Penjelasan dan Pengertian Observer

OBSERVER
1.      OBSERVER
Spradley (1980) menyebutkan bahwa peran observer terkait dengan cara mengobservasi ada 4 metode, antara lain:
a.       Observer tidak berperan sama sekali.
Dalam observasi observer tidak berperan sama sekali, kehadirannya dalam area penelitian hanya untuk melakukan observasi, tetapi tidak diketahui oleh subjek yang diamati. Observasi jenis ini bisa dilakukan, misalnya dengan menggunakan kaca atau “one way mirror” seperti pengamatan pada sekelompok anak-anak dengan perilaku di dalam kelas dalam suatu ruangan atau kelas, atau menggunakan teropong jarak jauh untuk mengamati perilaku seorang atau sekelompok orang. Pada masa sekarang ini kecanggihan teknologi sangat memungkinkan pengamatan jarak jauh (CCTV = Close Circuit Television), sehingga peneliti bisa benar-benar tidak melakukan peran sama sekali.

b.       Observer berperan pasif
Dalam jenis ini observer “mendatangi peristiwa” tetapi kehadirannya di lapangan menunjukkan peran yang paling pasif. Kehadirannya sebagai orang asing diketahui oleh observee, dan bagaimanapun hal ini membawa pengaruh. Cara supaya kehadiran observer tidak mempengaruhi sifat alamiah subjek, sebaiknya observer tidak membuat catatan selama pengamatannya, kecuali mungkin dengan menggunakan perekaman secara tersembunyi. Tetapi setelah selesai melakukan pengamatan, harus segera membuat catatannya secepat sebelum tertumpuk oleh informasi lainnya.

c.       Observer berperan aktif
Dalam observasi ini observer dapat memainkan berbagai peran yang dimungkinkan dalam suatu situasi sesuai dengan kondisi subjek yang diamati. Cara ini dilakukan semata untuk dapat mengakses data yang diperlukan bagi penelitian. Keberadaan observer sebenarnya diketahui oleh subjek yang diteliti, tetapi observer telah dianggap sebagai bagian dari mereka dan kehadirannya tidak menganggu atau mempengaruhi sifat alamiah. Apa yang dilakukan tidak ubahnya sebagaimana yang dilakukan subjek yang diteliti.

d.       Observer berperan penuh
Pada observasi ini observer bisa jadi sebagai anggota resmi dari kelompok yang diamati atau sebagai “orang dalam” (orang luar tetapi telah dianggap sebagai orang dalam). Peran observer dalam observasi terlibat penuh, bukan sekedar partisipasi aktif dalam kegiatan subjek yang diteliti, tetapi juga bisa lebih menjadi pengarah acara sebuah peristiwa terarah dengan skenario peneliti agar kedalaman da keutuhan datanya tercapai.

Oleh karena itu untuk dapat menjadi seorang observer yang handal, setidaknya memiliki syarat-syarat sebagai berikut :
a.       Mengerti latar belakang tentang materi yang akan diobservasi
Dalam observasi tentang perkembangan anak maka seorang observer harus menguasai teori tentang perkembangan yang dilalui oleh setiap anak.

b.       Mampu memahami kode-kode atau tanda-tanda tingkah laku untuk membedakan tingkah laku yang satu dengan yang lain.
Seorang observer hendaknya mempunyai kemampuan untuk membedakan tanda-tanda tingkah laku agar dapat membedakan tingkah laku yang satu dengan yang lainnya. Juga perlu mengetahui perbedaan mengekspresikan emosi ke dalam perilaku bagi masing-masing kelompok masyarakat.

c.       Membagi perhatian
Seorang observer harus mampu membagi perhatiannya antara mengamati tindakan yang dilakukan oleh observee dan mencatat perilaku tersebut.

d.       Dapat melihat hal-hal yang detail
Seorang observer harus mampu mengamati perilaku observee sampai pada perilaku yang sekecil-kecilnya, karena bisa saja perilaku yang dianggap tidak penting justru merupakan perilaku yang sangat penting.

e.       Dapat mereaksi dengan cepatd an menerangkan contoh-contoh tingkah laku secara verbal atau nonverbal.
Seorang observer harus bisa memahami dengan cepat perilaku yang ditunjukkan oleh observee dan bagaimana respon yang harus diberikan.

f.        Menjaga hubungan antara observer dan observee
Kemampaun menjalin hubungan baik dengan observee merupakan faktor yang sangat penting dalam observasi.

2.      Hal-hal yang diobservasi
Banyak sekali hal-hal, peristiwa-peristiwa, masalah-masalah, dan gejala-gejala yang dapat diobservasi. Namun sebagaimana disampaikan di atas bahwa tidaklah selalu mudah bagi peneliti (observer) untuk menemukan atau menyusun instrumen observasi yang tepat untuk mengukur suatu perilaku yang akan diteliti (bagaimanakah kita dapat mengukur keramahan, sosialisasi, kehangatan, penerimaan, kasih sayang seseorang?). Kesulitan semacam ini perlu diatasi dengan memerinci perilaku menjadi aspek-aspeknya berdasarkan landasan teori. Jadi kita “bekerja” tetap dalam bingkai teori tertentu. Setelah kita melandaskan tujuan observasi yang didalamnya terkandung target behavior lengkap dengan indikator-indikator perilaku, maka baru kemudian disusun instrumen yang tepat untuk mengukur rincian target behavior.
Namun secara umum, dalam melakukan observasi ada beberapa point yang biasanya diperhatikan, yang menjadi fokus amatan, yaitu terkait dengan “antara lain” :

a.       Penampilan fisik (ada yang gemar dengan istilah setting fisik) : yang meliputi kondisi fisik observee, misalnya tinggi badan, berat badan, warna kulit, dan lain-lain.

b.       Gerakan tubuh atau penggunaan anggota tubuh; hal ini terkait dengan bagaimana postur tubuh observee, bagian tubuh mana yang sering digunakan dan bagian mana yang kurang banyak gerakan (misalnya observee selalu menggerak-gerakkan tangan ketika berbicara, tics atau kediapan mata yang tak terkontrol, dan sebagainya).

c.       Ekspresi wajah : Bagaimana ekspresi wajah observee ketika sedang berbicara.

d.       Pembicaraan : yaitu bagaimana isi pembicaraan yang dilakukan.

e.       Reaksi emosi : yaitu bagaimana reaksi emosi observee. Dalam penelitian seorang observer perlu memperhatian bagaimana reaksi emosi observee terhadap suatu masalah yang ingin diteliti.

f.        Aktivitas yang dilakukan. Misalnya terkait dengan; jenisnya, lamanya, dengan siapa, dimana dan sebagainya.

g.       Tentu saja, hal-hal  yang dipandang perlu untuk diobservasi adalah hal-hal atau aktivitas yang sesuai dengan tujuan dari observasi atau tujuan penelitian yang akan dilakukan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#02 Konsep Memerangi Kejahatan Cybercrime dalam Perspektif Kriminiologi

Pengertian memerangi kejahatan sama dengan pengertian menanggulangi kejahatan. Dalam istilah kriminiologi penanggulangan kejahatan sering j...