Hubungan Saling Ketergantungan dengan Keluarga & Teman versus Kesepian
Elemen umum dalam semua “hubungan akrab” adalah saling ke-tergantungan (interdependence). Saling ketergantungan di sini, dapat dimaknai sebagai suatu asosiasi interpersonal, di mana dua orang secara konsisten mempengaruhi kehidupan satu sama lain, dan terlibat dalam aktivitas bersama.
Menurut Maestripieri (2001, dalam Baron & Byrne, 2003) sebagian ikatan interpersonal didasarkan pada faktor biologis (hormon). Smuts (2000) meng-kaji lebih jauh, dengan mengaitkannya dengan DNA (Deoxyribonucleic Acid → molekul yang membentuk gen) berlandaskan teori evolusi, di mana spesies-spesies primata seperti simpanse dan bonobo, dalam observasinya memberikan kesan akan banyaknya kesamaan perilaku dengan interaksi manusia. Primata-primata tersebut dapat membentuk ikatan emosional dengan berinteraksi seperti yang kita lakukan (memeluk, mencium, dan membentuk ikatan jangka panjang), seperti antara ibu dan anak, pasangan pertemanan, dan pasangan kencan.
Keluarga: Hubungan yang Pertama
Sebagian besar interaksi orang tua – anak memiliki implikasi masa depan, karena keluarga adalah tempat masing-masing dari kita belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain. Sejak bayi, tampaknya manusia sudah menunjukkan minat untuk ber-hubungan dengan manusia lainnya.
Interaksi Orang Tua dan Keturunan Mereka
Pembahasan beberapa aspek Psikologi Perkembangan di-pandang cukup relevan bagi pembahasan Psikologi Sosial, sebab kualitas interaksi antara seorang ibu (atau pengasuh yang lain) dan bayinya, “menentukan” bagaimana “individu kecil” tersebut berespons terhadap orang lain sepanjang hidupnya. Menurut O’Leary (1995, dalam Baron & Byrne, 2003:7), semua interaksi dengan orang tua dan anggota keluarga yang lain memiliki efek terhadap apa yang anak pelajari dalam hubungannya dengan orang lain.
Hubungan yang menyenangkan dan memuaskan di dalam ke-luarga diasosiasikan dengan kemampuan untuk mengalami empati, rasa percaya diri yang tinggi, dan kepercayaan interper-sonal.
Interaksi di dalam keluarga tidak hanya dipengaruhi oleh faktor genetis dan karakteristik kepribadian, namun oleh faktor budaya.
Hubungan Antara Kakak Beradik
Interaksi antara kakak dan adik memberi suatu cara lain yang dapat kita gunakan untuk mempelajari pola-pola perilaku inter-personal. Karena interaksi ini merupakan kombinasi antara perasaan sayang, benci, dan persaingan (Boer et. al., 1997, dalam Baron & Byrne, 2003:8).
Hubungan yang penuh kasih sayang antara kakak dan adik mungkin terjadi jika anak memiliki hubungan yang hangat dengan masing-masing orang tua, dan jika orang tua mempersepsikan pernikahannya secara positif (McGuire, McHale, & Updegraff, 1996; Stocker & McHale, 1992, dalam Baron & Byrne, 2003:8).
Menurut Klagsburn (1992, dalam Baron & Byrne, 2003:8), hubungan kakak beradik penting, sebab afek positif atau negatif yang diasosiasikan dengan kakak atau adik, mungkin saja dibangkitkan lagi berulang-ulang pada interaksi dengan teman-teman sebaya, pasangan romantis, dan pasangan hidup.
Hubungan di Luar Keluarga: Membangun Persahabatan
Diawali pada masa anak-anak, kita membangun pertemanan dengan teman-teman sebaya yang memiliki minat yang sama. Umumnya, memiliki teman adalah positif, sebab teman dapat mendorong self-esteem dan menolong dalam mengatasi stres, tetapi teman juga bisa memiliki efek negatif jika mereka antisosial, menarik diri, tidak suportif, argumentatif, atau tidak stabil (Hartup & Stevens, 1999, dalam Baron & Byrne, 2003:9).
Sahabat versus Hubungan Pertemanan yang Lain
Dengan makin dewasanya seseorang, persahabatan (close friendship) memiliki beberapa karakteristik yang berbeda. Misalnya, orang-orang cenderung menunjukkan perilaku self-enhancing seperti menyombongkan diri dengan bukan sahabat, tetapi mereka lebih mungkin menunjukkan kerendahan hati me-ngenai keberhasilan mereka ketika berinteraksi dengan sahabat (Tice, et. al., 1995, dalam Baron & Byrne, 2003:9). Seorang sahabat cenderung menghindari berbohong kepada satu sama lain – kecuali tujuan dari berbohong itu untuk membuat sahabat-nya merasa lebih baik (DePaulo & Kashy, 1998; dalam Baron & Byrne, 2003:9)
Sekali terbangun suatu hubungan akrab, dibandingkan dengan hubungan biasa, akan mengakibatkan dua individu menghabis-kan waktu lebih banyak untuk bersama, berinteraksi satu sama lain pada situasi yang lebih bervariasi, menjadi self-disclosing, saling memberikan dukungan emosional, dan membedakan antara sahabat dan teman yang lain (Kenney & Kashy, 1994; Laurenceau, Barrey & Pietromonaco, 1998; Parks & Floyd, 1996; dalam Baron & Byrne, 2003:9).
Teman biasa adalah seseorang yang menyenangkan untuk bersama, sementara sahabat dihargai karena ia murah hati, sensitif, dan jujur – seorang yang dapat Anda ajak bersantai dan menjadi diri Anda sendiri (Urbanski, 1992, dalam Baron & Byrne, 2003:9).

Gender dan Pertemanan
Perempuan melaporkan lebih banyak sahabat daripada laki-laki. Seringkali persahabatan terganggu karena berbagai peristiwa kehidupan yang “mengakhiri” kebersamaan. Misalnya, kelulusan sekolah atau perpindahan tempat tinggal.
Apakah topik pembicaraan dua teman laki-laki berbeda dengan dua teman perempuan? Menurut Martin (1997, dalam Baron & Byrne, 2003:10), dua laki-laki cenderung berbicara tentang perempuan dan seks, terjebak dalam suatu hubungan, olahraga dan alkohol. Sedangkan dua perempuan cenderung berbicara tentang hubungan dengan laki-laki, pakaian, masalah dengan teman sekamar, dan memberi atau menerima hadiah.
Laki-laki cenderung memulai pertemanan jika perempuannya menarik, dan mereka mengharapkan tumbuhnya hubungan yang mengandung unsur seksual. Jika keintiman tidak ada, mereka merasa berhak menjadikan alasan untuk menghentikan hubung-an tersebut. Perempuan memulai hubungan untuk memperoleh perlindungan fisik, tanpa adanya perlindungan semacam ini mereka merasa berhak menghentikan hubungan tersebut.
Hubungan Orang Dewasa dan Gaya Kelekatan
Gaya kelekatan (attachment style) adalah derajat keamanan yang dialami dalam hubungan interpersonal.
Gaya-gaya yang berbeda pada awalnya dibangun pada saat masih bayi, tetapi perbedaan dalam kelekatan tampak mempe-ngaruhi perilaku interpersonal sepanjang hidup.
Menurut Bowlby (1969, 1973; dalam Baron & Byrne, 2003:11) bahwa saat berlangsungnya interaksi bayi dengan pengasuhnya (paling sering, ibu) anak membentuk kognisi yang terpusat pada dua sikap penting, yang oleh Bowlby disebut sebagai model working, yakni:
v Self-esteem → evaluasi terhadap diri sendiri. Karena perilaku dan reaksi emosional dari pengasuh memberikan informasi kepada bayi bahwa ia dihargai, penting, atau dicintai (ataupun sebaliknya).
v Social self yang terdiri dari belief dan harapan mengenai orang lain – kepercayaan interpersonal (interpersonal trust).
Dari interaksi dengan pengasuhnya, bayi lalu memperoleh pengalaman bahwa pengasuhnya dapat dipercaya, dapat diharapkan, dan dapat diandalkan (ataupun sebaliknya).
Interpersonal trust adalah suatu dimensi yang mendasari gaya kelekatan, yang me-libatkan keyakinan bahwa orang lain dapat dipercaya, dapat diharapkan, dan dapat diandalkan atau lawannya yaitu, keyakinan bahwa orang lain tidak dapat dipercaya, tidak dapat diharapkan, dan tidak dapat diandalkan.
Berdasarkan working model, menurut Bowlby, bayi membentuk satu dari tiga gaya kelekatan:
ü Secure (aman)
ü Insecure – avoidant (tidak aman – menghindar)
ü Insecure – ambivalent (tidak aman – ragu-ragu)
Bartholomew et. al. (1990, 1991; dalam Baron & Byrne, 2003:12) mengajukan pendekatan yang berbeda, yakni gaya kelekatan berdasarkan sikap terhadap diri dan orang lain, sbb:
ü Gaya kelekatan yang aman (secure attachment style)
Seseorang dengan gaya ini memiliki self-esteem yang tinggi dan positif terhadap orang lain, sehingga ia mencari kedekatan interpersonal dan merasa nyaman dalam hubungan.
ü Gaya kelekatan takut-menghindar (fearful-avoidant attachment style)
Seseorang dengan gaya kelekatan ini memiliki self-esteem yang rendah dan negatif terhadap orang lain.
Dengan meminimalkan kedekatan interpersonal dan menghindari hubungan akrab, mereka berharap dapat melindungi diri mereka dari rasa sakit karena ditolak. Individu dengan gaya kelekatan takut-menghindar mengggambarkan orang tua mereka secara negatif, memendam perasaan hostile dan marah tanpa menyadari-nya, dan lebih tidak mengalami keintiman dan kesenangan dalam berinteraksi dengan pasangan romantis yang sekarang dimiliki atau potensial. Gaya kelekatan ini diasosiasikan dengan hubungan interpersonal yang negatif, rasa cemburu, dan penggunaan alkohol untuk mengurangi kecemasan mereka mengenai situasi sosial.
ü Gaya kelekatan yang terpreokupasi (preoccupied attachment style)
Preoccupied (asyik, sibuk, khusuk, mengikat perhatian). Dapat didefinisikan sebagai pandangan yang negatif tentang self yang dikombinasikan dengan harapan yang positif bahwa orang lain akan mencintai dan menerima. Sebagai akibatnya, individu yang terpreokupasi mencari kedekatan dalam hubungan (kadang-kadang kedekat-an yang berlebihan), tetapi mereka juga mengalami kecemasan dan rasa malu karena mereka merasa “tidak pantas” menerima cinta dari orang lain (Lopez et. al., 1997). Tekanan mengenai kemungkinan ditolak terjadi secara ekstrem. Kebutuhan untuk dicintai dan diakui ditambah dengan adanya self-criticism mendorong terjadinya depresi setiap kali suatu hubungan menjadi buruk.
ü Gaya kelekatan menolak (dismissing attachment style)
Ciri utamanya adalah adanya self-image yang sangat positif (kadangkala tidak realistis), dan self-descriptions dari individu-individu ini berbeda jauh dari gambaran orang lain tentang mereka.
Individu yang menolak melihat dirinya sebagai berharga, independen, dan sangat layak untuk mendapatkan hubungan yang dekat; orang lain lebih mungkin untuk melihat mereka secara lebih tidak positif dan mendeskripsikan mereka sebagai tidak ramah dan terbatas keterampilan sosialnya. Masalah utamanya adalah mereka mengharapkan yang terburuk dari orang lain, sehingga mereka mungkin saja merasa takut terhadap kedekatan yang jujur.
Baik individu dengan gaya kelekatan menolak maupun yang takut-menghindar menghindari interaksi langsung berhadapan dan lebih memilih kontak impersonal seperti melalui catatan atau e-mail, dan ketika mereka minum, mereka minum sendirian, dan bukan dalam suatu konteks sosial (McGowan, Daniels, & Byrne, 2000; dalam Baron & Byrne, 2003:14).
Catatan:
Dengan adanya penekanan dua sikap dasar (tentang self dan orang lain) oleh Bowlby, diasumsikan bahwa berbagai aspek dari perilaku interpersonal dipengaruhi oleh sejauhmana self-evaluation seseorang adalah positif (dapat dipercaya) atau negatif (tidak dapar dipercaya). Bartholomew mengusulkan kedua dimensi kepercayaan (trust) dan ketidakpercayaan (mistrust) sebagai-mana pernah dikemukakan Bowlby, agar dipertimbangkan secara bersama-an. Akhirnya, kombinasi yang terjadi dari sikap terhadap diri yang positif-negatif dan sikap terhadap orang lain yang positif-negatif menghasilkan empat gaya kelekatan, seperti tampak pada gambar berikut ini.

Efek Gaya Kelekatan pada Perilaku yang Lain
Orang-orang yang berbeda gaya kelekatannya memiliki kecende-rungan untuk berpikir, merasakan, dan bertindak secara spesifik di dalam hubungan mereka, sehingga gaya kelekatan seseorang memiliki efek pada perilaku, yang disebabkan oleh perbedaan persepsi sosial dan perbedaan kemampuan mengatur afek.
Kesepian: Hidup Tanpa Hubungan Akrab
Meskipun mungkin ada kebutuhan biologis untuk membangun hubungan, dan meskipun reward dari hubungan diketahui dengan baik, banyak individu merasa sulit untuk mencapai tujuan itu. Akibatnya adalah kesepian (loneliness), yakni “suatu reaksi emosional dan kognitif yang tidak bahagia yang diakibatkan oleh hasrat akan hubungan akrab namun tidak dapat mencapainya.”
Menurut Burger (1995, fdalam Baron & Byrne, 2003:16), individu yang tidak menginginkan teman, bukanlah orang yang kesepian, tetapi individu yang menginginkan teman dan ia tidak memilikinya itulah yang kesepian.
Konsekuensi dari Kesepian
Orang yang merasa kesepian cenderung menghabiskan waktu senggang mereka pada aktivitas yang sendiri, memiliki kencan yang sangat sedikit, dan hanya memiliki teman biasa atau kenalan. Ada perasaan disingkirkan, perasaan sedikit kesamaan dengan orang-orang yang ditemui. Kesepian disertai dengan afek negatif, termasuk perasaan depresi, kecemasan, ketidakbahagia-an, dan ketidakpuasan yang diasosiasikan dengan pesimisme, self-blame, dan rasa malu.
Oleh orang-orang yang mengenalnya, individu yang kesepian umumnya dipersepsikan sebagai tidak dapat menyesuaikan diri.
Kesepian dan kesendirian tidaklah sama. Kesepian menunjuk pada kegelisahan subjektif yang kita rasakan pada saat “hubungan sosial kita kehilangan ciri-ciri penting-nya.” Ciri-ciri penting hubungan sosial dimaksud, bisa bersifat kuantitatif, umpamanya mungkin kita punya hanya sedikit teman – tidak seperti yang kita harapkan, namun bisa juga bersifat kualitatif, seperti adanya perasaan bahwa hubungan tersebut dangkal atau kurang memuaskan. Kesepian terjadi dalam diri seseorang dan tidak dapat dideteksi hanya dengan melhat orang itu. Sedangkan kesendirian merupakan keadaan terpisah dari orang lain yang bersifat objektif.
Kesendirian bisa bersifat menyenangkan atau tidak menyenangkan. Sendiri terdampar di tengah hutan tentu tidak menyenangkan, tetapi berdoa dalam kesen-dirian untuk mencari inspirasi spiritual, seperti para musisi atau penulis yang mengerjakan karyanya jauh dari kebisingan interaksi sosial mungkin merupakan sesuatu yang menyenangkan. Kita mungkin dapat memperoleh kebahagiaan ketika berada seorang diri, atau sebaliknya kita mengalami kesepian di tengah keramaian. Meskipun demikian, biasanya orang merasa kesepian pada saat berada dalam kesendirian.
Kadang-kadang kesepian ditimbulkan oleh “perubahan hidup” yang menjauhkan kita dari teman atau hubungan yang akrab. Inilah yang disebut sebagai “kesepian situasional” yang disebabkan oleh berbagai peristiwa; pindah tempat domisili, berangkat ke sekolah, memulai pekerjaan baru, terpisah dari teman atau orang yang kita cintai ketika sedang dalam perjalanan atau sedang di rumah sakit, atau mengakhiri hubungan yang penting karena kematian, perceraian, atau perpisahan.
Robert Weiss (1973, dalam Sears et. al, 1985:215) membedakan dua tipe kesepian berdasarkan hilangnya ketetapan sosial tertentu yang dialami seseorang, yakni:
v Kesepian emosional → timbul dari ketiadaan figur kasih sayang yang intim, seperti yang bisa diberikan orang tua kepada anaknya, atau yang bisa diberikan oleh tunangan atau teman akrab kepada seseorang.
v Kesepian sosial → timbul bila orang kehilangan rasa terintegrasi secara sosial, atau kehilangan rasa terintegrasi secara komunikasi, yang bisa diberikan oleh sekumpulan teman atau rekan kerja.
Menurut Laurensius Laka Perilaku yang terus diulang-ulang, makin lama makin tertanam dalam, sehingga menjadi kebiasaan, kemudian menjadi sifat, dan akhirnya menjadi bagian dari kepribadian (2011).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar