial, dalam interaksi yang berkelanjutan dengan para elit, penentang dan pemegang wewenang. 

Menurut Tarrow, konsep “gerakan sosial” harus memiliki empat properti (milik/sifat) dasar:
·         Tantangan kolektif (collective challenge)  tantangan untuk melawan melalui aksi langsung, terhadap elite, kelompok lain, atau aturan kultural tertentu.
·         Tujuan bersama (common purpose)
·         Solidaritas dan identitas kolektif  karena biasanya bersumber dari nasionalisme, etnisitas, atau keyakinan agama.
·         Memelihara politik perlawanan  memelihara aksi kolektif 

Social Movement Characteristic 
Menurut Stanfeld S. Sargent, ciri-cirinya antara lain:
-          They are relatively new groupings, not yet institutionalized and often amorphous in character (Mereka kelompok yang relatif baru, belum dilembagakan dan seringkali tak berbentuk dalam karakter).
-          The aim of social movement is to achieve some change in status quo, usually by orderly, evolutionary steps rather than by revolution (Tujuan gerakan sosial adalah untuk mencapai beberapa perubahan dalam status quo, biasanya dengan teratur, langkah-langkahnya evolusioner daripada dengan revolusi).
-          The goal are broad rather than narrow and typically involve both harmonization and self-seeking trends (Tujuannya luas, bukannya sempit, dan biasanya melibatkan kedua-duanya (harmonisasi dan kecenderungan yang mementingkan diri sendiri)
-          Proselytizing zeal and crusading spirit are shown by the members (Semangat pengikut baru (dakwah) dan semangat penginjilan ditunjukkan oleh anggota-anggotanya) 

Macam-Macam Social Movement
Menurut Blummer
·         General; such as labor, youth, women’s or peace movements (Umum; seperti buruh, pemuda, wanita atau gerakan perdamaian)
·         Specific movement, typically reformist or revolutionary (gerakan spesifik/tertentu, biasanya reformis atau secara revolutionary)
·         Expressive movement like religions and fashions movement (gerakan ekspresif seperti agama dan gerakan mode).
Menurut Pitirin A. Sorokin
·         Gerakan sosial horizontal  peralihan individu atau objek sosial lainnya dari suatu kelompok ke kelompok lainnya yang sederajat. 
                Misalnya: pindah kerja atau kewarganegaraan.
·         Gerakan sosial vertikal  perpindahan individu atau objek sosial dari suatu kedudukan sosial ke kedudukan sosial lainnya.
                Misalnya: naik pangkat, mengemban jabatan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#02 Konsep Memerangi Kejahatan Cybercrime dalam Perspektif Kriminiologi

Pengertian memerangi kejahatan sama dengan pengertian menanggulangi kejahatan. Dalam istilah kriminiologi penanggulangan kejahatan sering j...