Penjelasan Lingkungan Kesehatan Mental

DIMENSI LINGKUNGAN KESEHATAN MENTAL

A.     LINGKUNGAN DAN KESEHATAN
Interaksi manusia dengan lingkungannya berhubungan dengan kesehatannya. Kondisi lingkungan yang sehat akan mendukung kesehatan bagi manusia, dan sebaliknya lingkungan yang tidak sehat akan dapat mengganggu kesehatannya, termasuk dalam konteks kesehatan mental.
Hubungan manusia dengan lingkungan diharapkan meningkatkan kulaitas hidupnya. Manusia dapat memanfaatkan lingkungan untuk menjalankan sejumlah aktivitasnya. Demikian juga halnya dengan lingkungan yang dihasilkan dari aktivitas manusia, justru seringkali menimbulkan masalah bagi kualitas hidupnya sendiri, baik hasil produksinya sendiri ataupun sisa - sisa hasil produksinya.
Dengan kata lain, ada sejumlah lingkungan kita yang potensial menjadi hazard bagi kesehatan manusia, yaitu lingkungan yang dapat menimbulkan ancaman bagi kesehatan fisik maupun mental. Lingkungan yang secara potensial mempengaruhi kesehatan mental. Lingkungan yang secara potensial mempengaruhi kesehatan mental meliputi:
1.       Lingkungan yang berhubungan dengan sistem pendorong kehidupan, diantaranya sumber energi
2.       Lingkungan yang berhubungan dengan aktivitas manusia diantaranya tempat tinggal dan transportasi
3.       Lingkungan yang berhubungan dengan lingkungan hazard diantaranya tempat dan lokasi, biologis, kimia, fisik, psikologis, dan sosial.

B.     NUTRISI SEBAGI SUMBER ENERGI
Kebutuhan kognisi tidak hanya pada masa kanak-kanak yang sedang pada fase pertumbuhan dan perkembangan, tapi juga remaja, bahkan orang dewasa dan lansia. Sepanjang rentang kehidupan memerlukan nutrisi yang sehat dan tepat. Jika pada masa kanak-kanak pemenuhan gizi untuk tumbuhan kembangnya, maka pada masa dewasa dan lansia lebih diperlukan untuk mempertahankan dan pemeliharaan dari kemampuan yang dimiliki. Kekurangan nutrisi pada semua usia dalam jangka panjang tidak hanya mengganggu kesehatan fisik, tapi juga pada perkembangan mental. Misalnya penurunan daya ingat dan pengolahan informasi, serta kelambanan dalam pembuatan keputusan.

C.      LINGKUNGAN FISIK
Lingkungan fisik (physical environment) yang ada di sekitar kita sangat berarti bagi kehidupan kita. Kondisi lingkungan sekitar secara terus-menerus memberikan pemaparan pada kita, jika lingkungan sesuai dengan kebutuhan aktivitas manusia, maka dia akan mendorong bagi kondisi yang baik, dan jika kondisi lingkungan tidak sesuai dengan kebutuhan atau melampaui ambang batas toleransi sangat berpengaruh negatif bagi kesehatan biologis dan kesehatan mental. 
Lingkungan fisik yang ada di sekitar kita dapat berakibat pada tekanan-tekanan psikologis dan/atau berakibat pada kecelakaan, yang tidak menguntungkan bagi kondisi kesehatan mental. Banyak dijumpai bahwa agresivitas, stress, tekanan mental, dan sebagainya menjadi meningkat jika kondisi fisik itu terjadi di atas batas ambang toleransi. 
Lingkungan fisik yang perlu memperoleh perhatian karena sangat mempengaruhi kesehatan mental, di antaranya:

1.      Tata Ruang dan Teritori
Kita semua membutuhkan ruang untuk memenuhi segenap kebutuhan, baik yang berhubungan dengan diri sendiri maupun dalam berinteraksi dengan orang lain. Tata ruang yang kita tempati dan miliki perlu memberikan jaminan keamanan, kenyamanan, dan keleluasaan bagi segenap aktivitas kita. Tata ruang yang tidak kondusif akan mempersulit dalam mengatur diri, hubungan sosial, kerja, dan sekaligus berpotensi sebagai hazard. Karena itu rekayasa terhadap lingkungan selalu diperlukan sehingga sesuai dengan kebutuhan aktivitas manusia.
Hal yang terkait dengan tata ruang adalah soal teritori. Tiap orang memiliki teritori, meskipun secara subyektif ada perbedaan luas tidaknya teritori pada tiap individu, luas tidaknya sangat dipengaruhi oleh kultur di mana dia dibesarkan dan belajar. Dalam masyarakat yang dianggap tidak agresif dan mementingkan keserasian hubungan sosial pun diketahui memiliki wilayah teritori ini. Penelitian terhadap masyarakat primitif menunjukkan bahwa mereka juga memiliki teritori.
Teritori dimiliki seseorang untuk menjaga egonya. Orang yang teritorinya terganggu, ego menjadi tidak aman dan dia akan berusaha untuk mempertahankan diri sesuai dengan cara yang dapat dilakukan, misalnya dengan marah, penyerangan, atau cara-cara lain yang dianggap lebih aman. Teritori berkaitan dengan kepadatan, meskipun tidak selalu kepadatan itu mengganggu teritorinya, tergantung pada situasi yang terjadi dan persepsi individual terhadap wilayah teritorinya dapat mengancam kenyamanan dan keamanan dirinya.
Kepadatan internal yaitu kepadatan dalam ruang tertentu. Sedang kepadatan eksternal yaitu kepadatan di wilayah tertentu, terkait dengan teritori ini. Semakin padat jumlah populasi dalam suatu atau wilayah tertentu akan mengganggu teritori yang diakui oleh setiap anggota masyarakatnya. Karena itu dapat dipahami jika suatu wilayah yang populasinya terlalu padat insidensi tindak kekerasan, kriminalitas, konflik sosial nenunjukkan angka yang tinggi, seperti Jakarta. Penelitian demografi dan survei, penelitian lapangan dan observasional, dan eksperimental yang menyangkut kepadatan dalam hubungannya dengan berbagai perilaku menyimpang dan gangguan mental memang menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara keduanya.
Tempat tinggal sangat berhubungan dengan kesehatan mental. Tempat tinggal yang memenuhi syarat sebagai tempat tinggal yang sehat akan memberikan dukungan bagi optimalisasi kesehatan mental seseorang dan masyarakat. Dua hal yang terkait dengan tempat tinggal ini, yaitu penataan rumah (yang berhubungan dengan ukuran, tata ruang, dan penampilan) dan kepadatan. Ukuran rumah yang sehat tentu memberikan ruang gerak yang leluasa bagi seluruh anggota keluarga. Tata ruang rumah yang menyangkut kamar tidur, kamar santai, ruang tamu dan sebagainya memberikan keleluasaan bagi anggota keluarga untuk menjaga privasinya. Sedang penampilan luar rumah dapat memberi kenyamanan secara emosional bagi orang yang menempatinya.
Menyangkut kepadatan berarti berhubungan dengan jarak rumah satu dengan yang lain. Di perkotaan, kepadatan rumah selalu terjadi hingga mengarah pada wilayah kumuh (slum), seperti diperumahan kelas sosial rendah, yang disebut rumah sangat sederhana (RSS). Kepadatan perumahan selain secara psikososial sering menimbulkan konflik-konflik antar anggota masyarakat, banyaknya hazard yang potensial dapat mengganggu kesehatan fisik maupun mental. Kepadatan (density) ada yang berdasarkan ukurannya atau jarak antar rumah berhubungan dengan kesesakan (crowding). Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kepadatan dapat dipersepsikan secara berbeda pada setiap orang dan sangat bergantung pada situasi seperti apakah sebuah kepadatan dapat menimbulkan kesesakan bagi banyak orang.
Holahan (Sarwono 1992) mengemukakan selain gangguan fisik, kepadatan, dan kesesakan berakibat bagi mentalitas, misalnya dijumpai banyaknya gejala patologi sosial seperti peningkatan tindak kejahatan, bunuh diri, penyakit jiwa, agresivitas, penarikan diri dari lingkungannya, suasana hati yang menurun, prestasi kerja menurun, kurangnya perilaku menolong. Dengan demikian kepadatan tempat tinggal banyak mempengaruhi kesehatan mental masyarakat karena banyak dijumpai pula penderita psikosis.

  1. Penyinaran dan Udara
Aktivitas manusia membutuhkan penyinaran dan udara yang memadai. Berbagai macam tipe penyinaran, ada yang tidak terang, cukup, atau menyilaukan. Jika penyinaran tidak sesuai kebutuhan aktivitasnya, maka akan membuat banyak kesalahan kerja, dan penyinaran yang terlalu silau membuat gangguan konsentrasi. 
Begitu juga dengan temperatur udara yang diterima manusia harus sesuai dengan kewajaran kemampuan pengindraan. Udara yang terlalu dingin atau panas tidak menguntungkan bagi manusia. Seringkali temperatur yang tidak enak membuat jenuh misalnya dalam bekerja, belajar atau kegiatan lainnya. Hal ini menjadi sumber stres bagi manusia.

  1. Kebisingan dan Polusi
Kehidupan modern terutama di perkotaan menunjukkan tingginya kebisingan dan polusi. Kepadatan penduduk, industrialisasi, dan peningkatan penggunaan kendaraan bermotor telah membuat lingkungan menjadi sangat bising dan penuh polusi. Kebisingan juga dapat mempengaruhi perilaku manusia, pemaparan suara keras secara terus-menerus dapata mempengaruhi tingkat penangkapan indra pendengaran terhadap kebisingan. Artinya tidak menganggap suatu yang keras sebagai sesuatu yang bising tapi secara fisiologis telah terjadi perubahan kepekaan menangkap suara, karena tidak mampu lagi menerima suara yang kurang keras.
Kebisingan  yang sangat tinggi mempengaruhi penyesuaian individu terhadap aktivitasnya, dalam sebuah penelitian dijumpai bahwa kebisingan tidak mempengaruhi kecepatan kerja, tapi kualitasnya dapat menurun. Kebisingan itu secara langsung dapat mengurangi konsentrasi dan sering kali menimbulkan tekanan. Demikian juga dengan polusi. Karena aktivitas manusia yang sangat menonjol saat ini adalah transportasi dan indistri, maka lingkungan perkotaan yang banyak menghasilkan polusi. Polusi yang dikeluarkan dapat berbentuk partikel, karbon monoksida, gas, dan limbah cair lain yang sekaligus menjadi pencemar udara dan lingkungan. Pulosi dalam bentuk apapun tidak mudah untuk dikendalikan.
Transportasi menjadi permasalahan yang menjadi sumber kecelakaan, kebisingan, polusi dan kemacetan tang berada di bawah batas toleransi kesehatan. Perlu diwaspadai, bahwa industri dan transportasi merupakan sumber pencemaran lingkungan. Yang sangat berbahaya bagi kesehatan adalah karbon monoksida (CO), selain tidak kelihatan dan tidak bau, bekas-bekas pembakaran industri dan transportasi dapat menghambat peredaran oksigen (O2), oleh seluruh tubuh dan khususnya lagi ke otak. Konsentrasi CO yang tinggi di lingkungan kita dapat menimbulkan toksikasi pada otak dan dapat menimbulkan kematian.
Polutan lain yang dihasilkan oleh industri sangat banyak, di antaranya adalah partikel padat berupa debu dan asap, oksida belerang (SO2), netrik oksida (NO), nitrogen dioksida (NO2), dan Hidrikarbon (HCO), dan partikel-partikel ini sangat merugikan kesehatan, yang tidak hanya mengotori lingkungan tetapi menjadi racun kimia, mengganggu pernafasan dan mampu menimbulkan kanker (di antaranya kanker otak), iritasi, mengganggu kinerja, yang paling fatal berisiko kematian. 

D.     LINGKUNGAN KIMIAWI
Banyak lingkungan kimiawi yang mempengaruhi kesehatan mental. Lingkungan kimiawi ini dapat merupakan produk industri, pertanian, makanan, dan sebagainya. Faktor kimiawi secara umum mengganggu kesehatan mental setalah mengganggu atau merusak otak melalui makanan, obat-obatan, atau udara yang dihirup. Berbagai faktor kimiawi itu menyebabkan kerusakan pada otak secara permanen, menimbulkan psikosis karena toksikasi, atau menginfeksi janin melalui plasenta. Misalnya, penggunaan alkohol dalam jangka panjang dapat mengakibatkan sindroma penarikan diri (wihtdrawal syndrom), yang terjadi karena keracunan pada sistem syaraf pusat. Gangguan ini disebut delirium tremen, yaitu sindroma yang ditandai dengan gemetar pada tangan dan adanya halusinasi bawah kulitnya dikerubuti oleh binatang kecil.
Gruenberg (Last, 1980) mengemukakan berbagai macam zat kimiawi yang menjadi hazard dan dapat menimbulkan gangguan mental. Zat-zat kimia itu adalah: amphetamine, alkyl mercury, barbiturates, black window spider, caffein, carbon 
disulphide, carmon monoxide, cocain, morphine, mercury.

Tabel 8.1 Zat Kimia yang Potensial Mempengaruhi Kesehatan Mental

Zat
Antagonis
Effek
  1. Amphetamine
  2. Alkyl mercury
  3. Barbiturates

  1. Black window sipder
  2. Caffein

  1. Carbon disulpide
  2. Carbon monoxide

  1. Cocain
  2. Mercury

  1. Morphine
Barbiturates
-
Stimulan

d-tubocuracine

Sedatif

-
-

Adiktif
Dimercoprol

Nalorphine
Psikosis keracunan
Gangguan pada janin
Psikosis keracunan
Kerusakan otak permanen
Gangguan pada janin

Psikosis keracunan
Gangguan pada janin
Psikosis keracunan
Psikosis keracunan 
Kerusakan otak permanen
Gangguan pada janin
Psikosis keracunan
Kerusakan otak permanea
Psikosis keracunan
Kerusakan otak permanen
Gangguan pada janin


E.      LINGKUNGAN BIOLOGIS
Lingkungan biologis terutama dalam bentuk virus, bakteri, jamur, parasit, yang masuk dalam tubuh manusia, dapat menimbulkan penyakit-penyakit tertentu, sekaligus menyerang otak manusia dan selalu berakibat psikosis bagi penderitanya jika tidak segera diprevensi atau disembuhkan. Kontak manusia dengan lingkungan biologis dapat melalui vektor tertentu sebagai transmisinya, misalnya orang lain, binatang atau udara.
Prinsip dasarnya, mikroorganisme pada mulanya dapat menyerang tubuh manusia sehingga dia sakit secara fisik, namun jika tidak segera dicegah lebih lanjut dapat menyerang otak manusia. Jika yang diserang adalah ibu hamil, maka gangguan itu dapat berinfeksi pada janin melalui plasentanya. Sejumlah penyakit yang potensialnya berakibat berisiko tinggi bagi timbulnya gangguan mental di antaranya 
Cacar air, campak, gondik, campak jerman, TBC, dan AIDS.

Tabel 8.2 Daftar Penyakit yang Berisiko Tinggi Bagi Gangguan Mental

Jenis penyakit
Agen
Host
  1. Chicken pox (cacar air)
  2. Maesles
  3. Mump (gondok)
  4. Rubella (campak jerman)
  5. Pneumania (infeksi di paru-paru)
  6. Tubercolusis (TBC)
  7. Syphilis
Virus
Virus
Virus
Virus
bakteri

bakteri 
Spirachate
Kanak-kanak
Kanak-kanak, dewasa
Kanak-kanak
Janin
Kanak-kanak, dewasa

Kanak-kanak, dewasa
Kanak-kanak, dewasa

F.      FAKTOR LINGKUNGAN LAIN
Faktor lingkungan lain, seperti gempa, banjir, angin.topan, dan kemarau, pada dasarnya juga mmpengaruhi kesehatan mental masyarakat, bahkan dapat menimbulkan kondisi kritis secara fisik ataupun mental. Peristiwa alam tersebut dapat mempengaruhi kesehatan mental untuk jangka pendek, misalnya gempa menyebabkan ketakutan yang amat kuat atau memunculkan trauma. Aspek mental ini kurang mendapatkan perhatian, karena menyangkut prioritas, bahwa kondisi fisik dipandang lebih mendesak diselesaikan daripada aspek kesehatan mental. 

G.     KESIMPULAN.
Manusia pada prinsipnya satu kesatuan dengan lingkungan sekitarnya, yang selalu berinteraksi dan mempengaruhi prilaku kesehatan mental manusia. Lingkungan yang sehat dapat menopang kesehatan kesehatan manusia. Namun lingkungan fisik, biologis, dan kimia yang ada di sekitar dapat menjadi hazard dan membahayakan bagi kesehatan fisik maupun mental. Banyak gangguan mental yang dialami masyarakat sebagai akibat dari lingkungan yang tidak baik. Pencegahan terhadap barbagai pengaruh negatif dari lingkungan adalah sangat penting dilakukan untuk menjaga kesehatan, khususnya kesehatan mental.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#02 Konsep Memerangi Kejahatan Cybercrime dalam Perspektif Kriminiologi

Pengertian memerangi kejahatan sama dengan pengertian menanggulangi kejahatan. Dalam istilah kriminiologi penanggulangan kejahatan sering j...