Penjelasan dan Pengertian Autisme

AUTISME

1.      PENGERTIAN AUTISME
Autisme merupakan fenomena telah diteliti sejak lebih dari 60 tahun yang lalu, Namun hingga saat ini belum diketahui dengan pasti penyebab dari gangguan autisme ini, Karenanya belum dapat ditemukan cara pencegahan maupun penanganannya yang efektif. Dahulu, autisme dianggap sebagai gangguan yang disebabkan oleh faktor psikologis, yang disebabkan pola asuh orang tua yang kurang baik sehingga berakibat pada terganggunya perkembangan emosional anak. Namun sekitar tahun 1960 mulai diketahui bahwa autisme disebabkan oleh adanya abnormalitas pada otak (Minshew, dalam Schopler dan Mesibov, 1992; Waterhouse, dalam Huebner dan Lane, 2001 ; Frith, 2003).
Autisme berasal dari kata “autos” yang berarti segala sesuatu yang mengarah pada diri sendiri. Dalam kamus psikologi umum )1982), autisme berarti preokupasi terhadap pikiran dan khayalan sendiri atau dengan kata lain lebih banyak berorientasi kepada pemikiran subjektifnya sendiri daripada melihat kenyataan atau realita kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu penderita autisme sering disebut orang yang hidup di “alamnya” sendiri.
Autisme atau autisme infantil (Early Infantile Autism) pertama kali dikemukakan oleh Dr. Leo Kanner 1943 (dalam Budiman, 1998) seorang psikiatris Amerika. Istilah autisme dipergunakan untuk menunjukkan suatu gejala psikosis pada anak-anak yang unik dan menonjol yang sering disebut Sindrom Kanner. Ciri yang menonjol pada sindrom kanner antara lain ekspresi wajah yang kosong seolah-olah sedang melamun, kehilangan pikiran dan sulit sekali bagi orang lain untuk menarik perhatian mereka atau mengajak mereka berkomunikasi.
Pada awalnya istilah “autisme” diambil dari gangguan schizophrenia, dimana Bleuer memakai autisme ini untuk mengambarkan perilaku pasien skizofrenia yang menarik diri dari dunia luar dan menciptakan dunia fantasinya sendiri. Namun ada perbedaan yang jelas antara penyebab dari autisme pada penderita schizofrenia dengan penyandang autisme infantile. Pada schizofrenia, autisme disebabkan dampak area gangguan jiwa yang didalamnya terkandung halusinasi dan delusi yang berlangsung minimal selama 1 bulan, sedangkan pada anak-anak dengan autisme infantile terdapat kegagalan dalam perkembangan yang tergolong dalam kriteria Gangguan pervasif dengan kehidupan autistik yang tidak disertai dengan halusinasi dan delusi (DSM IV, 1995).
Untuk menangani masalah abak-anak autistik, diperlukan penanganan dini secara terpadu, yaitu melibatkan penanganan di bidang medis, psikologis dan pendidikan. Pemberian penanganan secara terpadu, intensif dan dimulai sejak usia dini dapat memberikan hasil yang positif, yaitu membantu anak-anak autistik untuk beradaptasi dengan lingkungannya dan belajar berbagai kemampuan kognitif. Namun, sebagian besar penanganan yang telah ada lebih menekankan pada usaha untuk mengubah anak-anak autistik menjadi anak-anak normal. Hal ini akan berdampak psikologis yang kurang baik, karena apabila selalu berusaha dibandingkan dengan anak-anak “normal” maka secara psikologis anak-anak autistik akan merasa tidak diterima sebagaimana adanya mereka. Akibatnya, mereka akan tertekan, mudah frustasi, memiliki konsep diri yang negatif, dan semakin sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya.

2.      GEJALA-GEJALA AUTISME
Berdasarkan pengamatan terhadap beberapa anak autistik Kanner (dalam Happe, 1994) menemukan beberapa gejala yang umumnya tampak pada penyandang autisme yaitu: extreme autistic aloneness, keinginan yang obsesif untuk mempertahankan kesamaan, kemampuan menghafal yang luar biasa, dan terbatasnya jenis aktivitas yang dilakukan secara spontan. Hasil penelitian Hans Asperger yaitu bahwa masalah utama anak-anak tersebut, yaitu kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial, kesulitan dalam reaksi efektif, minat yang sempit, dan keterbatasan penggunaan bahasa secara sosial.

a.       Gejala Psikologis
-          Cenderung menarik diri dan bersibuk diri dengan dunianya,
-          Kerusakan pada egonya,
-          Menutup diri dari kehidupan yang menuntut  respon-respon emosional dan sosial.

b.       Gejala Kognitif
-          Interaksi sosial,
-          Komunikasi,
-          Imajinasi.

c.       Gejala Neurologis
Gejala neurologis antara lain berupa kegagalan dalam melaksanakan tugas atau masalah dalam melakukan fungsi eksekutif, antara lain adalah kemampuan untuk melakukan sejumlah tugas secara bersamaan, fokus perhatian berpindah-pindah, membuat keputusan tingkat tinggi, membuat perencanaan masa depan, dan menghambat respon secara tidak tepat.

d.       Gejala Sindrom
1)     Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial timbal balik:
·         Gangguan yang nyata dalam berbagai tingkah laku non verbal seperti kontak mata, ekspresi wajah, dan posisi tubuh;
·         Kegagalan dalam mengembangkan hubungan dengan teman sebaya sesuai dengan tingkat perkembangan;
·         Kurangnya spontanitas dalam berbagai kesenangan, minat atau prestasi dengan orang lain
·         Kurang mampu melakukan hubungan sosial atau emosional timbal balik.
2)     Gangguan kualitatif dalam komunikasi :
·         Keterlambatan perkembangan bahasa atau tidak bicara sama sekali;
·         Gangguan pada kemampuan memulai atau mempertahankan percakapan dengan orang lain;
·         Penggunaan bahasa yang stereotip, repetitif  atau sulit dimengerti;
·         Preokupasi yang menetap pada bagian-bagian objek.

e.       Gejala Sensorik
1)     Tingkah laku hiperaktif,
2)     Bermasalah dalam melakukan gerakan,
3)     Memiliki tonus otot  yang lemah,
4)     Sulit berkonsentrasi,
5)     Tidak mampu menyaring input-input yang tidak relevan sehingga seringkali gagal dalam mengolah informasi penting
6)     Cenderung mudah stress dan cemas.

Gangguan pengolahan sensorik digolongkan menjadi tiga kategori utama :
1)     Ganggguan Modulasi Sensorik (Sensory Modulation Disorder)
2)     Gangguan diskriminasi Sensorik (Sensory Discrimination Disorder)
3)     Gangguan Motorik Berbasis Sensorik (Sensory-Based Motor Disorder)

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa autisme merupakan suatu penyimpangan dari kondisi normal. Dari sudut pandang psikologis, autisme digolongkan sebagai gangguan perkembangan yang menyebabkan masalah berat pada kemampuan kognitif, berempati, menemukan hubungan, dan melaksanakan tugas yang kompleks. Secara neurologis, autisme adalah kondisi abnormalitas pada otak yang amat kompleks. Berdasarkan simptom-simptom yang tampak, autisme ditandai oleh tiga gangguan utama yaitu pada interaksi sosial, komunikasi dan imajinasi. Dan dari sudut pandang integrasi sensorik, autisme ditandai oleh masalah integrasi sensorik yang berat serta amat kompleks. Keempat gejala atau gangguan autisme ini dapat dijelaskan dengan gambar berikut ini :

3.      PENYEBAB AUTISME
a.       Faktor Psikogenik
Ketika autisme pertama kali ditemukan tahun 1943 oleh Leo Kanner, autisme diperkirakan disebabkan pola asuh yang salah. Kasus-kasus perdana banyak ditemukan pada keluarga kelas menengah dan berpendidikan, yang orang tuanya bersikap dingin dan kaku pada anak. Kanner beranggapan sikap keluarga tersebut kurang memberikan stimulasi bagi perkembangan komunikasi anak.


b.       Faktor Biologis Dan Lingkungan
Seperti gangguan perkembangan lainnya, autisme dipandang sebagai gangguan yang memiliki banyak sebab da antara satu kasus dengan kasus lainnya penyebabnya bisa tidak sama sekali. Penelitian tentang faktor organik menunjukkan adanya kelainan/keterlambatan dalam tahap perkembangan anak autis sehingga autisme kemudian digolongkan sebagai gangguan dalam perkembangan (developmental disorder) yang mendasari pengklasifikasian dan diagnosis dalam DSM IV.

Hasil pemeriksaan laboraturium, juga MRI dan EEG tidak memberikan gambaran yang khas tentang penyandang autisme, kecuali pada penyandang autisme yang disertai dengan gangguan kejang. Temuan ini kemudian mengarahkan dugaan neurologis terjadi pada abnormalitas fungsi kerja otak, dalam hal ini neurotransmitter yang berbeda dari orang normal. Neuro transmitter merupakan cairan kimiawi yang berfungsi menghantarkan impuls dan menerjemahkan respon yang diterima. Jumlah neurotransmitter pada penyandang autisme berbeda dari orang normal dimana sekitar 30-50% pada penderita autisme terjadi peningkatan jumlah serotonin dalam darah (Nikita, 2002).
Selanjutnya, penelitian kemudian mengarahkan perhatian pada faktor biologis, diantaranya kondisi lingkungan, kehamilan ibu, perkembangan prenatal, komplikasi persalinan, dan genetik. Kondisi lingkungan seperti kehadiran virus dan zat-zat kimia/ logam dapat mengakibatkan munculnya autisme (http://www.autism society org, 2002). Zat-zat beracun seperti timah (Pb) dari asap knalpot mobil, pabrik dan cat tembok; kadmium (Cd) dari batu baterai seperti turunan air raksa (Hg) yang digunakan sebagai bahan tambalan gigi (Amalgam). Apabila tambahan gigi digunakan pada calon ibu, amalgam akan menguap di dalam mulut dan dihirup oleh calon ibu dan disimpan dalam tulang.
Ketika Ibu hamil, terbentuklah tulang anak yang berasal dari tulang ibu yang sudah mengandung logam berat. Selanjutnya proses keracunan logam beratpun terjadi pada saat pemberian Asi dimana logam yang tersimpan ibu ikut dihisap bayi saat menyusui. Sebuah vaksin, MMR (Measles, Mumps & Rubella) awalnya juga diperkirakan menjadi penyebab autisme pada anak akibat anak tidak kuat menerima campuran suntikan tiga vaksin sekaligus sehingga mereka mengalami kemunduran dan memperlihatkan gejala autisme.
Sampai saat ini diduga faktor genetik berpengaruh kuat atas munculnya kasus autisme. Dari penelitian pada saudara sekandung (siblings) anak penyandang autisme terungkap mereka mempunyai peningkatan kemungkinan sekitar 3% untuk dinyatakan autis. Sementara penelitian pada anak kembar juga didapat hasil yang mendukung. Sayangnya harus diakui populasi anak kembar sendiri memang tidak banyak di masyarakat sehingga menggunakan sampel kecil. Penelitian pada anak kembar identik 1 telur menunjukkan bahwa mereka memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk diagnosis autis bila saudara kembarnya autis (Nikita, 2002)
Beberapa faktor lainnya yang juga telah diidentifikasi berasosiasi dengan autisme diantaranya adalah usia ibu (makin tinggi usia ibu, kemungkinan menyandang autis kian besar), urutan kelahiran, pendarahan trisemester pertama dan kedua serta penggunaan obat yang tak terkontrol selama kehamilan.

4.      UPAYA-UPAYA PENANGANAN ANAK AUTISME
a.       Penanganan Masalah Sensorik
Penanganan tahap awal yang perlu dilakukan adalah memperbaiki fungsi Integrasi Sensorik karena banyak sekali masalah pada anak autistik yang disebabkan oleh kondisi sensorik mereka. Setiap tingkah laku yang merupakan ciri-ciri autistik harus dicari fungsinya, bukan hanya dicoba dihilangkan karena sebagian diantaranya merupakan mekanisme pertahanan diri dan usaha beradaptasi untuk mencegah terjadinya penumpukkan stimulus.

b.       Menggali dan Mengembangkan Potensi Kognitif
Untuk membantu anak-anak autistik memahami dunia luar, langkah penting yang harus dilakukan adalah menetapkan struktur dan rutinitas harian yang konsisten. Beberapa metode yang dapat diterapkan adalah metode ABA (Applied Behavior Analysis) dan TEACHC (Treatment and Education of Autistic and Related Communication Handicapped Children). Setelah melewati terapi individual, pendidikan selanjutnya bagi anak autistic berbeda-beda karena tergantung pada tingkat perkembangan anak di bidang akademik, kemampuan bahasa, dan tingkah laku. Sesuai dengan konsep multiple intelligence, program pendidikan yang tepat bagi anak-anak autistik adalah yang memfokuskan pada minat dan kemampuan yang menonjol dari setiap anak.

c.       Mengembangkan kemampuan komunikasi
Sebagian besar anak autistik mengalami keterlambatan dalam perkembangan bahasa atau bahkan tidak bicara sama sekali. Walaupun demikian, pemahaman bahasa mereka biasanya cukup baik. Sejak kecil mereka perlu diajarkan berbagai cara berkomunikasi dengan memanfaatkan kemampuan visual mereka yang menonjol. Untuk anak-anak autistik A non verbal dapat digunakan cara komunikasi dengan gambar, bahasa isyarat dan mengetik. Bagi anak-anak autistik yang dapat berbicara tapi masih memiliki hambatan, perlu diberikan terapi wicara dengan cara-cara yang menyenangkan dan memperhatikan minat anak.

d.       Mengembangkan Kemampuan Mengenali Emosi
Hal penting yang perlu dilakukan untuk membantu perkembangan emosi anak autistik adalah empati, karena akan membantu berkembangnya rasa aman dan mengurangi emosi negatif. Orang tua perlu menunjukkan penerimaan terhadap kondisi anak autistik serta memiliki harapan yang realistis mengenai perkembangan anak tersebut. Orang tua seharusnya tidak hanya melihat kekurangan-kekurangan yang ada, tetapi juga enghargai setiap usaha anak.

e.       Mengembangkan Ketrampilan Interaksi Interpersonal
Dalam mengembangkan kemampuan interaksi sosial, individu autistik perlu diberikan bimbingan dari berbagai pihak, seperti orang tua, guru, sahabat, dan kelompok teman sebaya. Metode Social Story, yang menggunakan cerita-cerita singkat untuk menjelaskan aturan sosial pada berbagai konteks, dan mendiskusikan berbagai kejadian yang telah dialami oleh individu autistik merupakan dua cara yang bermanfaat. Di samping itu lingkungan sosial juga perlu memahami dan toleran terhadap perbedaan-perbedaan mereka. Dibalik ketidakmampuan yang tampak, para individu autistik sesungguhnya memiliki kualitas-kualitas positif seperti kejujuran, disiplin waktu yang tinggi, dan tidak pernah secara sengaja menyakiti orang lain.

f.        Memperkenalkan Agama
Mengingat anak-anak autistik amat menyukai rutinitas, maka pelajaran agama dapat dimulai dengan mengajarkan ritual ibadah agama di rumah maupun di sekolah, seperti misalnya berdoa dan pergi ketempat ibadah. Penjelasan tentang ajaran agama harus disesuaikan dengan tingkat pemahaman individu autistik, bukan usia kronologis, perlu diberikan contoh-contoh kongkrit untuk menjelaskan aturan-aturan agama yang kompleks.

Setelah individu autistik semakin dewasa, orang tua dan guru agama perlu banyak berdiskusi untuk mengetahui perkembangan pemikiran mereka. Perkembangan agama sebaiknya lebih ditekankan pada nilai-nilai enting dalam kehidupan sehari-hari, seperti tolong menolong, tidak berbohong, dan tidak menyakiti orang lain.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#02 Konsep Memerangi Kejahatan Cybercrime dalam Perspektif Kriminiologi

Pengertian memerangi kejahatan sama dengan pengertian menanggulangi kejahatan. Dalam istilah kriminiologi penanggulangan kejahatan sering j...