MANUSIA ADALAH HEWAN TUKANG BERTANYA
Menurut pendapat Prof. Dr. R. F. BEERLING. Guru besar filsafat itu antara lain berkesimpulan, bahwa: “Tetapi yang typis sekali barangkali adalah, bahwa manusia itu tukang bertanya”. Selanjutnya beliau menulis pula:
“SARTRE, filsuf eksistensi Perancis dewasa ini malahan mengatakan, bahwa kesadaran manusia adalah bersifat bertanya yang benar-benarnya”. 1)
“Our questions are endless”, kata WILLIAM P. TOLLEY. “What is a man? What is nature? What is duty? What is happiness? What is God? Alone among the animals man is concerned about his origin and end, about his purposes and goals, about the meaning of life and the nature of reality. He alone distinguishes between beauty and ugliness, good and evil, the better and the worse. He may be a member of the animals kingdom, but he ia also a citizen of the world of ideas and values.” 2)
“Pertanyaan manusia itu tak kunjung berakhir. Tak habis-habisnya. Apakah manusia itu? Apakah alam? Apakah keadilan? Apakah kewajiban? Apakah kebahagian? Apakah Tuhan? Berbeda dengan hewan, manusia itu concerned (menaruh minat yang sangat) mengenai asal- mulanya dan akhirnya, mengenai maksud dan tujuannya, mengenai makna dan hakikat kenyataan Hanya manusia sajalah yang membedakan antara keindahan dan kejelekan, antara kebajikan dan keburukan, antara lebih baik dan lebih buruk. Mungkin saja dia adalah salah satu anggota margasatwa, namun dia adalah juga warga dunia idea dan nilai.”
MANUSIA ADALAH HEWAN YANG BERFIKIR
Dari penjelasan di atas, bahwa: keistimewaan manusia terlihat jelas dalam kenyataan kemampuan berfikir.
Dalam Ilmu Manthiq ( = logika) kita temukan sebuah rumusan tentang manusia yang juga sekaligus membedakannya dari hewan, yaitu: Al-Insanu Hayawanun Nathigun, yang artinya: Insan itu adalah hewan (bukan khewan ataupun chewan!) yang nathiq, yang berkata-kata dan mengeluarkan pendapat dengan berdasarkan pikirannya; tegasnya: manusia itu adalah hewan yang berfikir.
Sebagaimana juga logika (filsafat berfikir) bermula dari ARISTOTELES, maka patut kuat diduga bahwa rumusan tentang manusia termaksud di atas itu pun berasal dari beliau.
WILLIAM E. HOCKING, dari Harvard University dalam karangannya “What is Man” antara lain menulis tentang ARISTOTELES sebagai berkata: “... man as the animal that reasons”, yang artinya sama dengan Al-Insanu Hayawanun Nathiqun, termaksud di atas. 3)
RENE DESCARTES (1596-1850), sang penyangsi besar yang sering dijuluki bapak rasionalisme itu, malahan berpendirian: Cogito ergo sum!”, ― Saya berfikir maka saya ada. 4)
“Apakah berfikir itu?” tanya D. C. MULDER yang kemudian dijawabnya sendiri: “Kita memakai saja suatu definisi yang bersifat sementara. Berfikir ialah membeda-bedakan hal. Orang berfikir dengan sehat, kalau ia dapat membeda-bedakan hal-hal yang memang berdeda-beda, dan kalau ia menyamakan hal-hal yang memang sama. Tetapi pemikiran menjadi kacau, jika orang membedakan hal-hal yang sebenarnya berbeda. Satu hal boleh ditambahkan: dalam pemikiran itu manusia tidak hanya membeda-bedakan hal-hal tetapi ia juga mencari nisbah (relasi) antara hal-hal yang telah dibedakan itu”. Selanjutnya beliau menambahkan pula: “perlu dimengerti bahwa berfikir itu bukan satu-satunya jalan untuk mendekati kenyataan yang di sekitar kita atau yang di dalam kita. Ada jalan lain, seperti misalnya merasa, menghendaki, bertindak.” 5)
“There is no sure way of telling what animals think about. But it seems safe to say that the human being gives more thought than any other animal to himself. He alone keeps diaries, uses mirrors, and develops such science as as psychology and sociology. He alone speculates on the origin of his species on the earth, on what happens to individual soul after death, and on what is to be destiny of the race in the long future of the planct.” 6)
“Tiada cara penyampaian yang meyakinkan mengenai apa yang dipikirkan hewan-hewan. Namun agaknya aman untuk mengatakan, bahwa manusia jauh lebih berfikir tentang dirinya sendiri dari hewan-hewan yang mana pun. Ia menyelenggarakan buku harian, mempergunakan cermin, menulis sejarah, membuat pelbagai penafsiran tentang hakikat insani dan mengembangkan ilmu-pengetahuan, seperti psikologi dan sosiologi. Dia membuat spekulasi sendiri mengenai asal mula jenisnya di atas persada bumi dan pula mengenai apa yang bakal terjadi jiwa individu setelah mati, dan juga mengenai nasib ras pada masa jauh di muka daripada planit bumi ini.”
HUBUNGAN “TANYA” DAN “PIKIR”
Ilmu Manthiq menyimpulkan: Manusia adalah hewan yang berfikir. BEERLING menyimpulkan: Manusia adalah hewan tukang bertanya. Bagaimana hubungan antara “tanya” dan “pikir” termaksud di atas? Bertentangan? Berbedaan sajakah? Atau malah bersamaankah?
Saudara HARIMURTI KRIDALAKSANA 7) seorang Katolik teman sekelas penulis ketika di SMA (1955-1958), sekali pernah berkata kepada penulis: “Orang yang berfifkir adalah orang yang bertanya. Orang yang tidak pernah bertanya. Tidak pernah berfikir.” Setelah beberapa ketika penulis merenungkan ucapannya, akhirnya penulis berkesimpulan, bahwa pernyataan sang teman itu memang benar. Sekedar contoh: Seorang pemuda, baik wanita maupun pria, masuk ke dalam kamar, mengunci diri dari dalam. Lantas dia berfikir tentang sesuatu. Pada hakikatnya dia sedang bertanya atau mempertahankan sesuatu. Hanya saja, dalam hal ini, yang bertanya dan yang ditanya adalah satu, yaitu dirinya sendiri.
“Demikianlah manusia itu tidak dapat melepaskan sesuatu dari pikirannya,” tulis S. TAKDIR ALISJAHBANA. “Hakikat kenyataan yang sesungguhnya yang tidak bergantung pada pemandangan manusia itu pun, akhirnya, ciptaan pikiran manusia juga. Sebab baik mengemukakan soal, maupun menjawab soal itu pekerjaan pikiran manusia.” 8)
Perhatikanlah kalimat beliau yang terakhir: “Baik mengemukakan soal, maupun menjawab soal itu pekerjaan pikiran manusia.” Jadi bersoal-jawab sama dengan berfikir, berfikir sama dengan mempertanyakan.
KESIMPULAN
Kesimpulan apakah yang selanjutnya dapat kita tarik berdasarkan uraian di atas itu? Manusia adalah hewan yang berfikir. Berfikir adalah bertanya. Bertanya adalah mencari jawaban. Mencari jawaban adalah mencari kebenaran. Mencari jawaban tentang Tuhan, alam dan manusia, artinya mencari kebenaran tentang Tuhan, alam dan manusia. Jadi pada akhirnya: Manusia adalah makhluk pencari kebenaran.
TEORI TENTANG KEBENARAN
Dalam teori tentang kebenaran. Terdapat Tiga teori untuk di diskusikan. Pertama, Teori Korespondensi; Kedua, Teori Konsistensi, dan Ketiga, Teori Pragmatis 1).
TEORI KORESPONDENSI TENTANG KEBENARAN
Toeri yang pertama ialah Teori Korespondensi, The Correspondence Theory of Truth, yang kadang kala disebut juga The Accordance Theory of Truth. Tentang teori yang pertama ini keterangannya sebagai berikut:
Kebenaran atau keadaan benar itu berupa kesesuaian (= correspondence) antara arti yang dimaksud oleh suatu pendapat dengan apa yang sungguh merupakan halnya atau faktanya. 2)
“...a proposition (or meaning) is true if there is a fact to which it corresponds, if it expresses what is the case.” ― Suatu proposisi (atau pengertian) adalah benar apabila terdapat suatu fakta yang diselarasinya, apabila ia menyatakan apa adanya. 3)
Truth is that which conforms to fact; which agress with reality; which corresponds to the actual situation.” ― kebenaran ialah yang bersesuian dengan fakta, yang beralasan dengan realitas, yang serasi (corresponds) dengan situasi aktual. “Truth, then, would be defined as fidelity to objective reality . . .”. ― Kebenaran, jadinya dapat didefinisikan sebagai kesetiaan pada realitas objektif. 4)
“Truth is that which conforms to fact or agrees with actual situation. Truth is the agreement between the statement of act and actual fact, or between the judgment claims to be an interpretation”. ― Kebenaran ialah sesuatu yang sesuai dengan fakta atau sesuatu yang selaras denga situasi actual. Kebenaran ialah kesesuaian (agreement) antara pernyataan (statement) mengenai fakta dengan fakta actual; atau antara putusan (judgment) dengan situasi seputar (environmental situation) yang diberinya interpretasi 5). “If a judgment corresponds with the facts, it is true; if not, it is false.” ― Apabila suatu putusan sesuai dengan fakta, benarlah ia; bila tidak salahlah ia. 6)
Teori korespondensi pada umumnya dianut oleh para pengikut realisme. K. ROGERS. Seorang penganut realisme kritis Amerika, berpendapat, bahwa: keadaan benar ini terletak dalam kesesuaian antara (1) “essensi atau arti yang kita berikan” dengan (2) “essensi yang terdapat di dalam objeknya”. 7)
“EPISTEMOLOGICAL REALISM. The view there is an independent reality apart from minds, and we do not change it when we come to experience or to know it; sometimes called objectivism”. ― Realism epistemologi berpandangan, bahwa terdapat realitas yang independen (tidak tergantung), yang terlepas dari pemikiran; dan kita tidak dapat mengubahnya bila kita mengalaminya atau memahaminya. Itulah sebabnya realisme epistemologis kadangkala disebut objectivisme 8). Dengan perkataan lain: Realisme epistemologis atau objektivisme berpegang kepada kemandirian kenyataan, tidak tergantung pada yang di luarnya.
Dalam perpustakaan Marxis dapat kita baca:
“If our sensations, perceptions, nations, consepts and theories correspond to objective reality, if they reflect it faithfully, we say that they are true, while true stetement, judgements or theories are called the truth”. ―. Apabila sensasi kita, persepsi kita, pemahaman kita, konsep dan teori kita bersesuaian dengan realitas objektif, apabila itu semua mencerminkan dengan cermat, maka kita katakan itu benar; pernyataan, putusan dan teori yang benar kita sebut kebenaran. 9)
“Dialectical materialism understand truth as the knowledge of an object which correctly reflects this objects,i.e., corresponds to it”. ― Materialisme dialektika memahamkan kebenaran sebagai pengetahuan tentang sesuatu objek, yang mencerminkan objek tersebut secara tepat, dengan perkataan lain, bersesuaian dengan objek termaksud. “For example, the scientific propositions that “bodies consits of atoms”, that the “Earth prior to man”, that “the people are makers of history”, etc., are true”. ― Misalnya, pengertian ilmiah bahwa “tubuh terdiri atas atom-atom”, bahwa “bumi lebih dahulu ada daripada manusia”, bahwa “rakyat adalah pembuat sejarah”. Dan lain sebagainya, adalah benar. 10)
“In contras to idealism, dialectical materialism maintains that truth is objective. Since truth reflects the objectively existing world, its content does not depend on man’s consciousness. Obyective truth, LENIN wrote, is the content of out knowledge which depend neither on man nor on mankind. The content of truth is fully determined by the objective process it reflects.” ― Berlawanan dengan idealisme, maka materialisme dialektika mempertahankan bahwa kebenaran adalah objektif. Selama kebenaran mencerminkan dunia wujud secara objektif, maka wujudnya itu tidak tergantung pada kesadaran manusia. Kebenaran objektif, tulis LENIN, adalah kandungan pengetahuan kita yang tidak tergantung, baik kepada manusia maupun kepada kemanusian. Kandungan kebenaran sepenuhnya ditentukan oleh proses objektif yang dicerminkannya. 11)
LENIN menulis:
“From live contemplation to abstract thinking and from that to practice ― such is the dialectical process of cognising the truth, of cognising objective reality.” ― Dari renungan yang hidup menuju ke pemikiran yang abstrak, dan dari situ menuju ke praktek, demikianlah proses dialektis tentang pengenalan atas kebenaran, atas realitas objektif. 12)
Menurut kamu Marxist ada dua macam kebenaran, yaitu: (a) kebenaran mutlak dan (b) kebenaran relatif.
“Absolute truth is objective truth in its entirety, an absolotely exact reflection of reality”. ― Kebenaran mutlak ialah kebenaran yang selengkapnya objektif, yaitu suatu pencerminan daripada realitas secara pasti mutlak. “Relative truth is incomplete correspondence of knowledge to reality. LENIN called this trut the relatively true reflection of an object which is independent of man” ― Kebenaran relatif adalah pengetahuan mengenai realitas yang kesesuaiannya tidak lengkap, tidak sempurna. Menurut LENIN, kebenaran relatif ini adalah pencerminan daripada objek, yang relatif benar, yang terbatas dari manusia. 13)
“Every truth is objective truth”. ― Setiap kebenaran adalah kebenaran objektif 14). “Relative truth is imperfect, incomplete truth”. ― Kebenaran relatif adalah kebenaran yang tidak sempurna, tidak lengkap 15).
Mengenai Teori Korespondensi tentang kebenaran dapat disimpulkan sebagai berikut:
Kita mengenal dua hal, yaitu: Pertama, pernyataan dan kedua, kenyataan. Menurut teori ini: Kebenaran ialah kesesuaian antara pernyataan tentang sesuatu dengan kenyataan sesuatu dengan kenyataan sesuatu itu sendiri. Sebagai contoh dapat dikemukakan: Jakarta adalah Ibukota RI sekarang”. Ini adalah sebuah pernyataan; dan apabila kenyataannya memang “ jakarta itu adalah ibukota RI”, maka pernyataan itu benar, maka pernyataan itu adalah suatu kebenaran.
Rumusan Teori Korespondensi tentang kebenaran bermula itu bermula dari ARISTOTELES, dan disebut Teori Penggambaran, yang definisinya berbunyi sebagai berikut: “Veritas est adaequatio intellectus et rhei” ― Kebenaran adalah persesuaian antara pikiran dan kenyataan. 16)
Akhirnya sampailah pembicaraan kita tentang keberatan-keberatan dan kritik-kritik yang diajukan orang terhadap Teori Korespondensi tentang kebenaran ini.
Apabila yang disebut kebenaran itu ialah “kesesuaian antara pernyataan dengan kenyataan” atau “pernyataan yang sesuai dengan kenyataan”, maka timbullah pertanyaan: “How can we compare our ideas with reality?” ― Bagaimana kita dapat membandingkan pernyataan (idea) kita dengan kenyataan (realitas) itu? 17)
In order the comparison, we must know what it is that we are comparing, namely, the bolief on the one hand and the reality on the other. But if we already know the reality, why need we make the comparison, since we are assuming our selves to be in possession of the truth? And if we do not know the reality, how can we make the comparison?” ― Untuk membuat perbandingan, maka terlebih dahulu kita harus mengetahui apa yang hendak kita perbandingkan itu, yakni sebutlah, kepercayaan pada satu fihak dan kenyataan pada fihak lainnya. Namun, apabila kita sudah mengetahui kenyataan (realitas), mengapa kita perlu memakai perbandingan, padahal kita sedang memiliki kebenaran itu. Dan apabila kita tidak mengetahui kenyataan (realitas) itu, bagaimana pula kita dapat membuat perbandingan? 18)
TEORI KONSISTENSI TENTANG KEBENARAN
Teori yang kedua ialah Teori Konsistensi, The Consistence Theory of Truth, yang sering pula dinamakan The Coherence Theory of Truth.
“According to his theory truth is not constituted by the relation between a judgement and something else, a fact or reality, but by relations between judgements themselves”. ― Menurut teori kebenaran tidak dibentuk atas hubungan antara putusan (judgement) dengan sesuatu yang lain, yaitu fakta atau realitas, tetapi atas hubungan antara putusan-putusan itu sendiri 19). Dengan perkataan lain: Kebenaran ditegakkan atas hubungan antara utusan yang baru itu dengan putusan-putusan lainnya yang telah kita ketahui dan akui benarnya terlebih dahulu.
Jadi suatu proposisi itu cenderung untuk benar jika proposisi itu coherent (saling hubung) dengan lain-lain proposisi yang benar, atau jika arti yang dikandung oleh proporsisi yang benar, atau jika arti yang dikandung oleh proporsi itu coherent dengan pengalaman kita 20)
“A belief is true not because it agress with fact but because it agress. That is to say, harmonizes ― Suatu kepercayaan adalah benar bukanlah karena ia bersesuaian dengan fakta, melainkan karena ia bersesuaian ― katakanlah, berselarasan ― dengan binaan pengetahuan yang kita miliki.
“It is maintained that when we accept new belief as truths it is on the basis of the manner in which they cohere with knowledge we already posses” ― Menurut teori ini, apabila kita menerima kepercayaan-kepercayaan baru sebagai kebenaran-kebenaran, maka hal itu semata-mata atas dasar kepercayaan-kepercayaan itu saling hubungan (cohere) dengan pengetahuan yang telah kita miliki. 21)
“A judgement is true if it is. Consistent with other judgements that are accepted or known to be true. True judgements are logically coherent with other relevant judgements” ― Suatu putusan adalah benar apabila putusan itu konsisten (consistent) dengan putusan-putusan yang terlebih dahulu kita terima dan ketahui benarnya. Putusan yang benar adalah suatu yang saling hubungan (coherent) secara logis dengan putusan-putusan lainnya yang relevant. 22)
Jadi menurut teori ini, putusan yang satu dengan putusan yang lainnya saling hubungan dan saling menerangkan satu sama lain, Maka lahirlah rumusan: “Truth is systematic coherence”, ― Kebenaran adalah saling hubungan yang sistematik; 23). “Truth is consistency”, ― Kebenaran adalah konsistensi, kecocokan 24). “There is perfect coherence, and this coherence with other certain and accepted things is called truth”. ― Terdapatlah saling hubungan yang sempurna, dan saling hubungan ini dengan suatu yang lain yang telah kita terima itu disebutlah kebenaran. 25)
Menurut idealisme secara ilmu pengetahuan, maka dunia luar itu tidak tersendiri (“an sich”), seperti yang difahamkan oleh kaum materialis, melainkan hanya sebagai isu suatu kesadaran yang berfikir sambil meninjau.
“EPISTEMOLOGICAL IDEALISM. The view that object of knowledge, or the qualities which we perceive by our senses, do not exist endependentiy of consciousness of them; may be called subjectivism”. ― Idealisme epistemologis berpandangan bahwa objek pengetahuan, atau kwalitas yang kita cerap dengan indra kita itu tidaklah berwujud dari kesadaran tentang objek tersebut. Itulah sebabnya teori ini sering disebut subjektivisme. 29)
“Idealists hold that truth is subjective, that it depends on man who himself determines the truth of his knowledge without regard for the real state affairs.
“Man is the measure of ail things” ― this is how the idealist interpretation of truth was formulated in the day of antiquity by the Greek philosopher PROTAGORAS”. ― Kaum idealis berpegang, bahwa kebenaran itu subjektif, dan kebenaran itu tergantung pada orang yang menentukan sendiri kebenaran pengetahuannya tanpa memandang keadaan real peristiwa-peristiwa. “Manusia adalah ukuran segala-galanya” ― dengan cara demikianlah interpretasi tentang kebenaran telah dirumuskan oleh kaum idealis pada masa antika oleh filsuf Junani PROTAGORAS. 30)
Mengenai Teori Konsistensi ini dapatlah kita simpulkan sebagai berikut:
Pertama, Kebenaran ― menurut teori ini ― ialah kesesuaian antara suatu pernyataan dengan pernyataan (-pernyataan) lainnya yang sudah lebih dahulu kita ketahui, terima dan akui sebagai benar.
Kedua, teori ini agaknya dapat juga dinamakan Teori Penyaksian (Justifikasi) tentang kebenaran, karena menurut teori ini suatu putusan dianggap benar apabila mendapat penyaksian (Justifikasi, pembenaran) oleh putusan-putusan lainnya yang terdahulu yang sudah diketahui, diterima dan diakui benarnya.
Sebagai terhadap Teori Korespondensi, maka terhadap Teori Konsistensi ini pun telah dikemukakan pula kritik-kritik dan keberatan-keberatan. Di antaranya, antara lain kita catat:
“The critics of the coherence theory say that we can construct coherent system which are false as well as those which are true. The theory, they say, does not distinguish between consistent truth and consistent error. They may point to numerous systems of the past which are logically consistent, yet apparently quite false”. ― Para pengeritik terhadap Teori Koherensi ini berkata, bahwa kita dapat saja membangun satu sistem saling hubungan (coherent) yang salah, di samping yang benar. Teori ini tidak membedakan antara kebenaran yang konsisten dengan kesalahan yang konsisten. Berbilang sistem pada masa lalu yang konsisten (berpautan) secara logis, yang namun kemudian terbukti sama sekali salah. 31)
TEORI PRAGMATIS TENTANG KEBENARAN
Teori ketiga ialah Teori Pragmatis tentang kebenaran, The Pragmatic (Pragmatist) Theory of truth. Tentang teori ini dikemukakan catatan-catatan dan keterangan-keterangan sebagai berikut:
Pragmatisme (dari bah Yunani: pragma, artinya yang dikerjakan, yang dilakukan, perbuatan, tindakan), sebutan bagi filsafat yang dikembangkan oleh WILLIAM JAMES di Amerika Serikat. Menurut filsafat ini benar tidaknya suatu ucapan, dalil atau teori tsb. Bagi manusia untuk bertindak dalam penghidupannya. 33) Istilah Pragmatisisme (pragmaticism) ini sendiri diangkat pada tahun 1865 oleh CHARLES S. PIERCE (1893-1914) bagi doktrin pragmatisisme, yang mulai diumumkannya pada tahun 1878. Pragmatisisme (pragmaticism) adalah pragmatisme menurut faham PEIRCE itu. 34).
“According to the Pragmatic Theory of Truth, a proposition is true in so far as it works or satisfies, working or satisfying being described variously by different exponent of the view”. ― Menurut Teori Pragmatis tentang Kebenaran, suatu proposisi adalah benar sepanjang proposisi itu berlaku (works), atau memuaskan (satisfies); berlaku dan memuaskannya itu diuraikan dengan pelbagai ragam oleh para penganut teori tersebut 35)
“... any theory or hypothesis or idea is true, if it leads to satisfactory consequence, if it works out in practice, if it works out in practice, if it has practical value. Truth is revealed by its usefulness, by its fruits, by its practical consequences, ... Truth is that which works. ― Teori, hpotesa atau idea adalah benar apabila ia membawa kepada akibat yang memuaskan, apabila ia berlaku dalam praktek, apabila ia mempunyai nilai praktis. Kebenaran terbukti oleh kegunannya, oleh hasilnya, oleh akibat-akibat praktisnya. Jadi kebenaran ialah apa saja yang berlaku (works). 36)
“According to WILLIAM JAMES, “true ideas are those taht we can assimilate, validate, corroborate, and verify. False ideas are those that we can not” . . . .” ― Menurut WILLIAM JAMES “idea-idea yang benar ialah idea-idea yang dapat kita serasikan, kita umumkan berlakunya, kita kuatkan dan kita periksa. Sebaliknya idea yang salah ialah idea yang tidak demikian.” 37)
“What is meant by the terms “true” dan “false”? According to SCHILLER 38) there are terms, respectively, that a proposistion is useful or useless”. ― Menurut SCHILLER, apa yang diartikan dengan “benar” adalah “yang berguna” (useful), dan apa yang diartikan dengan “salah” adalah “yang tidak berguna” (useless). 39)
“As idea or theory or hyphothesis is true if it works out in practice of if it leads to satisfactory results”. ― Suatu idea, atau teori, ataupun hipotesa adalah benar bila ia dapat berlaku dalam pratek atau apabila ia membawa kepada hal yang memuaskan. 40)
Masalahnya sekarang ialah apa yang dimaksudkan dengan “hasil yang memuaskan” (satisfactory result) itu. Anatar lain dikemukakan oleh para penganutnya:
(1) That is true which satisfies the desires or purposes of man. ― Sesuatu itu benar apabila memuaskan keinginan dan tujuan manusia.
(2) That is true which can be experimentally verified as true. ― Sesuatu itu benar apabila dapat diuji benar dengan eksperimen.
(3) That is true which aids in the biological struggle for existence ― Sesuatu itu benar apabila ia menolong atau membantu perjuangan biologis untuk tetap ada. 41)
Jadi, bagi para Pragmatis, batu ujian kebenaran ialah kegunaan (utility), dapatnya dikerjakan (workability), akibat atau pengaruhnya yang memuaskan (satisfactory consequences). Menurut pendekatan ini, maka tidaklah terdapat apa yang disebut kebenaran yang tetap atau kebenaran mutlak.
JOHN H.RANDALL, Jr. Dan JUSTUS BUCHLER dalam bukunya memberikan kritik: “Objections against this Conseptions of truth must take their starting-point from a consideration of how vague the term “useful” is . . . .” ― Keberatan terhadap konsepsi kebenaran (Teori pragmatis) ini harus diambil bertitik-tolak dari pertimbangan mengenai betapa kabus dan samarnya istilah “berguna” (useful) itu. 42)
A.C. EWING antara lain juga memberikan kritiknya sebagai berikut:
(a) It is quite conceivable that a belief migth work well and yet not be true or work badly and yet be true. ― Dapat digambarkan dengan terang, bahwa suatu kepercayaan mungkin saja berlaku dengan baik walaupun tidak benar; atau sebaliknya suatu kepercayaan mungkin saja berjalan dengan buruk walaupun ia benar.
(b) While true belief usually work, this is usually only because they are first true. ― Kepercayaan yang benar biasanya berlaku, hal ini biasanya kerena pertama-tama kepercayaan ini benar.
(c) What works for one man may not works for another, and what works for him at one time may not work for him at another. ― Apa yang berlaku bagi seseorang mungkin saja tidak berlaku bagi orang lainnya; bahkan apa yang berlaku bagi seorang tertentu pada waktu tertentu mungkin saja tidak berlaku bagi si dia sendiri pada waktu yang lain. “God can not both exist and not exist even if some men are helped by belief in his “existence and other hindered”. ― Tuhan tidak dapat ada dan dalam waktu yang sama tidak ada, walaupun bagi sementara orang percaya akan adanya Tuhan itu menolong, sedang bagi yang lainnya merintangi belaka. “If a proposition is true at all, it surely must be true for everybody, and not just true for some men for whom it works and false for other for whom it does not work”. ― Bila satu proposisi betul-betul benar, hendaknya ia benar untuk semua orang, dan bukan benar bagi sementara orang yang baginya berlaku dan pada waktu yang sama adalah salah bagi yang lainnya yang baginya tidak berlaku. 43)
Pandangan Pragmatisme tentang Tuhan dari dua pemikir Barat:
PEIRCE sekali menegaskan, bahwa: “An idea is not called true because it is satisfactory ― it is called satisfactory because it is true”. ― Suatu idea tidaklah disebut benar karena ia memuaskan, ia dikatakan memuaskan karena ia benar. 45)
A.C. EWING dalam bukunya menulis: “Belief are useful because they are true, not true because they are useful”. ― Kepercayaan-kepercayaan itu berguna karena kepercayaan-kepercayaan itu benar, bukan benar karena kepercayaan-kepercayaan itu berguna. 46)
PANDANGAN UMUM TENTANG TEORI-TEORI KEBENARAN
Dari teori pertama dan teori kedua, G.T.W. PATRICK antara lain menulis:
“The Consistency Theory and the Correspondence Theory supplement rather than contradict each other. Perhaps the simplest and best views is just this, that truth is fidelity to reality; but since in innumerable cases we can not compare our ideas and judgement to reality, the best we can do is to see if they are consistent with other ideas and judgements which we have accepted as true”. ― Teori Konsistensi dan Teori Korespondensi ini satu terhadap lainnya lebih merupakan kelengkapan daripada kontradiksi. Agaknya pandangan yang terbaik mengenai masalah ini ialah: kebenaran ialah kesetiaan (fidelity) kepada kenyataan (reality); namun sementara dalam beberapa kasus kita tidak dapat membandingkan idea-idea dan putusan-putusan kita dengan kenyataan, maka yang terbaik yang dapat kita tempuh ialah melihat idea-idea dan putusan-putusan itu konsisten (consistent) dengan idea-idea dan putusan-putusan lain yang telah kita terima sebagai benar. 47)
A.C. EWING dalam bukunya mencatat pembahasan mengenai ujian-ujian kebenaran ini oleh para filsuf dan pemikir yang percaya bahwa kita tidak dapat berbuat apa-apa hanya dengan berpegang pada salah satu (dari ketiga) criterion tentang kebenaran itu. 48)
Sementara itu HAROLD H. TITUS menyimpulkan: The ways of knowledge may be many rather than one”. ― Rupanya jalan ke arah pengetahuan bukannya satu melainkan banyak. 49)
Karena ketiga teori tentang kebenaran itu yang satu dengan yang lainnya lebih merupakan kelengkapan daripada pertentangan, membawa HAROLD H. TITUS kepada kesimpulan:
“Truth is the faithful adherence of our judgement and ideas to the facts of experience the world as it is; but since we can not always compare our judgement with actual situations, we test them by their consistency with other judgement which we believe are valid and true, or we test them by their usefulness and practical consequences”. ― Kebenaran ialah kesetian putusan-putusan dan idea-idea kita pada fakta pengalaman atau pada alam sebagaimana apa adanya; akan tetapi sementara kita tidak senantiasa dapat membandingkan putusan-putusan kita itu dengan situasi actual, maka kita ujilah putusan-putusan kita itu dengan putusan-putusan lain yang kita percayai sah dan benar, atau kita ujilah putusan-putusan itu dengan kegunaannya dan dengan akibat-akibat praktis. 50)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar